PIALA ITALIA

Anti-taktik Inzaghi antar Lazio juara

Para pemain Lazio merayakan gelar juara Piala Italia setelah menundukkan Atalanta 2-0 di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (16/5/2019) dini hari WIB.
Para pemain Lazio merayakan gelar juara Piala Italia setelah menundukkan Atalanta 2-0 di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (16/5/2019) dini hari WIB. | Claudio Peri /EPA-EFE

Lazio memastikan diri lolos ke Liga Europa musim depan setelah menjuarai ajang Piala Italia (Coppa Italia). Lazio meraihnya berkat anti-taktik pelatih Simone Inzaghi untuk mengalahkan Atalanta 2-0 di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (16/5/2019) dini hari WIB.

Bagi Lazio, ini adalah gelar Piala Italia ketujuh seperti halnya Inter Milan. Hanya Juventus dan rival sekota AS Roma yang menjuarai Piala Italia lebih sering.

Lazio pun menandai terhentinya rentetan juara Juventus di ajang nomor dua setelah Serie A Liga Italia ini. Juventus yang menjuarai Serie A untuk kedelapan kali secara beruntun pada musim ini adalah jawara empat Piala Italia terdahulu.

Alhasil Lazio dan Juventus akan saling berhadapan dalam ajang Piala Super Italia tahun depan. Pada Piala Super Italia 2019, Juventus juara dengan mengalahkan AC Milan.

Adapun Lazio berhasil menjuarai Piala Italia musim ini berkat gol pemain pengganti Sergej Milinkovic-Savic pada menit ke-82 dan Joaquin Correa pada menit ke-90.

Lazio menggunakan pendekatan permainan keras untuk merusak permainan menyerang Atalanta. Dan taktik itu disambut pula oleh Atalanta.

Pertandingan berjalan keras dengan maraknya sejumlah jegalan oleh para pemain kedua tim. Statistik menunjukkan Lazio melakukan 15 pelanggaran, sementara Atalanta melanggar 11 kali.

Uniknya, wasit Luca Banti hanya mengeluarkan empat kartu kuning untuk Lazio dan dua kartu kuning untuk Atalanta. Sorotan terhadap wasit pun dikeluarkan pelatih Atalanta, Gian Piero Gasperini.

Ia mempertanyakan alasan Banti yang tidak memutuskan keterlibatan video asisten (VAR) setelah bola tembakan Marten de Roon mengenai tangan Bastos sehingga hanya mengenai tiang gawang sesaat sebelum Lazio unggul.

"Apakah VAR hanya bisa dipakai ketika berguna? Itu sudah jelas penalti dan kartu merah," ujar Gasperini dilansir BBC.

"Ini skandal! Ceritakan mengapa ini terjadi? Beri saya penjelasan," imbuh Gasperini yang kesal melihat kegagalan Atalanta meraih trofi juara pertamanya sejak 1963.

Namun, kegagalan Atalanta sebenarnya bukan disebabkan oleh kinerja wasit semata. Permainan keras Lazio membuat ketajaman Atalanta, tim kejutan Serie A musim ini, menguap karena emosi.

Permainan keras Lazio sebenarnya hanya cara untuk mematikan Josip Ilicic. Pemain asal Slovenia ini adalah jenderal lapangan Atalanta yang sudah mencetak 11 gol dan 7 assists di pentas Serie A musim ini.

Gasperini sebenarnya sudah berusaha memperbaiki permainan timnya pada babak kedua. Lazio dibuat tak berdaya pula untuk menyerang dengan zona pressing ketat.

Namun, emosi dan mental Atalanta yang sudah rusak akibat permainan keras Lazio hanya melahirkan 2 tembakan on target dan 7 upaya melenceng. Padahal Atalanta adalah tim tertajam di Serie A musim ini dengan 73 gol --bandingkan dengan sang juara Juventus yang "cuma" mencetak 69 gol hingga pekan ke-36.

Sementara Lazio dengan nyaman meraih 2 gol dari 4 upaya ke gawang Atalanta. Namun, Inzaghi membuktikan kehebatannya dalam membaca situasi.

Lazio sebenarnya kewalahan menghadapi Atalanta yang menguasai 51 persen permainan. Mereka lemah dalam ritme pertandingan yang cukup kencang.

Bahkan saat pertandingan masih dini, menit ke-24, Bastos sudah menerima kartu kuning. Inzaghi pun langsung menggantinya dengan Stefan Radu pada menit ke-36. Kehadiran Radu membuat pertahanan Lazio menjadi lebih seimbang.

Inzaghi kemudian membuat pergantian penting pada jatah terakhir dengan memainkan Milinkovic-Savic hanya sekitar empat menit sebelum mencetak gol. Keputusan Inzaghi dan keberhasilan pemain asal Serbia itu seolah menjawab kritikan dari suporter Lazio.

Maklum, pemain 24 tahun ini sebenarnya mampu mencetak 14 gol dan 8 assists pada musim lalu. Sempat diganggu cedera, Milinkovic-Savic bangkit tapi cuma bisa mencetak 5 gol dan 3 assists pada musim ini.

Inzaghi mengaku gembira melihat strateginya berhasil, termasuk soal pergantian pemain. "Saya katakan kepada anak-anak bahwa kadang kala penting siapa yang harus menggantikan. Ini malam yang indah di depan penonton mengagumkan," ujar bekas pemain Lazio ini kepada RAI Sport (h/t Calciomercato.com).

Sementara bagi Gasperini, mereka masih punya satu target untuk diamankan --tiket ke Liga Champions. Menyisakan dua laga Serie A, Atalanta saat ini berada di posisi empat klasemen sementara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR