Trio bek tengah dan pressing akan mewarnai 2015

(Ilustrasi)
(Ilustrasi) | just-fotball.com

Setidaknya dalam satu dekade terakhir, tim sepak bola di seluruh dunia lebih senang menggunakan formasi empat bek. Skema berimbang 4-4-2 dan 4-2-3-1 begitu menjamur. Namun sepanjang 2014, sejumlah klub dan timnas menempatkan tiga bek di jantung pertahanan dengan memainkan skema 3-5-2, 3-4-1-2, atau 3-4-3. Tren itu mematahkan pandangan Zonal Marking pada 2010 lalu yang menyebut skema tiga bek punah di era 2000-an.

Di Piala Dunia 2014 Brazil, tercatat Costa Rica, Meksiko, Cile, dan Belanda menggunakan skema tiga bek. Kebetulan mereka mencapai babak 16 Besar dan secara total mereka "hanya" kebobolan 13 gol. Sementara di ajang klub, Juventus saat masih ditukangi Antonio Conte merupakan salah satu yang konsisten dengan trio pemain belakang.

Eks pelatih Belanda, Louis van Gaal, meneruskan skema tiga bek bersama Manchester United (MU) mulai musim 2014-15. Meski sempat membingungkan para pemain MU karena kebetulan skema itu termasuk rumit dipraktikkan, MU mulai menemukan permainan terbaik dengan duduk di posisi ketiga kompetisi EPL (poin 36) di bawah Chelsea (46) dan Manchester City (43) dari 19 kali bertanding.

Selain skema tiga bek, bangkit pula konsep sweeper yang dilakukan kiper. Manuel Neuer, kiper Jerman, misalnya, tercatat 19 kali menyentuh bola di luar kotak penalti saat menghadapi Aljazair di babak grup Piala Dunia 2014. Konsep ini tentu memberi keuntungan bagi pemain lain untuk naik membantu penyerangan.

Sementara itu, 2015 akan diwarnai tren high pressing. Apapun skema yang digunakan, mayoritas tim menerapkan possesive pressing atau forward pressing. Kehadiran pelatih Max Allegri di Juventus melahirkan filosofi yang konon diciptakan oleh Mircea Lucescu di Shakhtar Donetsk-- pelatih asal Rumania yang antara lain pernah menukangi Inter Milan.

High pressure umumnya dilakukan dalam bentuk zona dengan sedikitnya 3 pemain. Pada Liga Champions Eropa musim lalu, pelatih Diego Simeone bahkan menerapkan defensive forward. Para pemain di lini tengah dan depan harus menjalankan fungsi bertahan dengan cara melakukan pressing pada pemain lawan yang menguasai bola.

Prinsip tekanan tinggi ini menarik perhatian sejumlah pelatih setelah Lucescu berhasil "mematikan" tiki-taka Barcelona. Namun demikian, pressing ketat membutuhkan kombinasi kekuatan stamina dan teknik.

Tren berikut yang akan mewarnai 2015 adalah cairnya penggunaan skema taktik dalam satu laga. Pep Guardiola di Bayern Muenchen bahkan selalu menggunakan lebih dari satu skema main. Jose Mourinho di Chelsea sempat pula menerapkan possesive pressing ketika menghajar Schalke 5-0 di Liga Champions Eropa bulan lalu. Demikian pula Arsenal ketika menundukkan Borussia Dortmund 2-0 di ajang sama.

Artinya, para pelatih kini akan lebih fleksibel menerapkan prinsip main dan skema sesuai lawan yang dihadapi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR