Tyo Nugros kembali ke ranah indie bersama Direct Action

Tyo Nugros (kanan) bergabung dengan Joseph Saryuf memperkuat Direct Action sejak akhir 2016. | Albert Wolf

Mantan drummer kelompok Dewa, Tyo Nugros (46), mengakrabi lagi ranah musik sidestream lewat kelompok Direct Action yang juga diperkuat Joseph Saryuf (vokal/gitar/keyboard).

Jauh sebelum populer sebagai penggebuk drum kelompok Dewa bersama Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, Erwin Prasetya, dan Once Mekel yang menghasilkan album Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002), Laskar Cinta (2004), dan Republik Cinta (2006), Tyo pernah tercatat sebagai personel Getah.

Band yang cukup populer di kalangan penggemar musik bawah tanah Jakarta itu terbentuk sejak 1995. Tyo masuk pada 1996 menggantikan Reeve yang pindah ke Amerika Serikat.

Hanya dua tahun di belakang drum kit Getah, alumni Percussion Institute of Technology (PIT) dan Musicians Institute (MI) Hollywood Amerika Serikat itu mengiyakan tawaran bergabung dari Dewa.

Usai merilis album Republik Cinta, Tyo lagi-lagi memutuskan cabut. Posisinya digantikan Agung Yudha (mantan drummer Power Slaves).

Setelah menjelajahi banyak panggung sebagai session drummer, Tyo kembali memperkuat sebuah band bernama Electron 45.

Pada 2015, kelompok yang juga diperkuat Dirly (vokalis), Romy Soekarno (gitaris), dan Dimas Akira (synthesizers) merilis album Cerita Hidup bersama label Musica Studio's.

Tidak cukup dengan Electron 45, Tyo masuk formasi Direct Action yang aslinya sudah terbentuk sejak 2009.

Personel awal kala itu adalah Iyub dan Sulung Koesuma (gitaris). Mereka pernah memperkuat Sugarstar yang mengusung aliran shoegaze.

Mula-mula terbentuk, duo ini beberapa kali tampil dengan format DJ set dan Live PA membawakan remix lagu dari Bayu Risa, The Brandals, dan lainnya.

Pada 2013, Iyub mengganti haluan musik Direct Action menjadi lebih nge-rock. Hasilnya tertuang dalam single "The Chills" yang rilis dalam format digital bebas unduh.

Sulung kemudian lebih memilih sebagai art director dalam proyek ini. Mendekati ujung 2016, Iyub menemukan tandem bermusik yang sama-sama menyukai math rock, electronic rock, dan post rock dalam diri Tyo.

Bersama label rekaman independen Sinjitos Records yang jadi tempat bernaung Lala Karmela, The Porno, dan Bayu Risa, duo ini merilis single baru bertajuk "Blush Blush" (11/4/2017) yang cukup kental memuat unsur math rock.

Math rock merupakan turunan progresif rock. Musiknya kompleks karena kaya dengan progresi kord, melodinya bersiku penuh dengan sinkopasi, dan minim penggunaan vokal. Kebanyakan hanya berupa instrumentalia.

Laiknya prog rock, genre musik ini juga kerap menggunakan banyak birama (time signature) alias ketukan.

Pengusung math rock lebih sering mengeksplorasi ketukan-ketukan yang tidak simetris, seperti 5/4, 7/8, 9/8, atau 11/8 alih-alih berpegangan pada pakem penggunaan birama 3/4 atau 4/4 saja. Pun demikian tetap harmonis jika didengarkan.

"Kami berusaha menciptakan lagu yang bisa membuat orang-orang ingin mendengarkannya setiap saat. Kami senang membuat musik. Oleh karena itu, kami ingin penggemar juga merasakan hal yang sama," ujar Iyub --sapaan Joseph Saryuf-- dalam siaran pers kepada Beritagar.id (27/4).

Lagu "Blush Blush" mengandung metafora sederhana tentang sifat dan perasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Video musik dari lagu tersebut yang telah hadir di kanal YouTube Sinjitos Records disutradarai oleh Patrick Tadashian dan David Jimenez, pengajar di School of Sound Recording (SSR) Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sementara Iyub turun tangan sebagai penyunting gambar.

"Secara konsep, penggunaan efek-efek pernuh warna dalam video 'Blush Blush' terinspirasi nuansa era 90-an. Kami juga memasukkan tema women boxing karena sekarang ini Mixed Martial Arts (MMA) selain disukai kaum pria juga telah menjadi tren bagi para wanita," terang Tyo.

Direct Action berjanji akan selalu menghadirkan tema yang berbeda. Karena sebagai musisi yang doyan bereksperimen, Iyub dan Tyo akan selalu keluar dari zona nyaman dalam bermusik untuk menghasilkan kreativitas yang berbeda pula.