Enam regu tembak siap eksekusi terpidana mati

Mochamad Choerul Anam, kuasa hukum terpidana mati Namaona Denis, warga negara Malawi, menunjukan surat dari Komnas HAM di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jateng, Jumat (16/1/2015)
Mochamad Choerul Anam, kuasa hukum terpidana mati Namaona Denis, warga negara Malawi, menunjukan surat dari Komnas HAM di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jateng, Jumat (16/1/2015) | Idhad Zakaria/Antara

Kejaksaan Agung memastikan eksekusi enam terpidana mati kasus narkotika. Eksekusi akan dilakukan pada Minggu (18/1/2015) dini hari, di Nusakambangan dan Boyolali. Jaksa Agung HM Prasetyo menegaskan, mereka sudah diberikan seluruh hak hukumnya.

Dikutip TribunNews, "Nanti disiapkan enam regu tembak. Karena ada enam yang kita eksekusi, harus kita lakukan bersamaan, itu untuk menjaga psikologis terpidana," ujar Prasetyo, Jumat (16/1).

Rencananya, eksekusi dilakukan di dua tempat. Sebanyak lima terpidana akan dieksekusi di Nusakambangan, satu terpidana lainnya dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah. Untuk eksekusi pada Minggu pukul 00.00 WIB tersebut, regu tembak telah siap. Prasetyo mengatakan, kejaksaan juga telah menyiapkan wali agama sebagai rohaniwan untuk mendampingi para terpidana sebelum dieksekusi.

Keenam terpidana mati itu tersangkut kasus narkoba. Mereka terdiri dari empat laki-laki dan dua orang perempuan, dan hanya satu yang merupakan WNI. Permohonan grasi mereka telah ditolak presiden tertanggal 30 Desember 2014. Berikut keenam terpidana mati tersebut:

  1. Marcho Archer Cardoso Moreira (53) warga negara Brazil
  2. Namona Denis (48) warga negara Malawi
  3. Daniel Enemuo al. Diarrassaouba Mamadou (38) warga negara Nigeria
  4. Ang Kiem Soel al. Kim Ho al. Thahir al. Tommi Wijaya (62) warga negara Belanda
  5. Tran Thi Bich Hanh (37) warga negara Vietnam
  6. Rani Andriani alias Melisa Aprilia (39) warga negara Indonesia

Eksekusi ini sudah diprotes berbagai pihak. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyerukan pemerintah untuk moratorium eksekusi hukuman mati. Mereka mengingatkan "hak hidup adalah hak yang tak dapat dikurangi dalam keadaan apapun", sedangkan proses hukum Indonesia masih jauh dari kompeten dan adil.

Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menolak eksekusi hukuman mati bagi enam terpidana kasus narkotika tersebut. Menurut Ketua Koordinator Kontras, Haris Azhar, eksekusi mati bagi terpidana kasus narkotika telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR