Direktur Pelaksana PAKAR Adhe Bhakti: ISIS itu homey banget

Ada puluhan missed call masuk ke telepon selulernya, termasuk dari media, tapi ia abaikan. Bukan tak mau angkat, Adhe Bhakti enggan merespons soal pemberitaan media ABC Australia yang mengutip penelitiannya baru-baru ini.

ABC memberitakan ada 16 masjid di tujuh provinsi mendukung kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Angka itu didapat dari penelitian Adhe dan tim terhadap 41 masjid di 16 provinsi Indonesia. Berita itu pun lekas heboh.

Yang jadi keberatan Adhe bukan data penelitiannya yang dikutip ABC. Menurutnya itu tidak salah. Tetapi label peneliti pemerintah yang disematkan ABC kepadanya pada berita itu.

"Penyebutan peneliti pemerintah adalah hal bohong yang dilakukan ABC terhadap saya," ujar Adhe.

Terlepas dari keberatan Adhe, hasil penelitiannya soal masjid cukup mengejutkan. Timnya bahkan mendapati ada pengelola masjid berlaku sebagai agen perjalanan bagi mereka yang berangkat ke Suriah.

"Artinya masjid bukan sebagai penyebar ideologi ISIS semata," tutur Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) ini.

Tempat-tempat ibadah cap ISIS itu didapat PAKAR setelah ia dan tim berbulan-bulan masuk ke masjid yang dicurigai dan ikut serta dalam kelompok pengajian. Timnya mendokumentasikan diskusi dan khotbah yang disampaikan. "Bisa dibilang mereka (ISIS) mengkooptasi masjid-masjid itu," ujarnya.

Adhe memang lama tercebur ke dunia ini. Sejak 2005 ia sudah mengikuti persidangan terorisme. Sebanyak 1200 orang yang divonis tindak pidana teroris, separuhnya pernah ia temui. Termasuk Abu Bakar Ba'asyir dan Aman Abdurrahman.

Ia juga pernah jadi asisten peneliti senior Universitas Melbourne, Dave McRae, yang menulis buku POSO: SEJARAH KOMPREHENSIF KEKERASAN ANTAR AGAMA TERPANJANG DI INDONESIA PASCA REFORMASI. Ia belajar banyak dari McRae soal teroris di Poso.

Kemudian pada 2015 dan 2016, ia kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk keliling Indonesia menemui para mantan teroris. Tujuannya untuk identifikasi sang mantan itu kooperatif dengan pemerintah atau tidak.

"Kita pastikan jaringan dan profil para mantan itu," ujar Adhe kepada Fajar WH, Heru Triyono, Moammar Fikrie dan fotografer Andreas Yemmy saat wawancara di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Dalam perbincangan selama dua jam lebih, Adhe menjelaskan banyak hal sambil menyeruput es kopi. Dari soal penelitian, peta teroris, hingga alasan masjid yang mudah dipengaruhi ideologi ISIS. Berikut petikannya:

Ilustrasi Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bhakti. | Tito Sigilipoe

Apa parameter penelitian Anda terhadap 41 masjid yang dianggap berafiliasi dengan ISIS?
Ada dua yang mendasari. Pertama, orang di masjid itu ada yang sudah teridentifikasi sebagai pro ISIS. Baik itu pengurus, imam atau jemaah. Yang kedua adalah konten-konten narasi yang ada di masjidnya. Misal, ada penyampaian soal daulah islamiyah (negara Islam) sebagai tujuan.

Tapi bagaimana membuktikan sebuah masjid terlibat dengan ISIS?
Angka 41 itu merupakan preliminaries research. Kami melakukan riset dokumentasi dengan membuka semua data persidangan (tindak pidana teroris). Misalnya, di mana masjid pengajian Abu Jandal (yang merupakan pentolan ISIS asal Malang).

Selanjutnya kami menyasar masjid itu. Nah, petunjuk tersebut jadi semacam hipotesa yang harus diidentifikasi kebenarannya. Maka baru 16 masjid yang sudah selesai kami identifikasi dan terbukti terafiliasi dengan ISIS.

Artinya penelitian PAKAR ke masjid-masjid itu masih berjalan?
Gara-gara berita ini kami jadi enggak dulu. Terbayang kan kami ini dibilang penyusup oleh sebuah media (ABC). Mbok ya apa perlu sampai diceritakan begitu pada berita. Memangnya kalau Densus 88 menangkap Ali Imron harus dikasih tahu ada yang menyusup dulu ke dalam. Ayo lah.

Apakah masjid yang digunakan pendukung ISIS itu digunakan tanpa sepengatahuan marbotnya?
Begini, ada tiga kategori masjid dalam hal ini. Pertama, masjid umum yang memang dimanfaatkan pendukung ISIS.

Jadi ISIS membayar pengurus masjidnya. Yang kedua itu adalah masjid yang marbotnya memiliki hubungan dengan kelompok yang mendukung ISIS, namun jemaahnya tidak. Ini kami temukan di Lamongan.

Kemudian yang ketiga adalah masjid yang pengurus dan jemaahnya pendukung ISIS. Masjid model ini ada di Jakarta, Bekasi dan Solo.

Berapa lama yang dibutuhkan tim Anda untuk meneliti satu masjid?
Sekitar 17-21 hari. Kami ada hampir di setiap lima waktu salat dan mencoba menggali dari khotbah Jumatnya.

Di laporan ABC disebutkan bahwa pengajian-pengajian ISIS pindah ke masjid-masjid kecil. Tim peneliti Anda juga menggali soal ini?
Nah ini menarik. Karena ada juga pendukung ISIS yang menyebarkan ideologinya bukan di masjid utama, melainkan di masjid-masjid kecil. Cara ini terjadi banyak di Poso, mereka bergerak di masjid kecil. Kalau di Sumatra itu istilahnya surau, kalau di Sunda itu bale. Jadi pertemuannya eksklusif dan tertutup.

Rasanya kok mudah sekali pendukung ISIS masuk ke masjid-masjid di Indonesia...
Saya lebih suka terminologi itu. Jadi bukan masjid yang mendukung ISIS, melainkan ISIS itu yang menguasai masjid. Bisa dibilang mereka itu mengkooptasi masjid.

Kenapa gampang? Bisa jadi pengurusnya diberi uang. Kita tahu kesejahteraan marbot itu seperti apa.

Dari penelitian Anda itu, siapa-siapa saja para simpatisan ISIS ini dan berapa rata-rata usia mereka?
ISIS berbeda dengan Jemaah Islamiyah (JI). Kalau JI lebih menyasar kelompok pemuda dan rata-rata laki. Tetapi kalau Anda bicara ISIS maka profiling-nya varian. Mulai dari tukang bakso, dokter, pilot, bahkan pejabat pemerintah, juga anak kecil. ISIS itu homey banget, sangat family man banget.

Kenapa sih seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?
Madunya ISIS itu ada tiga. Pertama, mereka diyakini sebagai kelompok yang menerapkan Syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Kedua, mereka diyakini pendukungnya sebagai khalifah yang melindungi umat Islam. Ketiga, mereka percaya nubuat (pesan Allah) soal akhir zaman terkait pasukan berpanji hitam. Ketika pasukan itu datang para pendukung ISIS meyakini mereka harus bergabung.

Nah ISIS menjual madu ini kepada orang-orang, sehingga mereka termakan bahwa ISIS itu bisa mewujudkan prophecy (ramalan) tadi.

Bukannya ketertarikan orang bergabung dengan ISIS juga karena gajinya yang besar atau ada jaminan kesejahteraan untuk anak di sana?
Itu hal lain. Makanya mereka percaya ketika Syariat Islam dijalankan, maka ujungnya adalah kesejahteraan.

Ide mereka adalah kenapa negara ini ada korupsi? Karena enggak melaksanakan Syariat Islam. Di sana? Mereka yakin tidak ada korupsi karena menerapkan Islam.

Kemiskinan bukan faktor orang bergabung dengan ISIS?
Hal itu bukan push factor orang menjadi radikal. Mereka itu orang- orang mampu, mereka percaya dengan Syariat Islam dan ketiga madu tadi.

Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bhakti di kawasan Sarinah, Jakarta, Senin (21/8/2017) | Andreas Yemmy

Sebenarnya seberapa bahaya pergerakan ISIS di Indonesia?
Saya enggak tahu harus bersyukur atau tidak. Yang pasti mereka (ISIS) belum berkonsolidasi. Bicara ISIS di Jawa Barat saja, maka tampak ada tiga irisan.

Ada yang berafiliasi ke Aman Abdurrahman, ada yang ke Bahrun Cahyani Surya dan ada juga yang non faksional. Di Jawa Tengah lebih banyak lagi afiliasinya.

Syukurnya ya mereka tidak berkonsolidasi dengan baik. Tetapi pengawasan jadi sulit karena mereka tidak bersatu dan bisa bergerak sporadis.

Siapa pimpinan regional ISIS yang mengatur di Indonesia ini?
Setidaknya oleh tokoh-tokoh militan. Seperti Aman Abdurrahman, ada juga Abdurrohim alias Abu Husna di Jawa Tengah, eks Jemaah Islamiyah. Namun Abu Husna tak sepakat dengan kepemimpinan Aman sebagai Amir. Karena bagi eks JI, orang yang belum pernah perang di Ambon, Poso, Mindanau dan Afganistan belum layak jadi Amir. Aman sendiri kan belum pernah.

Kemudian ada juga Komandan ISIS untuk wilayah Asia Tenggara asal Indonesia, Bahrumsyah, yang dikabarkan tewas dalam sebuah serangan bom bunuh diri. Dia ini berpengaruh di Jawa bagian barat, seperti Jakarta, Jabodetabek dan Banten. Kemudian ada Bahrun Naim yang punya pengaruh di Solo.

Sel-sel atau faksi-faksi ISIS itu tidak saling terkait?
Lepas-lepas. Punya faksi masing-masing. Yang jelas mereka tidak berkonsolidasi satu sama lain, tapi sepakat dengan ISIS-nya. Ada juga yang punya Amir secara tradisional atau yang dituakan, sehingga tidak punya struktur organisasi.

Faksi-faksi ini punya kemampuan teror?
Kalau bicara violent ability jelas mereka punya. Ada yang tahu menggunakan senjata, membuat bom dan pernah berlatih militer. Tinggal tunggu pemicu saja.

Kelompok paling aktif melakukan serangan adalah Bahrun Naim. Misalnya rencana serangan ke Ahok dan Singapura. Kemudian yang aktif lagi adalah faksi Aman Abdurrahman. Contohnya serangan Thamrin, Cicendo dan Kampung Melayu.

Mereka ini percaya dengan kekerasan karena imam yang di sana bilang seperti ini, "gunakan apapun yang bisa kamu gunakan, bahkan pisau dapur ibumu".

Bagaimana mereka membangun kepercayaan satu sama lain?
Lewat pertemuan tatap muka atau offline. Proses baiat kan dilakukan langsung, tidak bisa online. Menyebarkan pengaruh juga lebih kena saat offline. Kalau online untuk koordinasi dan membicarakan pola strategi dalam aksi. Mereka ini secret society, tersembunyi dari kita.

Oke. Bicara satu pemimpin saja. Misalnya Aman Abdurrahman. Bagaimana cara dia menyebarkan pengaruhnya di Indonesia?
Begini. Sebelum aturan isolasi dijalankan, tepatnya setelah serangan Thamrin, Aman itu selalu duduk dikelilingi 20 pengikutnya di Cipinang. Dia itu ceramah kepada pengikutnya dan direkam dalam format mp3. Nah mp3 itu yang disebarkan oleh pengikutnya ke luar penjara.

Kenapa penyebaran paham dari Aman itu tidak dicegah pemerintah?
Sudah dilakukan. Setelah serangan Thamrin itu pemerintah memutuskan untuk mengisolasi orang yang punya potensi menyebarkan ideologinya. Akhirnya kan Aman diisolasi ke Pasir Putih. Tujuannya agar tak ada ideologi darinya yang keluar dari penjara.

Anda pernah bertemu Aman Abdurrahman?
Pernah, sekitar 2010 atau 2011. Menurut saya Aman tidak terlalu karismatik, berbeda dengan Ba'asyir. Tapi Aman punya narasi yang bagus banget.

“Syukurnya ISIS tidak berkonsolidasi dengan baik. Tetapi pengawasan jadi sulit karena mereka tidak bersatu dan bisa bergerak sporadis”

Adhe Bhakti

Btw, kenapa Anda sepertinya khawatir kalau Anda disebut peneliti pemerintah oleh media ABC?
Karena ini riset murni dari PAKAR. Sama sekali tidak terkait dan tidak juga koordinasi dengan pemerintah, bahkan saya tekankan kalau riset ini tidak didanai pemerintah.

Media ABC salah kutip dong...
Bisa saya pastikan bahwa penyebutan peneliti pemerintah adalah hal bohong yang dilakukan ABC terhadap saya.

Tidak berminat mempersoalkannya ke dewan pers?
Rasanya enggak, saya cukup tahu saja. Tetapi saya sudah kirim surat protes resmi ke mereka.

Meski bukan dana pemerintah, apakah hasil penelitian itu bisa dipakai pemerintah?
Apapun yang kami lakukan, termasuk membantu BNPT, adalah untuk pemerintah. Karena kami enggak punya kemampuan intervensi. Pemerintah yang seharusnya membentengi masjid-masjid agar tidak tercemar.

Intervensi juga bisa lewat jeratan secara hukum terhadap teroris...
Ya hukum harus kuat dan akuntabilitasnya harus tinggi. Ketika ada yang tewas dalam kontak senjata dengan teroris, kita harus clear itu peluru siapa. Peluru Densus atau teroris?

Osama bin Laden itu penangkapannya disaksikan live Barrack Obama dan Hillary Clinton. Setiap pasukannya pakai kamera, jadi terlihat saat Osama mau ambil AK 47nya--sebelum akhirnya tertembak. Obama melihat bagaimana pasukannya menggeser anak-anak kecil dari ruang tembak. Itu yang namanya akuntabilitas.

Menurut Anda apakah ada ruang untuk rekayasa dalam penanganan kasus terorisme?
Saya pikir terlalu riskan jika aparat keamanan menggunakan terorisme sebagai mainan politik.

Anda tak takut jadi korban jika sering bergelut dengan dunia teroris?
Terorisme tidak pandang bulu, siapa pun bisa jadi korban, bahkan saya sekalipun. Saya enggak takut dan merasa masalah, kan ada 77 bidadari yang sedang menunggu ha-ha.