Ello, jejaring sosial anti iklan

Tangkapan layar dari situs Ello
Tangkapan layar dari situs Ello | Istimewa

Pembenci Facebook atau jejaring sosial lain yang kanalnya dipenuhi iklan, jadi target sebuah jejaring sosial baru bernama Ello. Jejaring ini membuat manifesto yang isinya antara lain menyatakan pengguna bukanlah produk, yang bisa diperjualbelikan lewat jejaring sosial. Kalau berminat, saat ini butuh undangan khusus agar bisa mendaftar.

Facebook, meski bukan satu-satunya, adalah contoh paling mudah menjelaskan komersialisasi pengguna jejaring sosial. Nyaris semua data pribadi dan perilaku dilacak, lalu diubah menjadi sekumpulan data. Data-data ini kemudian dijual kepada pemasang iklan. Sebagai layanan gratis, model bisnis seperti ini lazim digunakan.

Ello, sebaliknya, ingin menjadi anti Facebook. Mereka percaya bahwa "sebuah jejaring sosial bisa menjadi alat pemberdayaan, bukan alat untuk menipu atau memanipulasi pengguna". Karena itu mereka menolak iklan, dan menurut dugaan TechCrunh, mungkin akan menawarkan langganan. Kemungkinan lain, mereka akan berjualan fitur-fitur tertentu. Belum ada kabar soal aplikasinya di peranti bergerak.

Diluncurkan Maret lalu, baru belakangan ini menjadi populer di kalangan netizen. Pekan ini dilaporkan 31 ribu pengguna baru antri untuk menggunkannya. Saat ini peminatnya hanya bisa mendaftar lewat undangan pengguna yang sudah aktif. Menurut The Guardian, jejaring sosial buatan sekelompok desainer grafis dan pengembang web ini sudah menerima investasi awal sebesar USD435,000.

Seperti di Twitter, pengguna tak wajib menggunakan nama asli. Namun tampilannya sangat minimalis, saking minimalisnya Gizmodo berkomentar tata letaknya sedikit "maksa". Risiko menjadi anti Facebook, mereka berusaha keras membuat penampilan yang sama sekali baru, tapi belum bisa dibilang sukses. Di beberapa fitur masih ada yang tampak seperti Google+. Kita lihat saja berapa lama ia akan bertahan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR