Dua Garis Biru menembus dua juta penonton

Gina S. Noer (ketiga dari kiri) menerima plakat 2 juta penonton dari Starvision di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (25/7/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Plakat penghargaan kembali diberikan kepada film Dua Garis Biru atas pencapaian barunya. Terhitung selama 15 hari penayangannya film arahan Gina S. Noer itu menembus 2 juta penonton.

Berdasarkan catatan filmindonesia.or.id, sejauh ini produksi Starvision bersama Wahana Kreator tersebut berhasil menempati posisi kedua dalam perolehan jumlah penonton film yang edar sepanjang 2019.

Mereka menggeser posisi yang sebelumnya ditempati My Stupid Boss 2 (tayang 28/3/2019) produksi Falcon Picures yang meraup lebih dari 1,8 juta penonton. Peringkat pertama masih milik Dilan 1991 produksi Max Pictures dengan 5,2 juta penonton.

“Tahun ini sudah ada sembilan film Indonesia yang jumlah penontonnya melebihi sejuta. Alhamdulillah, tiga di antaranya produksi Starvision,” ujar produser Chand Parwez sebelum penyerahan plakat kepada Gina yang berlangsung di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (25/7).

Ditambahkan Chand Parwez, film Dua Garis Biru juga akan tayang di bioskop-bioskop Malaysia. Kemungkinan judul akan berubah menjadi Dua Garis Pink.

Pertimbangannya karena warna pada alat tes kehamilan yang lazim berlaku di negara jiran tersebut adalah pink alih-alih biru.

“Pihak distributor di sana masih mencari tanggal. Sama seperti kita di sini juga kalau mau tayang harus cari tanggal dulu sama pihak ekshibitor. Perkiraan kami sekitar September atau Oktober tahun ini,” lanjutnya.

Usai seremoni penyerahan, Gina kepada Beritagar.id mengaku terkejut atas pencapaian film panjang perdananya ini. Sebab jadwal tayang Dua Garis Biru yang jatuh pada 11 Juli 2019 dianggap cukup berat.

Juli merupakan musim panas alias masih suasana liburan yang menandakan perilisan film-film summer blockbuster asal Hollywood, Amerika Serikat.

Sepanjang penayangannya, Dua Garis Biru tidak hanya harus saling berebut layar bioskop yang terbatas jumlahnya dengan sesama film Indonesia, tapi juga dari gempuran beberapa film impor, antara lain Spider-Man: Far From Home, Annabelle Comes Home, The Lion King, dan Child’s Play. Semuanya adalah franchise alias waralaba yang sudah punya nama besar.

Jangan heran jika sejumlah rumah produksi “besar” di Indonesia, semisal Rapi Films, MultivisionPlus, Soraya Intercine, MD Pictures, atau Falcon, enggan merilis filmnya sepanjang Juli, kecuali Starvision lewat Dua Garis Biru ini. “Waktu itu kami percaya diri saja melenggang sendirian di bioskop,” tambah Gina.

Belum lagi hadangan berupa munculnya ujaran-ujaran di dunia maya yang menyebut konten Dua Garis Biru tak layak ditonton untuk remaja. Jika diperhatikan saksama, kata Gina, ujaran tersebut ironisnya meluncur dari orang-orang yang bahkan belum menonton filmnya.

Semua adangan tersebut toh mereka hadapi dengan elegan. Gina bersama kru dan pemainnya bergeming. Mereka tak pernah sekalipun terpancing untuk membalasnya dengan komentar negatif pula.

“Puji syukur karena film debut saya yang sangat personal ini ternyata bisa dianggap penting oleh penonton Indonesia dan mencapai angka segini,” ujar Gina mengawali sambutannya usai menerima plakat.

Bagi sineas kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 33 tahun silam ini, ada yang lebih bermakna dari sekadar pencapaian jumlah penonton.

“Ketika melihat betapa banyak orang yang mendukung, mengirimkan pesan, dan mengobrol langsung bahwa film yang kami buat dengan sepenuh hati ini sangat bermakna bagi mereka. Bagi kami itu jauh lebih berarti daripada pencapaian angka penonton,” pungkas Gina.

Film yang antara lain dibintangi oleh Zara JKT48 (sebagai Dara), Angga Yunanda (Bima), Cut Mini (Yuni), Arswendy Bening Swara (Rudy), Dwi Sasono (David), dan Lulu Tobing (Rika) ini memang banyak menyelipkan bahan pembelajaran, bukan hanya untuk remaja, tapi juga orang tua.

Sejumlah orang telah memujikannya. Semisal aktris dan juga pemerhati pendidikan Dian Sastrowardoyo (37). Pemeran Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta? yang juga seorang ibu itu memberikan testimoni tulus dengan menulis, "Film Dua Garis Biru menciptakan diskusi sehat antargenerasi tentang hal yang semestinya dibicarakan, bukan dicoba diam-diam tanpa pengetahuan yang cukup."

Di tempat lain lagi, Eva Kusuma Sundari, seorang ibu, aktivis perempuan, dan anggota DPR-RI, urun memberikan pengakuan bahwa film ini mengangkat pertimbangan moral, tapi tidak moralis. Pun tidak menggurui karena peristiwanya sendiri adalah guru.