LIGA PRIMER INGGRIS

Awal musim terburuk Setan Merah dalam 20 tahun terakhir

Ekspresi pelatih Manchester United  Ole Gunnar Solskjaer usai pertandingan EPL melawan Arsenal yang berakhir imbang 1-1 di Old Trafford, Manchester, Inggris (30/9/2019).
Ekspresi pelatih Manchester United Ole Gunnar Solskjaer usai pertandingan EPL melawan Arsenal yang berakhir imbang 1-1 di Old Trafford, Manchester, Inggris (30/9/2019). | Peter Powell /EPA-EFE

Setan Merah terpuruk. Untuk pertama kali dalam 20 tahun, mereka tak berhasil mengumpulkan dua digit angka usai menjalani tujuh pertandingan Liga Primer Inggris (EPL). Namun pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, menepis anggapan bahwa pasukannya tengah tenggelam.

Hasil imbang 1-1 dengan Arsenal di Old Trafford, Selasa (1/10) dini hari WIB, membuat United baru mengumpulkan 9 poin dari 7 pertandingan dan menempati peringkat ke-10 klasemen. Pada musim 1989-90, saat terakhir gagal merebut dua digit angka dalam 7 laga, Manchester United mengakhiri musim di posisi ke-13.

Tendangan luar biasa Scott McTominay dari ujung kotak penalti membawa Setan Merah unggul pada menit ke-45. Tetapi gol Pierre-Emerick Aubameyang pada menit ke-58 membuyarkan harapan tuan rumah mendapat tiga poin tambahan.

Gol Aubameyang itu sempat dianulir karena wasit menganggap striker itu berdiri pada posisi offside. Namun pengamatan VAR menganulir keputusan wasit dan gol pun disahkan.

Hasil imbang itu, ditambah performa tim yang tak meyakinkan, membuat United, yang telah 20 kali menjuarai EPL, tampak makin mundur jauh dari masa-masa kejayaan era Sir Alex Ferguson. Tak tampak figur yang bisa mengangkat moral tim saat terpuruk dan memimpin mereka melewati adangan lawan.

Walau demikian, Solskjaer, menepis anggapan bahwa pasukannya sudah kehabisan bensin. Ia menegaskan, semua keburukan yang dialami adalah pelajaran berharga yang bakal membuat timnya menjadi lebih baik.

"Berapa kali kami telah unggul 1-0 dan tidak bisa mencetak gol kedua?" kata Solskjaer, dinukil BBC. "Ini adalah proses pembelajaran yang curam bagi kami dan kami akan tetap bekerja keras. Dengan pengalaman lebih banyak, kami akan membuat keputusan yang benar."

Mantan striker tersebut kemudian berbicara tentang peluang yang hilang saat telah unggul 1-0 atas lawan. Dia mengingat pertandingan melawan Southampton dan Wolverhampton, yang keduanya juga berakhir imbang 1-1. Uniknya, gol pengimbang kedua tim itu juga dicetak pada menit 50-an.

Ashley Young cs., menurut sang pelatih, telah menunjukkan gairah dan sikap positif pada awal pertandingan. Akan tetapi mereka mesti belajar lagi bagaimana cara mencetak gol-gol tambahan yang dibutuhkan.

"Kami tak bisa lantas mengerem, seperti yang kami lakukan pada babak kedua dan membiarkan tim lain beraksi. Southampton, Wolverhampton, sekarang, kami mencetak gol pertama dan kami butuh gol berikutnya," tandas Solskjaer dalam situs resmi United.

Dia juga menegaskan bahwa pasukannya takkan berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik. Para pemain, menurutnya, bahkan selalu mati-matian untuk menjadi yang terbaik dalam latihan.

"Kami ada pada tahapan awal untuk membangun sesuatu," tegasnya.

Mantan kapten United dan rekan setim Solskjaer, Roy Keane, melihat apa yang dilakukan sang pelatih sudah berada dalam jalur yang benar dan meminta para pendukung Setan Merah untuk bersabar.

"Saat ini butuh kerja keras. Ada enam atau tujuh pemain muda yang masih belajar. Kita semua kerap tak sabar, kita ingin sukses datang kemarin, tetapi kalian harus memberi orang ini (Solskjaer) waktu," ujar Keane kepada The Guardian. "Berikan anak-anak itu waktu."

Akan tetapi, waktu akan jadi musuh terbesar Setan Merah dan Solskjaer. Mereka terakhir mengangkat trofi EPL pada 2013. Para pemangku kepentingan, terutama penanam modal, pastinya tak sabar menanti masa-masa kejayaan itu terulang kembali. Jika kesabaran mereka habis, biasanya pelatih yang pertama menjadi korban.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR