Mangrove lestari, ekonomi berseri

Kelompok Peduli Mangrove Madura (KPMM) menanam bibit mangrove di Pantai Talang Siring, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (5/5/2019). | Saiful Bahri /Beritagar.id

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menekankan kelestarian ekosistem mangrove sangat penting dilakukan lantaran berdampak positif terhadap lingkungan juga mendatangkan nilai ekonomi yang cukup besar.

Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) KLHK, Ida Bagus Putera Prathama menegaskan, hilangnya ekosistem mangrove akan berdampak negatif pada ekonomi masyarakat setempat.

"Mangrove sangat penting. Secara lingkungan mencegah abrasi atau pengikisan oleh air laut, mencegah instrusi peresapan air laut ke darat sehingga mengurangi kerusakan oleh tsunami," bebernya.

Ekosistem mangrove jelasnya, merupakan ekosistem unik yang berada di zona intertidal dan dijumpai di sepanjang garis pantai tropis sampai subtropis.

Dia menambahkan poin penting untuk dalam menjaga kelestarian mangrove atau bakau adalah karena mangrove merupakan tempat perbenihan ikan, udang dan kepiting. "Mangrove juga merupakan habitat berbagai satwa seperti burung, bekantan," lanjutnya.

Tak hanya itu, dia menyebut kelestarian hutan mangrove juga dapat menghasilkan berbagai produk kayu dan nonkayu. Bahkan daerah tersebut dapat dijadikan tempat wisata.

Lalu, bagaimana dengan kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini?

Tanaman vegetasi pantai yang memiliki morfologi khas dengan sistem perakaran yang mampu beradaptasi pada daerah pasang surut dengan substrat lumpur atau lumpur berpasir ini, tumbuh di sebagian besar garis pantai di Indonesia.

Kondisi hutan mangrove di Indonesia tersebar di 12.857 desa/kelurahan maritim yang berbatasan langsung dengan laut. | Lokadata /Beritagar.id

Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, pada tahun 2018 terdapat 83.931 desa/kelurahan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 12.857 desa/kelurahan yang tergolong desa/kelurahan maritim yang 53,1 persennya memiliki hutan mangrove.

Secara nasional, kondisi hutan mangrove di Indonesia; 62 persen dengan kondisi baik, sedangkan 39 persen dalam kondisi kritis atau rusak.

Kepulauan Maluku dan Papua memiliki hutan mangrove dengan kondisi baik mencapai 72 persen dan 28 persen kondisi rusak.

Pengukuran hutan mangrove dalam olah data ini berdasarkan lokasi yang berada di desa/kelurahan (contoh: 10 hutan mangrove berarti 10 desa/keluarahan dengan keberadaan mangrove).

Kondisi baik hutan mangrove di Kepulauan Maluku dan Papua tak lepas dari peran serta masyarakat setempat yang masih menjunjung kearifan lokal.

Masyarakat yang masih memercayai cerita-cerita dan mitos turun-temurun memiliki kesadaran menjaga lingkungan untuk tetap melestarikan hutan mangrove.

Jadi destinasi wisata

Kelestarian hutan mangrove juga mampu mendorong daerahnya menjadi destinasi wisata yang tentunya berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi pariwisata.

Seperti di Desa Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali misalnya, begitu juga Karimunjawa di Jawa Tengah yang memiliki hutan bakau alias mangrove di Desa Kemujan.

Pesona hutan mangrove juga dapat dinikmati di Kepulauan Derawan. Selain dikenal sebagai salah satu titik selam terbaik di Indonesia, pulau yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini adalah pulau eksotis yang dicalonkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Pulau ini juga diunggulkan sebagai tempat menyelam terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016. Tak heran jika Pangeran William dari Kerajaan Inggris pernah mengunjungi kepulauan seluas 1,27 juta km persegi ini untuk menjelajahi keindahannya.

Tak jauh dari Ibu Kota Jakarta, terdapat Kecamatan Muara Gembong di ujung utara Kabupaten Bekasi yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta di barat dan Kabupaten Karawang di timur.

Jarak dari pusat Kota Bekasi ke sana sekitar 70 km atau bisa ditempuh sekitar 2 jam dengan kendaraan pribadi.

Muara Gembong adalah daerah konservasi, yang sejak lama melibatkan peran masyarakat dan komunitas pencinta lingkungan setempat. Di sini terdapat keragaman hayati berupa hutan mangrove yang indah, sekaligus habitat satwa endemik yang nyaris punah.

Kawasan ini termasuk ke dalam area Hutan Lindung Ujung Karawang. Terdapat sedikitnya 23 jenis mangrove sejati, yang didominasi jenis api-api (Avicenna) dan bakau (Rhizopora).

10 provinsi dengan kondisi hutan mangrove berdasarkan tingkat paling baik dan paling rusak pada tahun 2018. | Lokadata /Beritagar.id

Berdasarkan data BPS, provinsi yang memiliki kondisi hutan mangrove paling bagus adalah DKI Jakarta yang 100 persennya dalam kondisi baik.

Walau berdiri sebagai kota metropolitan yang didominasi hutan beton, berupa gedung-gedung pencakar langit, DKI Jakarta memiliki hutan mangrove yang menjadi destinasi wisata populer.

Hutan mangrove Jakarta berada di Penjaringan, Jakarta Utara. Ada tiga kawasan konservasi di Penjaringan, yaitu Suaka Margasatwa Muara Angke yang khusus untuk kegiatan penelitian, Kawasan Ekowisata Mangrove Education Center yang dikelola pemerintah DKI Jakarta dan Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk yang populer sebagai spot foto.

Ekowisata Mangrove Education Center lebih sebagai lokasi favorit memancing, sedangkan TWA Angke Kapuk menawarkan berbagai aktivitas menarik untuk pengunjungnya. Sebab, di sana tersedia fasilitas yang lengkap untuk para pengunjung.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan kondisi hutan mangrove paling rusak, 66 persen hutan mangrove yang berada di 126 desa/kelurahan dalam kondisi rusak.

Kondisi nyaris serupa dialami Provinsi Banten, 63 persen hutan mangrove yang berada di 46 desa/kelurahan, dalam kondisi rusak.