Axelsen kesal aturan baru BWF

Axelsen saat mengikuti Danish Open 2017. Karena tinggi tubuhnya, ia mengeluhkan beberapa perubahan peraturan yang dibuat BWF.
Axelsen saat mengikuti Danish Open 2017. Karena tinggi tubuhnya, ia mengeluhkan beberapa perubahan peraturan yang dibuat BWF.
© Claus Fisker /EPA-EFE

Sepertinya, Viktor Axelsen belum bisa menerima peraturan baru mengenai servis yang dikeluarkan oleh Badminton World Federation (BWF). Pemain bulu tangkis tunggal putra peringkat satu dunia itu mengatakan, aturan tersebut "garing".

"Ini peraturan yang konyol. Kau tak dapat merendahkan ring dalam (olahraga) basket hanya karena para pemain yang tinggi lebih mudah melakukan dunk," ucap pemain asal Denmark tersebut kepada The Hindu.

Peraturan baru tersebut adalah ketinggian shuttlecock saat dipukul tak boleh lebih dari 1,15 meter dari permukaan tanah. Sebelumnya, peraturan untuk melakukan servis adalah shuttlecock berada di bawah pinggang pemain.

BWF mulai memberlakukan peraturan baru itu pada Maret 2018, atau tepatnya pada perhelatan All England. "Saya akan cari jalan keluar. Tapi untuk pemain yang lebih tinggi seperti (Vladimir) Ivanov dan (Mads Pieler) Kolding, ini konyol," ucapnya.

Baik Axelsen, maupun Ivanov dan Kolding, memang memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata pebulu tangkis--pun orang pada umumnya. Tinggi tubuh Axelsen 1,94 meter. Sedangkan Ivanov 2,01 meter dan Kolding 2,05 meter.

Ke depan, servis menjadi perkara sulit bagi para pebulu tangkis dengan tubuh menjulang. "Itu hanya membuat susah para pemain tinggi, mereka tak dapat mengubah tinggi badan mereka," ucapnya.

Sebenarnya, bukan kali ini saja Axelsen bersuara soal cara servis baru tersebut. Ia sudah mengejek soal peraturan tersebut sejak April 2017, lewat sebuah video bersama Kolding yang diunggah ke media sosial Instagram-nya.

"Saya akan bersuara, lewat media sosial maupun di sini, media (konvensional). Menurut pendapat saya, ini adalah tugas kita (pebulu tangkis) untuk bersuara dan saya harap pemain lain juga ikut bersama kami jika mereka merasakan hal yang sama," ucapnya, seperti yang dikutip dari Indian Express.

Masalahnya, sejauh ini tak banyak yang mengeluhkan soal ini. Tan Wee Kiong, misalnya. Peraih medali perunggu nomor ganda putra Olimpiade Brasil 2016 bersama Goh V Shem itu percaya peraturan baru akan memberikan gambaran yang jelas bagi hakim servis.

Demikian juga dengan P. V. Sindhu. Pemain berperingkat tiga dunia asal India tersebut, mengatakan bahwa itu bukan masalah besar baginya--meski ia memiliki tinggi tubuh 1,79 meter.

"Ketika peraturan berubah, kita harus belajar. Tak ada jalan lain," ucapnya, seperti dikutip dari News18.com. Yang menjadi masalah bagi Sindhu adalah waktu pelaksanannya yang ia rasa terlalu mepet.

Untuk hal ini, Axelsen juga sepakat. Menurutnya, All England, yang merupakan salah satu turnamen paling bergengsi di dunia, bukanlah arena yang tepat untuk menerapkan peraturan baru tersebut.

"Ini konyol untuk melakukan uji coba di All England, yang mana merupakan (salah satu) turnamen paling bergengsi," ucapnya.

Selain soal servis, Axelsen juga berkeluh soal padatnya jadwal pertandingan pada 2018. Memang, selain soal servis, BWF mengubah beberapa peraturan lainnya, salah satunya adalah kewajiban bermain di 12 turnamen kategori superseries bagi para pemain top.

"Pemain berperingkat 15 besar untuk tunggal dan 10 besar di ganda, wajib memainkan 12 turnamen dalam setahun," tulis peraturan baru BWF (H/T The Field).

Peraturan ini tentu bakal menambah beban mereka. Sebab, untuk 2017, kewajiban bagi para pemain top adalah mengikuti lima turnamen superseries premier. Jumlah itupun tak mampu diikuti secara maksimal oleh para pemain top.

"Saya pikir, BWF seharusnya fokus dalam meningkatkan standar kualitas (turnamen) dari pada menambah jumlah kalender turnamen," ucapnya.

"Kami memiliki beberapa (turnamen) bulu tangkis hebat. Jika kami dapat meraih kesempatan untuk berlatih dan menjaga kondisi badan, kami akan memiliki karir panjang dan kualitas yang baik."

Soal padatnya turnamen tahun depan, sepertinya tak menjadi masalah berarti bagi Sindhu. "Kalender turnamen sudah keluar, jadi kami tidak dapat mengatakan tak dapat bermain," katanya.

"Tentu saja ini adalah kalender yang berat ... Saya akan memilih turnamen dan merencanakannya bersama pelatih."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.