ASIAN PARA GAMES 2018

Asian Para Games sepi hiruk pikuk

Patung Soekarno di salah satu sudut kompleks olahraga GBK pada Selasa (9/10/2018) sore WIB. Pada Asian Games, sudut tersebut menjadi salah satu tempat favorit masyarakat berkumpul. Kini, tampak sangat lengang.
Patung Soekarno di salah satu sudut kompleks olahraga GBK pada Selasa (9/10/2018) sore WIB. Pada Asian Games, sudut tersebut menjadi salah satu tempat favorit masyarakat berkumpul. Kini, tampak sangat lengang. | Andya Dhyaksa /Beritagar.id

Mentari baru saja akan kembali ke peraduannya. Jarum jam menunjukkan sekira pukul 17.30 WIB pada Selasa (9/10/2018). Hari itu, suasana lengang mewarnai Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat.

Kondisi ini sebenarnya cukup miris. Pasalnya, saat ini adalah hajat besar Asian Para Games 2018 -- ajang olahraga terakbar di Asia untuk atlet berkebutuhan khusus.

Bila Anda bandingkan pada jam yang sama sekitar pertengahan Agustus hingga awal September lalu ketika Asian Games digelar, pemandangan kontras akan tersaji. Sementara Asian Para Games 2018 jauh dari hiruk pikuk alias sepi.

"Miris sebenarnya. Saat Asian Games ramai banget di sini. Sekarang sepi," ucap Vero, salah seorang pengunjung, kepada Beritagar.id, Selasa (9/10) sore.

Vero jelas tak tahu mengapa kondisi ini terjadi. Namun, ia memprediksi promosi pihak terkait kurang. Misalnya pemerintah atau Inapgoc--panitia penyelenggara Asian Para Games 2018.

"Coba saja Anda lihat, jarang sekali spanduk Asian Para Games. Iklan-iklan juga nggak terlihat," kata perempuan yang tinggal di Jakarta Utara tersebut.

Meski sepi, sebenarnya jumlah kunjungan per Selasa (9/10) kemarin sudah lebih baik ketimbang Senin (8/10). Sepanjang pengamatan Beritagar.id, hanya segelintir masyarakat yang berkunjung pada Senin.

Stadion Utama GBK, tampak sangat lengang. Padahal, Senin malam, sejumlah atlet Indonesia dari cabang atletik, banyak yang bertanding. Bahkan seorang di antaranya, Sapto Yogo Purnomo, berhasil meraih medali emas dari nomor 200 meter kategori T37.

Tempat api abadi Asian Games dan Asian Para Games di kompleks olahraga GBK, Selasa (9/10/2018) sore WIB. Kini kondisinya sepi, meski waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja. Saat Asian Games berlangsung tempat ini ramai dikunjungi masyarakat.
Tempat api abadi Asian Games dan Asian Para Games di kompleks olahraga GBK, Selasa (9/10/2018) sore WIB. Kini kondisinya sepi, meski waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja. Saat Asian Games berlangsung tempat ini ramai dikunjungi masyarakat. | Andya Dhyaksa /Beritagar.id

Psikolog dari Q Consulting, Rena Masri, punya pendapat berbeda dari Vero. Kepada Tempo.co, Rena mengatakan ada perasaan "tak tega" dari masyarakat yang membuat mereka enggan datang ke Asian Para Games.

"Masih ada orang yang kasihan melihat teman-teman difabel," ucap Rena.

Perasaan seperti ini, kata Rena, seharusnya dihilangkan. Sebab, semakin banyak orang yang menonton pertandingan, katanya, atlet akan semakin bersemangat karena mendapatkan dukungan yang lebih besar.

Pendapat terakhir Rena inilah yang diharapkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Menurut Imam, kehadiran masyarakat di arena pertandingan akan membuat atlet yang bertanding semakin bersemangat.

"Kontingen Indonesia masih haus medali dan akan terus bertanding sebaik-baiknya. Jangan biarkan atlet berjuang sendirian. Sudah menjadi kewajiban kita untuk mendukung langkah para pahlawan," kata Imam kepada Antara (h/t Liputan6.com)

Inapgoc pun menyadari hal ini. Ketua Umum Inapgoc, Raja Sapta Oktohari, pun telah memiliki cara untuk mengatasi hal ini. Salah satunya menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah di Jakarta.

"Kami telah berkoordinasi dengan beberapa sekolah untuk mendatangkan para pelajar," kata Okto dalam keterangan pers yang diterima media. "Ini untuk menyemangati para peserta, terutama kontingen Indonesia."

Cita-cita Risal

Mungkin, sebagian masyarakat Ibu Kota tidak tertarik menonton Asian Para Games 2018. Atau mungkin pula mereka tidak memiliki waktu untuk menyaksikan para pahlawan lapangan hijau berkebutuhan khusus tersebut beraksi.

Namun, semua hal itu tidak berlaku bagi Risal Anssor. Lelaki yang mobilitas hariannya menggunakan kursi roda itu rela datang jauh-jauh dari tempat tinggalnya di Ternate, Maluku Utara, untuk menyaksikan Asia Para Games di Jakarta

"Ini acara besar untuk masyarakat disabilitas. Amat disayangkan untuk dilewatkan," ucap Risal.

Selama di Jakarta, Risal tidak hanya mendukung para saudaranya bertanding. Dia juga ingin mempelajari bagaimana mengemas acara olahraga untuk penyandang disabilitas.

"Sehingga nanti ilmunya bisa memperbaiki kualitas penyelenggaraan olahraga teman-teman disabilitas di kota Ternate," ucapnya. "Dulu Jakarta jauh dari kata nyaman untuk kami. Kota ini mulai berbenah dan sekarang saya tak lagi kesulitan menggunakan transportasi umum."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR