Manajer Leicester City Claudio Ranieri dan kapten Wes Morgan mengangkat trofi juara EPL 2015-16, 7 Mei 2016
Manajer Leicester City Claudio Ranieri dan kapten Wes Morgan mengangkat trofi juara EPL 2015-16, 7 Mei 2016 EPA / Simon Kimber
LIGA PRIMER INGGRIS

Apa resep sukses Leicester City menjuarai EPL 2015-16?

Manajer Claudio Ranieri adalah otak di balik kesuksesan langka Leicester City.

Leicester City adalah dongeng terhebat di kancah sepak bola dunia musim ini. Keberhasilan Leicester menjuarai Liga Premier Inggris musim 2015-16 disebut laman The Economist pada artikel edisi 2 Mei 2016, adalah kejutan terbesar dalam sejarah olahraga.

Sebenarnya, sepanjang sejarah sepak bola atau olahraga, Leicester bukan tim kejutan pertama. Kesebelasan nasional Yunani, misalnya, pernah menjuarai Euro 2004 meski peluang dari pasar taruhan hanya 150:1.

Atau di kompetisi baseball Amerika Serikat, Minnesota Twins pernah menjuarai World Series 1987 kendati kansnya hanya 500:1. Tapi Leicester mematahkan kemustahilan lebih dahsyat karena pada awal musim --sembilan bulan silam-- hanya mendapat peluang 5.000:1.

The Telegraph (2/5) menyebut peluang Leicester itu identik dengan taruhan untuk menemukan penyanyi Elvis Presley dalam kondisi hidup tahun ini. Tapi Leicester berhasil membalik kemungkinan 360 derajat.

Sejatinya, Leicester bukan hanya mengejutkan. Mereka juga punya kualitas untuk menjadi juara --setidaknya hanya pada musim ini bila melihat dua tahun lalu mereka masih bermain di divisi Championship (setingkat di bawah EPL).

Bahkan Leicester sebenarnya hanya klub gurem yang lebih sering wira-wiri EPL-Championship. Tapi mereka berhasil meraih gelar tertinggi dan terbaik untuk pertama kalinya selama 123 tahun sejarahnya.

Perjalanan indah sepanjang musim ini pun menghasilkan sejumlah rekor untuk catatan klub dari kota setara Pariaman, Sumatera Barat, itu. Berikut sebagian rekor yang dicatat kesebelasan asuhan Claudio Ranieri hingga musim kompetisi berakhir pada Minggu (15/5/2016).

  • Koleksi poin 81 adalah nilai tertinggi selama sejarah klub. Terdahulu, Leicester hanya mampu meraih nilai tertinggi 55 --musim 1999-2000.
  • Tiga kekalahan yang diderita adalah rekor paling sedikit. Catatan terbaik sebelumnya terjadi pada musim 1997-98; 11 kekalahan.
  • Untuk pertama kali, Leicester pernah mengemas 10 kemenangan beruntun dan dilakukan dalam dua kesempatan.
  • Leicester mencetak gol paling banyak sepanjang sejarah dalam satu musim; 68 gol. Rekor terdahulu dicetak pada musim 1999-2000; 55 gol.

Rekor juga bukan hanya dibuat secara kolektif (kesebelasan). Di sektor individu, misalnya, striker Jamie Vardy juga berkalung rekor.

Pemain timnas Inggris itu menyamai rekor Ruud van Nistelrooy dan Daniel Sturridge yang mampu mencetak gol dalam delapan pertandingan beruntun di EPL. Vardy juga pemain kedua Leicester yang mampu mencetak 24 gol dalam satu musim kompetisi sejak putra daerah Leicester, Gary Lineker, melakukan itu pertama kali pada musim 1984-85.

Namun sayang Vardy gagal menyamai rekor lain Van Nistelrooy yang dicatat ketika membela Manchester United (MU); selalu mencetak gol pada 10 laga pamungkas musim 2002-03 dan awal musim 2003-04. Kartu merah bagi Vardy pada pertandingan 17 April lalu membuat pemain berusia 29 ini tak bisa memainkan laga sisa dengan lengkap.

Tetapi Vardy pemegang rekor tunggal; pemain pertama di EPL yang mampu mencetak gol dalam sembilan laga beruntun pada satu musim.

Ketajaman Vardy jelas menjadi salah satu penentu kesuksesan Leicester. Memiliki pemain, terutama penyerang, yang mampu mencetak minimal 20 gol dalam satu musim akan membuka peluang (menuju juara).

Itu adalah syarat tak tertulis di kompetisi profesional manapun. Lihatlah Tottenham Hotspur yang mampu bersaing dengan Leicester di jalur juara, bahkan hingga pekan ke-36, lantaran punya Harry Kane.

Kolega setimnas Vardy ini bahkan menjadi pencetak gol (top scorer) terbanyak di EPL musim ini; 25 gol --unggul satu gol dari Vardy dan Sergio Aguero (Manchester City).

Liverpool juga pernah nyaris juara ketika masih memiliki penyerang Luis Suarez pada musim 2013-14. Saat itu pemain dari Uruguay, yang sekarang membela Barcelona, ini menjadi top scorer EPL dengan 31 gol.

Jami Vardy, mesin gol Leicester City musim 2015-16
Jami Vardy, mesin gol Leicester City musim 2015-16 | Peter Powell /EPA

Persoalannya sekarang, bagaimana Leicester tiba-tiba bisa sedemikian bermutu. Bahkan hingga 2012, Vardy hanya pemain sepak bola semi profesional. Di sela-sela bermain sepak bola bersama Fleetwood Town, ayah seorang putri ini bekerja sebagai montir peralatan kesehatan.

Sementara di kursi pelatih Leicester hanya ada veteran Italiano, Claudio Ranieri. Di blantika pelatih, Ranieri bukan pelatih buruk --tapi juga bukan pelatih jaminan prestasi nan berkualitas seperti Jose Mourinho atau Pep Guardiola.

Bahkan dibandingkan kompatriot senegara, Ranieri masih di bawah mister Fabio Capello, Marcello Lippi, atau Carlo Ancelotti. Prestasi tertinggi pelatih gaek berumur 64 tahun itu adalah mengantar Valencia juara Piala Intertoto UEFA 1998 dan Piala Super Eropa 2004. Dia lebih dikenal sebagai Mr Runnes-up.

Tapi boleh jadi justru di situ berkahnya. Dipecat timnas Yunani pada November 2014, Ranieri yang pernah menangani 16 klub itu langsung dipinang Leicester pada musim panas 2015. Dia cuma mendapat satu target dari manajemen klub; bertahan di EPL alias tidak degradasi.

Kenyataannya, Ranieri justru jauh melampaui target itu. Pada awal musim, dia menetapkan target pribadi --poin minimal untuk direbut; 40! Tapi sekarang Leicester punya nilai 81.

Ranieri pasti tidak pernah menyangka. Tinman, julukannya yang sekarang ditinggalkan, juga tak pernah mencanangkan Leicester masuk empat besar --apalagi mengincar gelar juara.

Ranieri paham bahwa kesebelasannya, jika dipikir secara lazim, seolah bak pungguk merindukan bulan. Tidak mumpuni buat juara. Apalagi Leicester memasuki musim 2015-16 setelah selamat dari ancaman degradasi musim sebelumnya.

Sebagai gambaran lain, Leicester adalah kesebelasan dengan anggaran gaji pemain paling kecil di kelompok enam besar EPL musim ini; GBP48 juta atau sekitar Rp900 miliar. Beruntun di bawahnya adalah; Spurs GBP111 juta, Arsenal GBP192 juta, Manchester City GBP194 juta, MU GBP203 juta, dan West Ham GBP70 juta.

Bukan rahasia bahwa besaran anggaran gaji bisa menggambarkan apakah di dalam skuat ada pemain bintang/mahal atau tidak. Jadi bila pos gaji Leicester cukup mini bisa dipastikan tak ada bintang di dalam skuat Ranieri.

Anggaran gaji yang besar juga memungkinkan klub punya skuat dengan keterampilan merata sehingga pelatih bisa melakukan rotasi pemain dari pekan ke pekan. Apalagi bila klub itu bermain di tiga ajang berbeda dalam semusim.

Menurut The Telegraph, Ranieri sebenarnya bukan pilihan pertama penerus Nigel Pearson di Leicester. Klub itu justru mendekati pelatih berpengalaman lainnya, Martin O'Neill.

Tapi O'Neill memilih tetap menangani timnas Republik Irlandia. Leicester kemudian mempertimbangkan pelatih berprofil tinggi, Guus Hiddink.

Namun ketika seorang agen bernama Steve Kutner mengirim CV Ranieri ke Leicester, seketika Leicester berubah pikiran. Kutner sebenarnya bukan agen Ranieri tapi mereka cukup akrab sejak 2001 ketika Chelsea merekrut Frank Lampard.

Claudio Ranieri, membuat pertahanan Leicester bak tembok kokoh
Claudio Ranieri, membuat pertahanan Leicester bak tembok kokoh | Nigel Roddis /EPA

Ranieri adalah kunci

Jadi, apa resep Leicester bisa seperti sekarang? Ada empat faktor untuk menjawabnya.

Pertama, keberuntungan jadwal. Mau tak mau, faktor ini perlu dihitung.

Tiga belas pertandingan awal Leicester "cuma" melawan sebagian besar kesebelasan menengah-bawah. Rentetan enam kemenangan mereka sempat dihentikan Arsenal pada pekan ketujuh. Leicester menyerah 2-5.

Tapi ternyata kekalahan itu tak berpengaruh banyak pada performa Leicester berikutnya. Unsur kejutan Leicester bercampur dengan performa sebagian klub mapan yang lambat panas bak mesin diesel.

MU ditahan 1-1, Chelsea dipukul 2-1, dan Man City ditahan tanpa gol. Bagi klub seperti Leicester, bisa mencuri lima poin dari tiga klub langganan empat besar sudah pasti memupuk kepercayaan diri. Mental makin teguh.

Kedua, pendekatan kekeluargaan Ranieri. Ini memang sedang tren di kalangan pelatih masa kini (di Eropa).

Menurut Kasper Schmeichel, kiper Leicester, Ranieri ibarat ayah bagi para pemain. Dia menerapkan sistem hadiah ketika kesebelasan menang atau tidak kebobolan.

Hadiahnya pun tidak mewah, melainkan cuma traktiran biasa; pizza dan bir. Kelihatannya remeh. Tapi bagi kalangan masyarakat barat, mentraktir dalam rangka momen istimewa adalah budaya.

Pendekatan kekeluargaan juga dilakukan sejumlah pelatih lain. Juergen Klopp di Liverpool dengan kebiasaan memeluk para pemainnya baik menang maupun kalah. Manuel Pocchetino di Tottenham Hotspur atau Diego Simeone di Atletico Madrid.

Tapi Ranieri melakukan pendekatan yang jarang dilakukan pelatih lain. Dia tidak merombak kesebelasan Leicester terlalu banyak. Schmeichel mengungkapnya.

"Dia menahan diri untuk mengubah segalanya (di sini). Itu biasanya dilakukan banyak manajer, membawa stafnya sendiri, dan melakukan segalanya sesuai preferensi pribadi," ujar kiper asal Denmark itu.

Pada pekan pertama, Ranieri hanya datang memperkenalkan diri dan kemudian menonton para pemainnya berlatih. Satu kunci yang dipegang Ranieri adalah kesebelasannya sudah kompak dan saling mengenal dengan baik. Itu sebabnya tak ada alasan baginya untuk merombak skuat.

Ketiga, peran Steve Walsh --asisten manajer dan pemandu bakat Leicester. Pelatih berusia 51 ini adalah otak di balik perekrutan Vardy, Riyad Mahrez dan N'Golo Kante.

The New Yorker menyebut keahlian Walsh adalah praktik Moneyball; beli pemain berharga relatif murah tapi berkualitas tinggi. Satu dari sedikit klub yang melakukan itu adalah jawara Serie A, Juventus.

Keempat sekaligus terakhir, tentu saja unsur taktik. Lantaran skuatnya punya kualitas relatif terbatas, Ranieri menempuh pendekatan permainan nan pragmatis.

Leicester bermain sesuai lawan. Tapi secara keseluruhan tidak mengumbar serangan dan fokus pada pertahanan. Ranieri hanya membuat Leicester memainkan zonal marking ketat dan disiplin pada posisi masing-masing saat sedang kehilangan bola.

Instruksi Ranieri adalah para pemain bertahannya turun hingga dalam dan membiarkan musuh menguasai bola.

Penyerang Watford, Troy Deeney, pernah menunjukkan betapa pertahanan Leicester sangat sulit dibongkar. Pemain berusia 27 ini mengatakan Leicester nyaris tak pernah membuka lubang karena Robert Huth dan kapten Wes Morgan tidak pernah meninggalkan jantung pertahanan. Dan dua pemain ini adalah bak menara kembar.

"Saat Watford mendapat bola di area sayap, Leicester seolah membiarkan kami melepas bola silang. Huth dan Morgan punya dua posisi berbeda; seorang berdiri di dekat gawang dan seorang lainnya berdiri di tengah kotak penalti," kata Deeney kepada BBC.

Leicester pun seperti halnya Atletico Madrid yang mengandalkan pertahanan super kuat untuk kemudian berbalik melepas serangan balik nan cepat. Kebetulan Ranieri dan pelatih Atletico Diego Simeone menggunakan nafas taktik yang sama; permainan pressing dan pendek merapat ala Arrigo Sacchi --arsitek kesebelasan hebat AC Milan pada era 80-90.

Data statistik menunjukkan, Leicester justru kehilangan taji apabila membangun serangan dengan lambat. Tapi sebaliknya apabila membangun serangan balik nan cepat.

Padahal pola serangan balik itu "cukup sederhana." Kante menjadi penahan dan sekaligus perebut bola untuk diserahkan kepada Danny Drinkwater atau Sjinji Okazaki. Setelah itu bola dioper kepada Riyad Mahrez dan berakhir pada Vardy. Kebetulan Kante, pemain berusia 25 asal Prancis, adalah pemain paling banyak melakukan penjegalan dan interceptions paling banyak di EPL musim ini.

N'golo Kante, otak di balik awal serangan balik Leicester City
N'golo Kante, otak di balik awal serangan balik Leicester City | Tim Keeton /EPA

Kemampuan serangan balik Leicester bukan hanya soal kecepatan, tapi bagaimana mereka melakukan tranformasi dari bertahan ke menyerang dengan halus.

Ranieri tidak mengubah gaya permainan ala Pearson pada musim lalu. Leicester tetap menggunakan 4-5-1, 4-4-2, dan 3-5-2. Khusus skema terakhir, Ranieri menggunakannya untuk serangan balik.

Ranieri hanya menggunakan sedikit pemain saat melakukan serangan balik. Secara umum, ini bisa membatasi keberhasilan serangan, tapi pada saat bersamaan justru meminalisasi double-counter (ketika serangan balik Anda gagal dan kemudian musuh membalas lewat serangan balik pula).

Yang terakhir, Leicester juga menggunakan permainan langsung (direct ball). Ini bisa dimaklumi karena Leicester tak punya pemain yang mampu menahan bola cukup lama atau ahli mengoper bola dari posisi deep-lying-midfield --misalnya seperti Cesc Fabregas di Chelsea.

Kebetulan, Leicester punya sejumlah pemain yang ahli bermanuver dengan bola daerah dan bola lambung. Mereka adalah Okazaki, Leonardo Ulloa, Mahrez, dan Vardy.

Uniknya, dengan segala resep itu, duta besar Leicester selama 40 tahun Alan Birchenall justru tidak pernah menganggap kesuksesan ini adalah dongeng. Birchenall merujuk pada kisah dongeng Walt Disney yang punya naskah.

Maksud eks pemain berusia 70 itu, semua naskah kesuksesan di atas lapangan diciptakan Ranieri. "Dia patut diabadikan dengan patung di tengah kota. Prestasinya musim ini sungguh tindakan ksatria," ujar Birchenall.

BACA JUGA