Media sosial jadi candu baru abad-21

Flickraddict
Flickraddict
© CC BY-NC-ND 2.0/Henning Mühlinghaus/2006

Kecanduan media/jejaring sosial semakin jadi isu. Danny Bowman, pemuda 19 tahun asal Inggris, pada Desember 2012 pernah membuat 200 foto selfie sehari demi mendapat komentar positif di Facebook. Ia bahkan mencoba bunuh diri karena merasa gagal. Di sisi lain, ada Rameet Chawla yang dipertanyakan temannya karena dinilai pelit berinteraksi di Instagram.

Contoh kasus di atas menunjukkan betapa media sosial bisa menciptakan kecanduan, dan mengundang masalah mental di kalangan remaja pada abad-21. Ditulis The Fix, psikiatris asal Los Angeles, Amrik, Dr. Charles Sophy menyatakan kehidupan remaja yang sangat dipengaruhi oleh rekan sebaya, semakin tertekan oleh hadirnya media sosial.

Ketagihan mendapat "Likes" di Instagram, atau respon positif di berbagai platform media/jejaring sosial, bisa membuat remaja tertekan. Tekanan inilah yang membuat mereka ketagihan. Menjadi berbahaya ketika gejala penyimpangan perilaku muncul demi mencapai kepuasan saat berjejaring di internet.

“Media sosial sebenarnya bisa berguna bagi remaja untuk terhubung dengan yang lain, berteman dengan sebayanya, dan jadi tempat berekspresi,” kata Dr. Karrie Lager, psikolog anak di Los Angeles. “Tetapi, penggunaan internet yang berlebihan juga bisa berdampak buruk,” lanjutnya. Ia merujuk hasil survei tentang dampak media sosial pada remaja terkait penyalahgunaan obat-obatan.

BACA JUGA

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.