BULU TANGKIS

Akhir karier gemilang Si Butet

Pencapaian gemilang Liliyana Natsir sepanjang karier bulu tangkisnya.
Pencapaian gemilang Liliyana Natsir sepanjang karier bulu tangkisnya. | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Seiring berakhirnya Daihatsu Indonesia Masters 2019, berakhir pula perjalanan karier Liliyana Natsir nan cemerlang. Spesialis ganda campuran tersebut memutuskan untuk gantung raket setelah menggeluti bulu tangkis sejak berusia 10 tahun.

Berpasangan dengan Tontowi Ahmad, Butet--begitu Liliyana akrab disapa--gagal merebut trofi pada laga profesional terakhirnya. Mereka kalah 21-19, 19-21, 16-21, dari Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Tiongkok) di final, Minggu (27/1/2019).

Walau demikian, kekalahan tersebut tak bakal membuat para pencinta olahraga tepok bulu ini meragukan kehebatan perempuan yang kini berusia 33 tahun itu di lapangan.

Telah banyak trofi dan medali emas yang direbutnya sejak masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Cipayung, Jakarta Timur, pada 2002. Hebatnya, pergantian nomor pertandingan dan pasangan, tak menyurutkan prestasi Butet.

Dimulai dengan merebut medali emas ganda campuran Kejuaraan Junior Asia 2002 saat berpasangan dengan Markis Kido, pebulu tangkis putri kelahiran Manado, 9 September 1985 itu seperti tak terhentikan.

Pada masa-masa awal kariernya di tim nasional, Butet pernah turun pada dua nomor sekaligus, yakni ganda putri dan ganda campuran. Ia sempat merebut medali emas ganda putri SEA Games 2007 bersama Vita Marissa, tetapi nomor ganda campuran lah yang membuat namanya mendunia.

Pasangan pertamanya adalah Nova Widianto. Mereka mulai bermain bersama sejak 2004 dan tak butuh waktu lama bagi Nova/Butet untuk menjadi salah satu ganda campuran paling ditakuti di dunia.

Bersama mereka merebut dua medali emas SEA Games, satu Kejuaraan Asia, dua kali menjadi juara Kejuaraan Dunia, satu Piala Dunia.

Pada era IBF World Grand Prix (2004-2006), Nova/Butet menjuarai lima turnamen. Ketika berubah menjadi BWF Grand Prix dan Grand Prix Gold, mereka membawa pulang 1 gelar, lalu mengumpulkan 5 trofi pada era BWF Superseries.

Pada akhir 2010, pelatih ganda campuran Richard Mainaky memutuskan untuk memisahkan mereka. Nova yang menua membuatnya dipandang tak mungkin lagi bersaing di tingkat dunia. Apalagi saat itu Indonesia mengincar emas bulu tangkis Olimpiade 2012 di London.

Richard lalu memilih Tontowi Ahmad--akrab disapa Owi. Singkat cerita, keputusan itu amat tepat. Medali Olimpiade 2012 memang tak berhasil mereka raih, tetapi Owi/Butet membayarnya empat tahun kemudian dengan menjadi juara di Rio de Janeiro, Brasil, pada 2016.

Sama saat masih bersama Nova, Owi/Butet juga menjadi duet yang amat diperhitungkan. Mereka juga pernah menduduki peringkat 1 dunia.

Nyaris semua turnamen--termasuk yang paling bergengsi seperti All England, Indonesia Open, dan China Open--pernah mereka menangi. Total mereka merebut gelar juara di 16 turnamen BWF Superseries.

Tak salah jika nama Liliyana Natsir akan dikenang sebagai salah satu pebulu tangkis terbaik yang pernah membela Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR