Seni pembuatan pinisi jadi warisan budaya UNESCO

Sebuah pinisi yang tengah dibangun tampak di Bira, Sulawesi Selatan, Januari 2016. Seni pembuatan kapal tradisional ini resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. | zaferkizilkaya /Shutterstock

Pinisi merupakan perahu layar tradisional Indonesia khas Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan, tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Fungsi pinisi adalah untuk pengangkutan barang antarpulau.

Ciri khas perahu layar ini adalah mempunyai dua tiang utama dan tujuh buah layar, tiga di depan, dua di tengah, dan dua di belakang.

Bukan tanpa arti, dua layar dalam kapal pinisi memiliki makna yang didasarkan ada dua kalimat syahadat. Sedangkan tujuh buah layar menggambarkan jumlah ayat dalam surat al-Fatihah, yang merupakan pembuka kitab suci Alquran. Demikian dilansir CNN Indonesia.

Pada Kamis (7/12/2017), Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan seni pembuatan pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Penetapan dilakukan setelah melewati serangkaian sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Tak Benda di Pulau Jeju, Korea Selatan, pada 4-9 Desember 2017.

Sidang tersebut dihadiri oleh 24 negara anggota komite untuk membahas enam nominasi dalam kategori List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding dan 35 nominasi untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Pinisi bukanlah budaya Indonesia pertama yang masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sebab sebelumnya sudah ada tujuh budaya lain, yaitu wayang (2008), keris (2009), batik (2009), angklung (2010), tari saman (2011), noken Papua (2012), dan tiga genre tari tradisional Bali (2015).

Selain itu, masuk pula dalam daftar tersebut program pendidikan dan pelatihan tentang batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Pengetahuan tentang teknologi pembuatan perahu dengan rumus dan pola penyusunan lambung ini sudah dikenal setidaknya 1500 tahun. Polanya didasarkan atas teknologi yang berkembang sejak 3.000 tahun, berdasarkan teknologi membangun perahu lesung menjadi perahu bercadik.

Saat ini pusat pembuatan perahu ini ada di wilayah Tana Beru, Bira dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba. Serangkaian tahapan dari proses pembuatan perahu mengandung nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerja tim, kerja keras, ketelitian/presisi, keindahan, dan penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

Menurut Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ditetapkannya pinisi menjadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO merupakan bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan akan teknik perkapalan tradisional nenek moyang bangsa Indonesia, yang diturunkan dari generasi ke generasi dan masih berkembang sampai hari ini.

"Dunia saja mengakui, tentunya bangsa Indonesia harus lebih mengakui. Dan kita berharap para generasi muda menjadi lebih bangga dan menggali nilai tradisi budaya untuk lebih dikembangkan," ucap Hilman.

Adapun Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Prancis, Monaco dan Andora yang juga Wakil Tetap RI di UNESCO, Hotmangaradja Pandjaitan, mengatakan komunitas dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengusulan Pinisi ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

Menurut dia, capaian ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas untuk memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan Warisan Budaya Takbenda yang ada di wilayahnya masing-masing.

Beberapa pekerja tampak sedang menyelesaikan bagian dalam dari pinisi di Bira, Sulawesi Selatan, Januari 2016. | zaferkizilkaya /Shutterstock

Dalam buku berjudul "Kapal Pinisi" karya Herry Lisbijanto yang diterbitkan Graha Ilmu, dijelaskan sejarah panjang kapal pinisi.

Perahu layar ini sebenarnya hanya satu dari beberapa jenis kapal laut lain yang dibuat oleh masyarakat Bugis, seperti lambo palari, lambo calabai, jarangka, soppe, dan pajala.

Pelaut Bugis yang menjadi awak kapal berlayar menggunakan pinisi sampai ke mancanegara berkat ketangguhan dalam teknik navigasi dan kemudi kapal yang baik.

Proses pembuatan pinisi tradisional disebut bantilang. Perahu dibuat dengan bahan kayu kayu welengreng yang terkenal kuat oleh masyarakat Bugis.

Pembuat pinisi disebut sawi. Masyarakat Ara, Tanjung Bira, dan Lemo-Lemo merupakan sosok-sosok terampil di balik pembuatan pinisi. Untuk menyelesaikan sebuah pinisi, butuh waktu berbulan-bulan dan dikerjakan secara telaten dan terencana oleh para sawi.

Menukil situs Seputar Kapal, harga pinisi bervariasi mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah per buahnya. Tergantung pada ukuran dan fitur apa saja yang ingin digunakan oleh pemesan.

Untuk melihat proses pembuatan pinisi, bisa mengunjungi pusatnya di wilayah Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba.

Anda bisa melihat langsung rangkaian membuat perahu layar ini dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, seperti kerja tim, kerja keras, ketelitian, keindahan, dan penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

Sekretariat ICH UNESCO berharap Indonesia membuat program untuk tetap menjaga ketersediaan kayu sebagai bahan baku utama, bagi keberlanjutan teknologi tradisional pembuatan pinisi dalam bentuk perahu.

Selain itu sidang juga menilai perlunya program-program baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal terkait dengan transmisi nilai tentang teknik dan seni pembuatan perahu tradisional ini kepada generasi muda.

Selengkapnya di Beritagar.id