LIGA CHAMPIONS

Ajax tegaskan ketajamannya di kandang lawan

Gelandang Ajax Amsterdam Donny van de Beek bereaksi usai mencetak gol kemenangan 1-0 atas Tottenham Hotspurs dalam leg pertama semifinal Liga Champions di London, Inggris, Rabu (1/5/2019) dini hari WIB.
Gelandang Ajax Amsterdam Donny van de Beek bereaksi usai mencetak gol kemenangan 1-0 atas Tottenham Hotspurs dalam leg pertama semifinal Liga Champions di London, Inggris, Rabu (1/5/2019) dini hari WIB. | Will Oliver /EPA-EFE

Ajax Amsterdam membuktikan ketajamannya ketika bermain di kandang lawan. Menjalani leg pertama semifinal Liga Champions di Stadion Tottenham Hotspur di London, Inggris, Rabu (1/5/2019) dini hari WIB, Ajax menang 1-0.

Gol dicetak pada menit ke-15 oleh gelandang sayap kanan Donny van de Beek yang lepas dari jebakan offside. Van de Beek tipis berada dalam posisi onside berkat kaki kirinya sehingga leluasa melepas bola ke sebelah kiri kapten dan kiper Hugo Lloris.

Bagi Ajax, gol tunggal itu seolah penegasan bahwa mereka piawai mencetak gol di kandang lawan. Bahkan klub asal Belanda ini paling tajam dibanding tiga semifinalis lain musim ini saat mengunjungi kandang lawan.

Ajax mencetak gol terbanyak di kandang lawan di antara para semifinalis Liga Champions musim ini.
Ajax mencetak gol terbanyak di kandang lawan di antara para semifinalis Liga Champions musim ini. | Lokadata /Beritagar.id

Sejak fase grup hingga perempat final, Ajax sudah mencetak 10 gol di kandang lawan. Sementara tiga finalis lain; Tottenham "Spurs" Hotspur enam gol, serta Liverpool dan Barcelona masing-masing delapan gol.

Jangan lupa pula bahwa Ajax mencetak empat gol di kandang juara bertahan Real Madrid. Mereka pun belum terkalahkan dalam partai tandang pada Liga Champions musim ini; menang lima kali dan imbang empat kali.

Namun, keunggulan sementara Ajax atas Spurs bukan cuma soal skor dan kualitas saat bertandang. Sepanjang musim ini di semua kompetisi, menurut Goal, Ajax sudah mencetak 161 gol dan Spurs "cuma" menjaring 98 gol --selisih 63 gol.

Ajax pun mencatat sejarah. Mereka adalah tim ketiga yang mencatat kemenangan tandang pada 16 Besar, perempat final, dan semifinal dalam satu musim Liga Champions. Dua klub lain yang pernah melakukannya adalah Bayern Munich (2012-13) dan Real Madrid (2017-18).

Ketika Bayern dan Madrid melakukannya, mereka berhasil keluar sebagai juara. Apakah Ajax akan menggenapi preseden tersebut? Hal itu masih relatif jauh.

Ajax dan Spurs masih harus menjalani 90 menit leg kedua di Amsterdam pekan depan. Namun menurut sejarah yang dipelajari Gracenote, Ajax berpeluang ke final lebih besar (88 persen) dibanding Spurs (12 persen).

Pelatih Ajax, Erik ten Hag, pun menyambut gembira hasil ini. Namun pelatih 49 tahun ini tetap waspada. "Ini hasil indah. Kami memulai dengan sangat baik, tapi ini baru setengah perjalanan," katanya dalam laman UEFA.

Sementara gelandang Spurs Christian Eriksen mengakui bahwa mantan klubnya itu lebih baik. Namun menurut pemain asal Denmark ini, Ajax lebih baik karena Spurs tampil di bawah standar.

"Kami membiarkan Ajax lebih baik dan mereka mengendalikan situasi. Itu kesalahan kami," paparnya.

Ajax memang menunjukkan kelasnya, seperti mereka menyisihkan Madrid dan Juventus. Bahkan kendati mereka tim termuda di antara para semifinalis, mereka justru punya kematangan dan kemampuan menghadapi tekanan tinggi.

Ajax menguasai permainan pada awal laga sehingga bisa mencuri gol pada menit ke-15. Setelah itu, mereka hanya melakukan segalanya untuk mengamankan gol tandang itu.

BBC memuji kapten Ajax, Matthijs de Ligt, yang baru berusia 19 tahun. Namun pencetak gol kemenangan atas Juventus justru menunjukkan kepemimpinannya dalam menggalang pertahanan dengan memberi perintah rekan-rekannya yang lebih berpengalaman dan lebih tua.

Belum lagi pemain yang akan membela Barcelona mulai musim depan, Frenkie de Jong (21) dan Van de Beek (22). Meski masih muda, mereka mampu menampilkan permainan yang menyulitkan pemain Spurs.

Lalu apa kunci kemenangan Ajax selain gol Van de Beek? Strategi Ten Hag yang terus menutup rapat ruang tembak Spurs menjadi faktor utama.

Sepanjang 90 menit, hanya ada dua kesempatan bagi Spurs untuk mencetak gol tanpa diadang pemain Ajax. Pertama melalui Tobe Alderweireld, eks pemain Ajax, ketika sundulannya melambung. Kedua adalah bola tembakan Dele Alli yang mengarah tepat ke kiper Andre Onana.

Pelatih Spurs, Mauricio Pochettino, mengatakan kunci kekalahan timnya adalah Ajax lebih punya energi dan lebih proaktif. Sementara timnya disebut kewalahan.

"Kami menciptakan sedikit peluang. Kami sampai sepertiga akhir lapangan, tapi gagal menciptakan peluang. Kami merasa bisa mencetak gol tapi selalu gagal pada operan atau tembakan terakhir," keluh Pochettino.

Namun, pelatih asal Argentina ini merasa punya jawaban untuk modal leg kedua. Perubahan taktik pada babak kedua membuat Ajax bertahan makin dalam karena para pemain Spurs mulai melakukan pressing.

"Permainan babak kedua memberi kami harapan untuk leg kedua," sergahnya.

Pada leg kedua, Spurs juga sudah bisa memainkan gelandang Son Heung-min yang absen pada laga ini karena akumulasi kartu kuning, Namun Spurs tetap belum bisa menurunkan kapten dan penyerang Harry Kane yang masih cedera pergelangan kaki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR