KEJUARAAN DUNIA 2019

Atlet bulu tangkis dan para bulu tangkis raih bonus Rp3,54 miliar

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (kiri) dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto tengah memperlihatkan medali di Kejuaraan Dunia 2019 di Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019) waktu setempat.
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (kiri) dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto tengah memperlihatkan medali di Kejuaraan Dunia 2019 di Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019) waktu setempat. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Usaha dan kerja keras tak akan pernah mengingkari hasil akhir. Tak peduli siapa pun pelakunya, mau tua atau muda; kaya atau miskin; atau --maaf-- mereka yang dianugerahi kelengkapan fisik maupun dengan segala keterbatasannya.

Itu yang dapat dilihat dari acara di lobi gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2019) siang. Pemerintah memberikan bonus kepada para atlet berprestasi yang bertanding di ajang Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis dan Para-Badminton 2019 di Basel, Swiss. Total ada 15 atlet dan lima pelatih yang diguyur bonus oleh pemerintah atas jasanya di ajang tersebut.

"Bangsa Indonesia hari ini benar-benar berbahagia. Bersama dengan ulang tahun Indonesia ke-74, para atlet kita menyumbang medali untuk Indonesia," kata Imam Nahrawi, Menteri Pemuda Olahraga, pada acara itu.

Wajar Imam mengatakan hanya atlet. Pasalnya, tidak hanya peraih medali emas saja yang akan diberikan. Pun juga dengan perak dan perunggu.

Untuk nomor bulu tangkis, ada ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan peraih emas serta Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang masing-masing meraih perunggu.

Sedangkan di nomor para-bulu tangkis, ada nama-nama seperti Deva Anrimusthi, Leani Ratri Oktila, Hari S, Hafiz B, Suryo Nugroho, Khalimatus sa’diyah, Fredy Setiawan, Ukun Rukaendi, dan Hary Susanto.

Mereka semua, termasuk lima pelatih, diberi bonus oleh negara dengan total uang hingga Rp3,54 miliar. Tentu, jumlah tersebut terhitung "kecil" jika dibandingkan dengan bonus emas Asian Games 2018 yang mencapai Rp1,5 miliar per atlet.

Namun, "Jangan lihat nominal, tapi kesungguuhan pemerintah dalam melihat usaha para atlet," ucap menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Dengan bentuk perhatian pemerintah ini, Imam berharap, para atlet dapat lebih bersemangat dalam menatap kejuaraan-kejuaraan ke depannya. Pasalnya, para atlet tengah dihadapkan pada satu acara olahraga besar kurang dari setahun lagi.

Pada awal Agustus 2020, Jepang akan menyelenggarakan kejuaraan multi-cabang Olimpiade dan Paralympic di Tokyo. Bonus dari pemerintah ini, yang diharapkan Imam, menjadi pendorong semangat para atlet.

"Saya harapkan, bulu tangkis dapat menjaga tradisi emasnya. Semoga, ini juga bisa menjadi penyemangat cabang olahraga lain agar bisa lebih terpacu, seperti sepak bola," kata Imam.

Pada acara tersebut, sorotan khusus patut diberikan kepada Ahsan/Hendra. Pasalnya, pasangan gaek tersebut menjadi satu-satunya penyumbang emas bagi kontingen bulu tangkis Indonesia di Swiss.

Bukan hanya itu yang menjadi satu-satunya alasan. Sejak keluar dari pelatnas bulu tangkis PBSI per 2019 ini, mereka pun harus membiayai diri sendiri untuk segala kebutuhan kejuaraan, termasuk tiket dan akomodasi.

Hendra mengatakan, bonus dari pemerintah ini akan ia gunakan untuk membiayai berbagai kejuaraan ke depannya. Sisanya, baru ditabung. "Ya untuk sekarang ditabung dulu," kata Hendra yang diamini Ahsan.

Lantas, apakah pemerintah tidak ingin membantu pembiayaan Ahsan/Hendra, mengingat pada tahun ini saja mereka telah mengantongi dua gelar bergengsi, Kejuaraan Dunia dan All England?

"Kalau sudah masuk tim pelatnas untuk Olimpiade, itu akan masuk dalam pemerintah. Kalau sekarang-sekarang ini, mungkin kesempatan baik bagi swasta untuk berkontribusi bagi bro Ahsan dan Hendra," ucap Imam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR