COPA AMERICA

Argentina tantang Brasil

Giovani Lo Celso (kanan) mencetak gol untuk Argentina demi mengalahkan Venezuela 2-0 sehingga melaju ke semifinal Copa America 2019 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil Sabtu (29/6/2019) dini hari WIB.
Giovani Lo Celso (kanan) mencetak gol untuk Argentina demi mengalahkan Venezuela 2-0 sehingga melaju ke semifinal Copa America 2019 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil Sabtu (29/6/2019) dini hari WIB. | Antonio Lacerda /EPA-EFE

Argentina melaju ke semifinal Copa America 2019 dan akan menantang tuan rumah Brasil. Argentina lolos usai mengandaskan Argentina 2-0 dalam laga perempat final di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil Sabtu (29/6/2019) dini hari WIB.

Sedangkan Brasil, kemarin (28/6), melangkah ke empat besar setelah menaklukkan Paraguay 4-3 melalui adu penalti. Pada 120 menit sebelumnya, kedua tim bermain 0-0.

Di Maracana, yang sempat menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia, Argentina relatif tak punya kesulitan menghadapi Venezuela. Padahal La Albiceleste punya kenangan buruk di Maracana ketika kalah 0-1 dari Jerman dalam final Piala Dunia 2014.

Venezuela tentu berbeda dengan Jerman. Dalam 90 menit, Venezuela hanya tiga kali berusaha mencetak gol dan cuma satu yang mengancam gawang Franco Armani. Tembakan Ronald Hernandez dari jarak dekat berhasil diblok kiper River Plate itu.

Selain tak bergigi di lini depan, Venezuela sedang compang-camping di lini pertahanan. Pelatih Rafael Dudamel tak bisa menurunkan dua bek sentral utama. Mikel Villanueva menderita demam dan Yordan Osorio cedera otot.

Tidak heran, pertahanan Venezuela begitu rapuh sejak menit awal. Bahkan Argentina mampu memanfaatkannya untuk mencuri gol pada menit ke-10 melalui aksi Lautaro Martinez yang meneruskan bola tembakan Sergio "Kun" Aguero.

Lini belakang yang belum berpengalaman dilengkapi oleh penampilan semenjana kiper muda Wuilker Farinez. Pemain 21 tahun ini melakukan blunder saat berusaha menahan bola tendangan Aguero, sehingga rebound berhasil dimanfaatkan Giovani Lo Celso untuk gol kedua pada menit ke-75.

Sebenarnya Venezuela beruntung tidak kalah lebih dari dua gol. Argentina yang menguasai permainan juga sulit untuk mendapatkan peluang emas karena Venezuela jarang memberi ruang tembak. Meski begitu, menurut catatan BBC, Lionel Messi dkk. mampu melepas tujuh tembakan ke gawang dari total 17 upaya.

Satu penyebab, seperti juga ditunjukkan Argentina sejak laga pertama Copa America 2019, adalah kolektivitas tim yang tak cukup efektif. Dalam laga melawan Venezuela; trio Martinez, Messi, dan Aguero di lini depan, justru jarang berada di depan setiap saat.

Aguero lebih sering berada di lebar lapangan untuk memutus alur serangan Venezuela (defensive forward). Akibatnya, jarak Aguero dengan lini depan menjadi lebih lebar.

Sementara para pemain Venezuela berusaha menekan garis pertahanan Argentina menjadi lebih dalam walau tak banyak menghasilkan ancaman. Bagi Argentina, ini menyulitkan transisi untuk menekan Venezuela karena minimnya dukungan dari lini ketiga dan kedua.

Itu sebabnya, pelatih Lionel Scaloni mengganti Martinez dengan Angel Di Maria pada menit ke-64. Kehadiran Di Maria berguna untuk keperluan seranga balik dan itu berhasil dengan terciptanya gol kedua.

Apapun, Scaloni patut gembira dengan penampilan Armani dan Martinez. Apalagi dua pertandingan berhasil dilewati tanpa kebobolan saat Messi belum juga menunjukkan kehebatannya sebagai pemain terbaik dunia.

Messi sejauh ini baru mencetak satu gol dan itu pun dari titik penalti saat bermain 1-1 dengan Paraguay dalam fase grup lalu. Bintang klub Barcelona ini mengakui belum berhasil menjalani Copa America 2019 dengan seharusnya.

Namun, dilansir Omnisport (h/t Sportskeeda), kapten Argentina ini mengatakan yang terpenting timnya lolos ke semifinal. Messi pun berkilah lapangan di Brasil sejauh ini cukup buruk.

"Sulit bermain di lapangan yang buruk. Memalukan melihat semua lapangan Copa America seperti ini," tutur pemain yang belum lama berulang tahun ke-32 ini.

Kolombia tersisih

Pada pertandingan lain, Kolombia harus rela mengepak koper lebih dini setelah kalah adu penalti 4-5 dari Cile. Bermain di Arena Corinthians, kedua tim bermain 0-0 selama 120 menit.

Pada babak adu penalti, eksekutor terakhir Kolombia William Tesillo gagal menjalankan tugasnya. Sementara algojo pamungkas Chile, Alexis Sanchez, memastikan kemenangan.

Bagi Kolombia, ini adalah antiklimaks. Skuat asuhan Carlos Queiroz ini cukup produktif pada fase grup dengan mencetak empat gol dalam tiga laga, termasuk mengalahkan Argentina 2-0. Bahkan gawang mereka tak pernah kebobolan selama masa normal.

Demikian pula Cile yang mampu mengemas enam gol selama fase grup. Namun, Cile punya pengalaman dan tangguh ketika menjalani babak adu penalti.

Hal itu dikatakan oleh gelandang Charlez Aranguiz. Chile menjuarai edisi 2015 dan 2016 dengan mengalahkan Argentina melalui adu penalti.

Adapun pada semifinal nanti, Chile --yang harus memulai laga di Corinthians terlambat 20 menit karena pelatih Reinaldo Rueda terhambat kemacetan kota Sao Paulo-- akan menghadapi Uruguay atau Peru. Kedua tim baru bermain pada Sabtu (29/6) ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR