Arti kejayaan Real Madrid bagi Spanyol, Zidane, dan Simeone

Kesebelasan Real Madrid mengangkat trofi ke-11 mereka di Liga Champions Eropa, Sabtu (28/5/2016)
Kesebelasan Real Madrid mengangkat trofi ke-11 mereka di Liga Champions Eropa, Sabtu (28/5/2016) | Daniel Dal Zennaro /EPA

Sebenarnya andai Atletico Madrid yang memenangi final Liga Champions di San Siro, Italia, Sabtu (28/5/2016), Spanyol tetap jemawa. Tapi keberhasilan Real Madrid menyisihkan rival sekota dan senegara itu punya arti lebih besar.

Madrid menyisihkan Atletico lewat babak penalti 5-3 setelah bermain 1-1 sepanjang 120 menit. Bagi Madrid, ini adalah trofi juara Liga Champions ke-11--klub paling sering menjuarainya dan satu-satunya klub yang mampu mengemas dua digit jumlah trofi.

Soal total gelar juara Madrid di ajang prestisius ini sesungguhnya diprotes sejumlah orang. Petisi di laman Change.org pada awal Mei lalu menyebut lima trofi Piala Champions yang diraih Madrid pada kurun 1955-56 dan 1959-60 tidak sahih.

Alasannya, seperti dilansir laman As, kompetisi Champions pada masa itu bukan asal sejarah Liga Champions masa kini. Namun petisi itu gagal memenuhi target 75 ribu tanda tangan dan ditutup ketika tanda tangan terkumpul 64.014.

Spanyol makin berhak menyandang gelar "terbaik di Eropa" --bila tak bisa disebut di dunia. Timnas Spanyol menjuarai tiga dari empat ajang terakhir antarnegara (juara turnamen Euro dua kali beruntun dan Piala Dunia 2010).

Sementara klub La Liga memenangi enam kompetisi antarklub Eropa dalam delapan tahun terakhir. Di Liga Champions, Madrid juara pada 2014--dengan mengalahkan Atletico pula--dan Barcelona pada 2015. Sedangkan Sevilla merajai Liga Europa pada kurun 2014-2016.

Manajer Liverpool Juergen Klopp, dikutip LA Times, mengakui bahwa Spanyol memang negara terbaik untuk urusan sepak bola. "Ada kombinasi pelatih bagus, pemandu bakat hebat, dan pendidikan yang bagus untuk para pemainnya," ujar manajer asal Jerman itu dalam konferensi pers awal bulan ini.

Kebetulan, Klopp ditundukkan Sevilla di final Liga Europa musim ini pekan lalu. Unai Emery yang mengalahkan Klopp hanya berujar normatif. Prestasi sejumlah klub Spanyol disebabkan semangat tinggi. "Mereka mampu mencapai level tertinggi sepak bola Eropa dan kami bisa menang atas tim yang lebih baik."

Di sisi lain, kesuksesan Madrid kali ini juga berarti kejayaan sang pelatih --Zinedine Zidane. Ditunjuk menjadi pelatih pengganti Rafael Benitez pada Januari lalu, Zidane membuat Madrid makin kuat.

Dalam waktu kurang dari lima bulan, Madrid hanya kalah dua kali dalam 27 pertandingan. Pria berusia 43 inipun menjadi pelatih pertama Prancis yang menjuarai ajang Liga Champions dan menjadi orang ketujuh yang berhasil meraih trofinya dalam dua kesempatan karier; pemain dan pelatih.

Dilansir kantor berita Associated Press (h/t Washington Post), Zidane mengaku "dimudahkan" oleh kualitas para pemainnya. "Kami punya kualitas. (Tapi) kerja keras lebih penting. Itu rahasia keberhasilan kami," katanya.

Di sisi lain, pelatih Atletico Diego Simeone harus menanggung kekecewaan lagi setelah 2014. Pelatih asal Argentina ini mengatakan timnya pulang untuk menyembuhkan luka.

Simeone menyatakan benar-benar kecewa karena gagal juara, bukan karena perjuangan para pemainnya yang sudah maksimal. Pelatih berusia 45 ini juga tidak menyalahkan Juanfran yang gagal mengeksekusi penalti.

Namun Simeone boleh jadi bakal hengkang dari Atletico setelah berada di klub itu sejak 2011. "Ketika Anda sudah memberikan segalanya dan ternyata tak cukup, itu sangat sulit. Saya tak tahu mana yang lebih sakit, final kali ini atau edisi 2014. Saya hanya simpati pada suporter yang mendukung. Saya berencana memikirkan masa depan di klub ini," katanya dikutip The Telegraph.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR