KOREA OPEN

Asa Indonesia di tunggal putra

Final Korea Open 2017 antara Anthony Sinisuka Ginting vs Jonatan Christie pada Minggu (6/9/2017). Pada kejuaraan sama tahun ini, tunggal putra menjadi tumpuan.
Final Korea Open 2017 antara Anthony Sinisuka Ginting vs Jonatan Christie pada Minggu (6/9/2017). Pada kejuaraan sama tahun ini, tunggal putra menjadi tumpuan. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Ada sesuatu yang beda pada perhelatan Victor Korea Open 2018. Bila biasanya di sejumlah kejuaraan bulu tangkis internasional Indonesia mengandalkan nomor ganda, tidak demikian dengan turnamen yang memiliki level BWF World Tour Super 500 tersebut.

Kini, asa tersebut ada di pundak nomor tunggal, tepatnya tunggal putra. Hal ini disebabkan tiga hal. Pertama, tidak turunnya lapis pertama nomor ganda anak-anak Cipayung, sebutan untuk markas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia.

Pemain-pemain macam Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra), Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran), dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda putri) tak dibawa ke kejuaraan yang menyediakan hadiah total 600.000 dolar AS (Rp8,9 miliar).

Pasal kedua, tunggal putra Indonesia kini tengah dihinggapi aura positif. Para pemain inti di nomor tersebut, belakangan ini meraih hasil apik. Jonatan "Jojo" Christie berhasil meraih emas di Asian Games 2018.

Lantas, Anthony Sinisuka Ginting baru saja menggondol gelar China Open 2018 pada akhir pekan kemarin. Dan, di waktu yang hampir bersamaan dengan kemenangan Anthony, Ihsan Maulana Mustofa juga memenangi Indonesia Masters 2018.

Dan, berbeda dari nomor-nomor lainnya, PBSI membawa ketiga nama tersebut untuk mengarungi turnamen bulu tangkis paling bergengsi di Korea. Plus Tommy Sugiarto yang ambil bagian sebagai pemain profesional, artinya ada empat wakil Indonesia untuk tunggal putra.

Musabab terakhir, Indonesia memiliki capaian cukup manis dalam beberapa edisi terakhir Korea Open. Setidaknya, sejak 2015, ada tiga wakil Indonesia yang juara di sana. Yakni, Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii (2015), Praveen Jordan/Debby Susanto (2017), dan Anthony (2017).

Sejauh ini, ada 12 wakil Indonesia yang terdaftar ikut di Korea Open. Setidaknya, itu tercatat di laman resmi BWF hingga Senin (24/9/2018) malam.

Selain nomor tunggal yang telah disebut di atas, mereka adalah: Lyanny Alessandra Mainaky (tunggal putri); Akbar Bintang Cahyono/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani (ganda putra); Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta dan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani.

Lalu, empat pemain ganda campuran: Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Ronald Alexander/Annisa Saufika, dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.

Sebenarnya, ada satu pemain Indonesia lain yang turun di kejuaraan tersebut, yakni Rusydina Antardayu Riodingin. Nama terakhir ini main di ganda campuran bersama atlet asal Malaysia, Mohamad Arif Ab Latif Arif.

Jalan cukup terjal

Dari semua pemain Merah-Putih tersebut, tak heran bila tumpuan gelar berada di tunggal putra. Selain prestasi, indikator lain bisa dilihat dari sisi unggulan kejuaraan. Dari empat wakil yang turun, dua di antaranya ditempatkan sebagai unggulan.

Mereka adalah Anthony (unggulan tujuh) dan Tommy (unggulan delapan). Sedangkan dari nomor lain, Hafiz/Gloria menempati unggulan empat dan Della/Rizki unggulan tujuh. Hanya empat pemain itu saja yang diprediksi mampu mengangkat trofi mewakili Indonesia.

Meski demikian, jalan mereka untuk menjadi kampiun bukan perkara mudah. Sebab, sejumlah negara menurunkan para pemain intinya. Misalnya di nomor tunggal putra.

Viktor Axelsen (Denmark/unggulan pertama), Kento Momota (Jepang/kedua), Son Wan Ho (Korea Selatan/ketiga), dan Chou Tien Chen (Taiwan/keempat), juga ikut meramaikan Korea Open 2018.

Pada China Open 2018 kemarin, kecuali Son, Anthony mengalahkan mereka untuk menjadi juara. Sedangkan pada kejuaraan ini, perjalanan Anthony cukup mudah. Di babak pertama, dia akan bertemu wakil Prancis, Lucas Corvee.

Lawan tangguh juara bertahan Korea Open 2017 itu baru terjadi bila ia masuk ke babak perempat final. Chou, bila mulus melangkah, akan mengganjal Anthony di babak delapan besar.

Meski memiliki kans untuk melaju jauh dan telah mengalahkan musuh-musuh hebat di China Open 2018, tapi Anthony tak ingin terlena. "Generasi muda tunggal putra saat ini banyak sekali yang bagus, Momota, Axelsen, Shi Yuqi, dan masih banyak lagi," ucapnya dalam Badmintonindonesia.org.

Sedangkan Jojo, sudah harus bertemu lawan kuat di babak pertama. Ia kudu meladeni pemain andalan Jepang, Kanta Tsuneyama. Nama terakhir ini memang bukan unggulan. Namun, ia telah menjuarai Thailand Open 2018, kejuaraan dengan level BWF World Tour 500.

Untuk ganda campuran, "perang saudara" kemungkinan bakal tersaji di babak awal. Bila Hafidz/Gloria dan Praveen/Melati mampu melewati lawan-lawannya di babak pertama, mereka akan bertemu di babak kedua.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susi Susanti, menilai, turnamen di Jepang dan di Tiongkok yang berlangsung dalam dua pekan terakhir menjadi catatan penting bagi timnya.

Khusus di sektor tunggal putra, apresiasi ia berikan kepada Anthony setelah menjadi juara. “Sedangkan bagi Jojo, konsistensi dia agak kacau,” ujarnya dalam JPNN. Mantan ratu bulu tangkis itu berharap tunggal putra Indonesia meraih hasil positif di Korea Open.

BACA JUGA