BULU TANGKIS

Bangkitnya bulu tangkis Jepang

Para pemain putri Jepang tengah menunjukkan medali emas Asian Games 2018 di Istora Senayan, GBK, Jakarta Pusat, Rabu (22/8/2018).
Para pemain putri Jepang tengah menunjukkan medali emas Asian Games 2018 di Istora Senayan, GBK, Jakarta Pusat, Rabu (22/8/2018). | Bagus Indahono /EPA-EFE

Sebuah media khusus olahraga bernama Sportskeeda memberi judul artikelnya yang mungkin bakal menyentil negara-negara dengan tradisi bulu tangkis kuat macam Indonesia atau Tiongkok.

"Apakah Jepang akan mendominasi (cabang olahraga) bulu tangkis pada Olimpiade 2020 di Tokyo mendatang?" begitu tulis Sportskeeda belum lama ini.

Terlalu berlebihan kah pertanyaan itu? Bisa jadi tidak. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, prestasi bulu tangkis di Negeri Sakura tersebut memang ciamik. Misalnya aja pada tahun ini.

Dari 15 turnamen level atas BWF (minimal BWF World Tour Super 500), para pemain Jepang mampu meraih sepertiga dari total 75 gelar yang disediakan, alias 25 trofi. Jumlah tersebut belum termasuk Kejuaraan Dunia dan Asian Games.

Pada Kejuaraan Dunia, Jepang meraih dua gelar dari Kento Momota (tunggal putra) dan Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (ganda putri). Sedangkan di Asian Games, mereka mampu meraih emas lewat tim putrinya.

"Jepang memanen enam medali di ajang Kejuaraan Dunia 2018, dengan dua emas, dua perak, dan dua perunggu. Ini adalah capaian tertinggi sejak penampilan pertama mereka pada 1977," tulis Xinhua.net.

Sedangkan pada 2017, prestasi Jepang memang tak sebaik tahun ini. Namun, mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Dari kemungkinan 65 gelar di 13 turnamen level atas BWF (minimal superseries), para pemain Jepang meraih 10 gelar.

Bukti lainnya, per hari ini, Jumat (23/11/2018), ada 13 pemain Jepang yang menduduki peringkat 10 besar dunia di lima nomor. Dari jumlah itu, dua di antaranya menduduki peringkat pertama, yakni Momota dan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (ganda putri).

Apa penyebab prestasi Jepang di dunia tepuk bulu bisa bangkit sedemikian rupa? Jawabannya cukup kompleks. Namun, keberhasilan ganda putri Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa meraih perak di Olimpiade 2012 di London, Inggris, menjadi salah satu titik penting.

Pasalnya, sejak pertama kali ikut pada 1992, itu merupakan kali pertama bagi pebulu tangkis Jepang meraih medali di ajang sekelas Olimpiade. Dan, setelah Olimpiade 2016 di Rio de Jenerio, Brasil, popularitas bulu tangkis di Jepang semakin meningkat.

Hal ini tak lepas dari keberhasilan pemain mereka, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo (ganda putri) meraih medali emas di sana. Selain Ayaka/Misaki, Nozomi Okuhara (tunggal putri) juga meraih medali perunggu di ajang tersebut.

Pada 2016, Japantimes.co.jp menuliskan bahwa popularitas olahraga bulu tangkis meningkat pesat sejak saat itu.

"Saat kami berjalan di pusat kota bersama, kami mendapat apresiasi dari masyarakat dan mereka membicarakan kami," ucap Matsumoto.

"Kami sangat berterima kasih bagi mereka yang mendukung kami langsung di Rio. Namun, kali ini mereka secara langsung memberikan apresiasinya kepada kami. Saya sampai sangat kewalahan menghadapinya."

Sedangkan dari sisi latihan, apa yang dilakukan oleh para pemain Jepang tak ada yang benar-benar spesial. Hal ini diungkapkan oleh pelatih ganda Jepang asal Indonesia, Reony Mainaky.

Kepada Beritagar.id saat ajang Blibli Indonesia Open 2018 Juli lalu, Reony mengungkapkan bahwa latihan para pemain Jepang pada dasarnya tidak ada bedanya dengan negara-negara lain.

Yang sedikit membedakan, menurut Reony, sejak Sekolah Menengah Atas mereka sudah diberi pilihan untuk menentukan kegiatan "ekstrakulikernya". Sejak saat itu, para pemain sudah fokus untuk memulai kariernya.

Pola demikian, sebenarnya tidak terlalu ekstrem bila dibandingkan negara lain. Indonesia misalnya, sejak berumur belasan tahun sudah digembleng dalam pemusatan latihan sejumlah klub.

"Mungkin, hal lain yang membedakan Jepang dulu dan saat ini, sekarang sudah banyak ditemukan tempat bermain (bulu tangkis). Hampir setiap daerah kini memiliki fasilitas bermain," ungkap Reony, yang sudah delapan tahun melatih tim Jepang.

Hal lainnya, semua sektor di Jepang mendukung para atletnya untuk mengharumkan bangsa. Kepada CNN Indonesia, Reony mencontohkan bahwa tidak semua pemain di sana berprofesi penuh sebagai atlet. Ada juga yang menjadikannya sambilan dari rutinitas sebagai pekerja kantoran.

Namun, perusahaan akan memberi kelonggoran bagi pebulu tangkis Jepang bila mengikuti sejumlah kejuaraan. "Bekerja sambil bermain bulu tangkis memang sudah lazim bagi orang-orang Jepang. Hidup mereka bukan hanya di bulu tangkis," ungkapnya.

"Namun, mereka juga ada kesadaran harus membela nama negara, salah satunya dengan menjadi atlet dalam hal ini bulu tangkis ... Sejauh yang saya ketahui, tidak ada kasus (perusahaan tak memberi kelonggoran)."

Kini, Jepang mulai memetik hasil dari totalitasnya di bidang bulu tangkis. Memang, bila dibandingkan bisbol, sepak bola, tinju, maupun sumo, olahraga bulu tangkis belum bisa menggeser mereka.

Namun, bila berkaca dengan membaiknya prestasi atlet bulu tangkis Jepang seperti pada 2018 ini, bukan tak mungkin bulu tangkis bakal menjadi olahraga favorit. Seperti yang ditulis Japan Times, "Bulu tangkis tengah populer setelah skuat Jepang sukses di Rio."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR