Angelique Kerber tunda impian Serena Williams

Angelique Kerber mengangkat trofi Australia Terbuka 2016 di Melbourne, Australia, 30 Januari 2016.
Angelique Kerber mengangkat trofi Australia Terbuka 2016 di Melbourne, Australia, 30 Januari 2016.
© Joe Castro/EPA

Serena Williams mencoba menyamai rekor seorang legenda tenis Jerman dan seorang petenis dari Jerman menghentikannya.

Sebelum pertandingan final tunggal putri Australia Terbuka 2016 di Melbourne, Sabtu (30/1/2016), dimulai, hampir semua pengamat dan penyuka tenis menjagokan Williams untuk bisa menaklukkan lawannya, Angelique Kerber. Jika menang, Williams bakal menyamai rekor 22 gelar tunggal Grand Slam milik Steffi Graf, petenis Jerman yang telah pensiun pada 1999.

Williams (34) adalah petenis No. 1 dunia. Di antara 21 trofi Grand Slam miliknya, enam diperoleh di Benua Kanguru.

Sementara Kerber (28) belum pernah menjuarai turnamen Grand Slam dan hanya menjadi unggulan ketujuh di Australia Terbuka. Ia pun telah lima kali kalah dari Williams dalam enam pertemuan.

Tetapi pada Sabtu itu Kerber seperti mendapatkan tenaga tambahan untuk menjungkalkan semua prediksi dan kemudian menaklukkan Williams 6-4, 3-6, 6-4. Impian Williams untuk menyamai rekor Graf pun tertunda.

Kerber menjadi petenis keempat yang bisa menundukkan petenis Amerika Serikat itu di final Grand Slam, setelah Venus Williams (dua kali), Maria Sharapova, dan Samantha Stosur. Ia juga menjadi petenis pertama yang bisa menang dalam pertarungan tiga set melawan Williams di final Grand Slam.

"Saya pikir saat ini saya menolong Steffi," kata Kerber sambil tersenyum seperti dikutip Australian Open.

Pada Maret tahun lalu ketika Kerber tengah dalam kondisi terpuruk dan terlempar dari peringkat 10 besar dunia, Graf mengundang Kerber ke tempat tinggalnya di Las Vegas. Di sana, menurut laman Australian Open, Graf meyakinkan Kerber bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya dan bahwa Kerber bisa mencapai sesuatu yang besar.

Ia membuktikannya.

Graff pensiun beberapa bulan setelah merebut piala Grand Slam ke-22-nya di Prancis Terbuka 1999. Sejak saat itu belum ada lagi petenis putri Jerman yang bisa menjadi juara turnamen utama ini, hingga Kerber.

Hebatnya, dalam perjalanan menuju gelar juara, Kerber menaklukkan dua mantan juara Australia Terbuka -- Victoria Azarenka di perempat final dan kemudian Williams.

"Impian saya menjadi nyata. Saya bekerja sepanjang hidup untuk ini," kata petenis Jerman itu kepada BBC. "Ini dua pekan yang menegangkan. Saya hampir kalah di putaran pertama dan sudah siap pulang ke Jerman. Sekarang saya mengalahkan Serena dan menjadi juara."

Bisa menyebut dirinya sendiri sebagai juara Grand Slam, menurut Kerber, "terdengar gila."

Tegar dalam kekalahan

Serena Williams (kiri) memberi selamat kepada Angelique Kerber.
Serena Williams (kiri) memberi selamat kepada Angelique Kerber.
© Made Nagi/EPA

Sementara Williams tampak tegar dalam kekalahannya. Begitu pertandingan usai, ia langsung memeluk Kerber dan senyum tampak menghiasi bibirnya saat menerima trofi untuk runner up.

"Selamat, Angie. Anda bermain sangat bagus, Anda layak mendapatkannya," kata Williams dalam pidato usai pertandingan seperti dikutip USA Today. "Anda menunjukkan yang terbaik dalam turnamen ini, jadi, biarkan saya menjadi yang pertama memberi selamat kepadamu, dan sungguh saya bahagia untuk Anda. Saya harap Anda menikmati momen ini."

Tahun lalu Williams sempat memutuskan istirahat empat bulan setelah kalah dari Roberta VInci pada semifinal AS Terbuka di bulan September, dan kini ia kembali gagal merebut gelar juara.

Pertanyaan mengenai kekuatan mental Williams pun muncul.

Tetapi ia segera menyanggahnya.

"Setiap saya masuk ke ruangan ini, semua berharap saya menang dalam setiap pertandingan," kata Williams kepada reporter dalam ruang wawancara utama, dinukil CNN. "Sebesar apapun keinginan saya untuk menjadi robot, saya bukan (robot). Saya mencobanya. Saya selalu melakukan yang terbaik."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.