Analisis teknis permainan Vietnam vs Indonesia

Bek kiri Indonesia Abduh Lestaluhu (kanan) berusaha menghentikan laju mesin serangan Vietnam Nguyen Van Toan dalam laga persahabatan di Stadion My Dinh, Hanoi, Vietnam, Selasa (8/11/2016).
Bek kiri Indonesia Abduh Lestaluhu (kanan) berusaha menghentikan laju mesin serangan Vietnam Nguyen Van Toan dalam laga persahabatan di Stadion My Dinh, Hanoi, Vietnam, Selasa (8/11/2016). | Luong Thai Linh /EPA

Indonesia dipaksa menerima kekalahan 2-3 saat menghadapi tuan rumah Vietnam dalam laga persahabatan di Stadion My Dinh di Hanoi, Selasa malam WIB (8/11/2016).

Dengan demikian dalam dua laga beruntun, Indonesia tak pernah menang atas Vietnam. Pada pertemuan pertama di Sleman, Yogyakarta, 9 Oktober lalu, kedua tim bermain 2-2.

Meski begitu, Indonesia bermain lebih baik dibanding tiga laga latih tanding terdahulu. Untuk diketahui, selain dua kali menghadapi Vietnam, kesebelasan Indonesia sudah menghadapi Malaysia (menang 3-0) dan bermain tanpa gol dengan Myanmar.

Seluruh laga itu digunakan untuk persiapan tampil di Piala AFF 2016 di Filipina dan Myanmar pada 19 November hingga 17 Desember. Dan pelatih Indonesia Alfred Riedl mengaku puas pada permainan Indonesia di Hanoi.

Kebetulan karena latih tanding, apapun hasil pertandingan menjadi tidak penting. Riedl pun menegaskan bakal menggunakan masa pemusatan latihan tersisa untuk membenahi kelemahan yang ada.

"Semoga cukup waktu tersebut," tutur pelatih asal Austria itu dalam laman PSSI.

Riedl tidak menyebutkan kelemahan apa saja yang akan dibenahinya. Namun selama 90 menit pertandingan, Indonesia kentara sekali belum berhasil mengatasi kelemahan pada sisi pertahanan kanan dan daya tahan stamina.

Kelemahan pada sisi bek kanan yang diisi Benny Wahyudi masih menjadi sumber ancaman lawan. Dalam dua kali pertemuan, Vietnam masing-masing mencetak satu gol dari skema serangan di posisi Benny.

Konsep permainan Indonesia

Sebenarnya setelah empat pertandingan latih tanding, konsep permainan Indonesia makin jelas. Boaz Salossa dan kawan-kawan fokus pada pertahanan sebelum menyerang.

Riedl juga punya tiga skema main; 4-2-3-1, 4-4-2 dan 4-3-3. Bahkan beberapa kali skema itu digunakan secara hybrid dalam satu pertandingan, termasuk saat menghadapi Vietnam kemarin.

Saat melawan Myanmar di Yangon, Jumat (4/11), Indonesia menggunakan skema dasar 4-4-2 karena dua pemain depan Irfan Bachdim dan Andik Vermansyah absen tampil.

Tetapi terlepas soal skema, permainan melawan Myanmar adalah yang terburuk dari empat rangkaian latih tanding. Kolektivitas tim, kemampuan menyerang, dan bertahan justru berantakan.

Namun hal itu tidak terlihat di Hanoi. Indonesia bermain relatif prima, terutama pergerakan zona dan tekanan (pressing) kepada lawan saat kehilangan bola.

Pressing para pemain Indonesia (putih) dilakukan sejak menit awal
Pressing para pemain Indonesia (putih) dilakukan sejak menit awal | VFF Channel /Youtube.com

Hal itu dipengaruhi pula oleh kehadiran Irfan, Andik, serta keberadaan gelandang Stefano Lilipaly yang berduet dengan Evan Dimas sebagai poros ganda di lapangan tengah.

Tekanan para pemain Indonesia itu dibarengi pula oleh garis pertahanan yang tinggi sehingga ruang gerak Vietnam menjadi lebih sempit. Alhasil Vietnam lebih banyak melepas bola udara sepanjang 45 menit pertama.

Beritagar.id mencatat pasukan Nguyen Huu Thang melepas kombinasi bola atas dan daerah sebanyak 15 kali. Selain melepas bola langsung, Vietnam yang kesulitan menembus lini tengah juga mengambil opsi serangan langsung ke sayap secara dini.

Kebetulan Huu Thang "menggantung" dua pemainnya di posisi sayap; Nguyen Trong Hoang di kiri dan Luong Xuan Truong di kanan. Penetrasi Vietnam di area sayap disertai aliran umpan segitiga (triangle passing) secara sporadis.

Permainan Vietnam itu masih sanggup diredam Indonesia, terutama di sisi kiri. Kolaborasi bek kiri Abduh Lestaluhu dan sayap kiri Rizki Pora cukup menyulitkan Truong dan Tran Dinh Duong.

Persoalannya, kemampuan bertahan Indonesia yang relatif cukup baik--terutama dalam 20 menit awal--justru mengurangi daya serang. Indonesia masih gagap dalam transisi bertahan ke menyerang.

Bahkan Andik relatif pasif pada serangan Indonesia karena harus rajin turun untuk mendukung Benny. Karena transisi yang lemah itu, Indonesia juga mengambil jalan keluar yang senada dengan Vietnam; bola jauh.

Bahkan jumlah bola langsung Indonesia lebih banyak dibanding Vietnam; 17 kali--60 persen di antaranya dilakukan kiper Kurnia Meiga yang tampil untuk pertama kali dalam agenda latih tanding untuk Piala AFF ini.

Keberhasilan meredam serangan Vietnam membuat Indonesia justru unggul lebih dulu. Pada menit 31, Boaz mencetak gol dari skema serangan balik.

Setelah menerima bola kedua dari tendangan bebas Vietnam yang gagal, serangan balik Indonesia menghadirkan situasi 3 vs 2. Evan mengalirkan bola kepada Stefano yang dilanjutkan dengan tembakan keras.

Bola berhasil diblok kiper Tran Nguyen. Bola pantulan (rebound) disambar Boaz dengan tembakan jitu.

Namun dari skema serangan balik pula Vietnam bisa mencetak gol penyeimbang pada menit 42. Sebuah bola tendangan bebas Vietnam, ditanduk kapten Le Cong Vihn dengan tepat.

Proses gol ini patut jadi pelajaran para pemain Indonesia. Gol bisa dihindari apabila para pemain Indonesia sadar pada situasi.

Saat Vietnam melakukan serangan balik usai mengagalkan sepak pojok Indonesia, bek tengah Yanto Basna terkapar di depan gawang lawan.

Namun para pemain Indonesia tidak berusaha membuang bola keluar. Padahal bila bola keluar, permainan akan dihentikan wasit dan Yanto mendapat perawatan.

Akibat kurang sadar, permainan tetap berjalan dan Indonesia membuat pelanggaran. Pada momen tendangan bebas, lini pertahanan kehilangan sosok krusial seperti pemain bertahan Persib Bandung itu.

Secara umum, pertandingan babak pertama adalah milik Indonesia kendati penguasaan bola Vietnam lebih besar; 67 persen dan tembakan Vietnam mencapai enam--dua di antaranya mengarah ke gawang Meiga.

Vietnam yang kehilangan daya dobrak pada babak pertama, langsung berubah drastis selepas turun minum. Pelatih Thang tidak lagi menerapkan permainan langsung ke sayap.

Pelatih berusia 44 itu memanfaatkan jalur tengah, baik dengan aliran operan segitiga maupun vertikal. Thang menerapkan skema 4-2-4 sehingga ada empat pemain sekaligus yang menekan pertahanan Indonesia setiap menyerang.

Vietnam masih setia dengan bola langsung pada babak kedua. Bahkan kali ini jumlahnya lebih banyak dibanding bola jauh Indonesia; delapan berbanding lima.

Sementara dua sumbu Vietnam, Dinh Thanh Trung dan Nguyen Van Quyet, di lini tengah bertugas menekan Evan dan Andik setiap kali menguasai bola. Ketika bola berhasil direbut, serangan cepat Vietnam dengan minimal empat pemain langsung menjebak pertahanan Indonesia.

Pada situasi ini, terlihat sekali Indonesia bakal merindukan sosok gelandang bertahan. Selama 45 menit kedua, enam kali serangan Vietnam datang dari tengah.

Kehadiran empat pemain Vietnam itu juga membuat Benny lebih sering tertarik menjaga kedalaman. Alhasil ada seorang pemain Vietnam yang relatif tidak terjaga di sayap kiri.

Awal serangan Vietnam (merah) yang melahirkan gol kedua pada menit 70.
Awal serangan Vietnam (merah) yang melahirkan gol kedua pada menit 70. | VFF Channel /Youtube.com

Situasi makin pelik apabila para pemain Indonesia kehabisan tenaga, seperti terlihat mulai menit 70. Pertahanan zona memudar, pressing melemah, dan para pemain kembali bertahan di belakang bola.

Proses gol kedua dan ketiga Vietnam jelas sekali lahir dari situasi tak kondusif di pertahanan Indonesia menyusul penurunan stamina serta memudarnya pressing.

Pada menit 70, sektor pertahanan kanan Indonesia jebol. Sementara Pham Thanh berhasil lolos dari tengah tanpa terkawal untuk melanjutkan bola tarik mendatar ke depan gawang dan diubah menjadi gol oleh Nguyen Cong Phuong.

Adapun gol ketiga sekaligus kemenangan Vietnam pada menit 83 dihasilkan dari bola jauh. Nguyen Van Toan berhasil melepaskan diri dari kawalan dua pemain Indonesia di jantung pertahanan untuk mencetak gol.

Stamina adalah kunci

Secara umum, permainan Indonesia yang tidak menggebu menyerang itu bakal sulit dikalahkan. Tetapi dengan catatan, stamina Indonesia mumpuni untuk terus menerus bermain spartan selama 90 menit lebih.

Dengan ketahanan stamina yang cukup, Indonesia bisa menerapkan pressing dan zona bertahan nan efektif sepanjang laga--apapun perubahan gaya main lawan.

Adapun kelemahan di pertahanan kanan bisa melemahkan kemampuan serangan Indonesia. Andik yang seharusnya ikut menyerang lebih dulu fokus membantu Benny sehingga kerap terlambat mendukung serangan.

Beruntung Stefano mampu mengisi keterlambatan Andik dalam mendukung serangan kendati kecepatannya pergerakannya berbeda. Pemain klub Telstar Belanda itu juga mampu berkolaborasi apik dengan Boaz, Irfan, Evan, Andik, dan Rizki ketika menyerang.

Stefano Lilipaly (kanan) dan Fachruddin Wahyudi berusaha menghentikan laju pemain Vietnam Nguyen Cong Phuong.
Stefano Lilipaly (kanan) dan Fachruddin Wahyudi berusaha menghentikan laju pemain Vietnam Nguyen Cong Phuong. | Luong Thai Linh /EPA

Kerja sama yang apik itu membuat Indonesia bisa leluasa berganti menyerang setelah berhasil merebut bola lawan. Andai lebih sadar pada situasi sekitar, Indonesia pantas menang atas Vietnam.

Pada menit 25, misalnya. Dalam situasi serangan balik 3 vs 2, Boaz justru melepas tembakan ketimbang mengoper ke rekan yang bebas tanpa kawalan.

Pada menit 60, Irfan--pencetak gol kedua Indonesia dari titik penalti--juga demikian. Dalam situasi hampir serupa, pemain klub Consodale Sapporo Jepang ini langsung mengeksekusi bola serangan balik meski Evan dan Andik mendukungnya tanpa kawalan.

Satu masalah lain yang bisa mengganggu Indonesia adalah perbedaan kualitas pemain inti dengan cadangan. Riedl bisa menemui masalah ketika Boaz, Irfan, atau Andik absen bermain.

Penyerang pengganti Lerby Eliandry yang menggantikan Irfan pada menit 63 justru bertipe ujung tombak kaku. Padahal dalam permainan ala Riedl, semua pemain berperan cair--termasuk menarik Boaz lebih ke belakang pada setengah pertandingan babak kedua.

Indonesia juga perlu mencari solusi serangan alternatif. Menghabiskan energi bola udara justru tidak berdaya guna karena 80 persen gagal seperti terlihat pada babak pertama.

Irfan paham permainan Indonesia belum sempurna meski ada peningkatan. Seperti komentar Riedl, pemain berusia 28 itu siap mengevaluasi segalanya pada sisa waktu pemusatan latihan.

"Kami tinggal fokus untuk Piala AFF, dua laga uji coba lawan Myanmar dan Vietnam memberi kami pelajaran yang berarti," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR