LA LIGA SPANYOL

Barcelona hancurkan Madrid, sejarah Zidane dan rekor Messi

Para pemain Barcelona tengah merayakan gol yang dibuat Suarez ke gawang Madrid. Dalam pertandingan yang berkesudahan 3-0 untuk Barcelona itu, Messi menciptakan sejumlah rekor.
Para pemain Barcelona tengah merayakan gol yang dibuat Suarez ke gawang Madrid. Dalam pertandingan yang berkesudahan 3-0 untuk Barcelona itu, Messi menciptakan sejumlah rekor. | Rodrigo Jimenenz /EPA-EFE

Penghujung 2017 sepertinya menjadi waktu yang menyenangkan bagi Barcelona. Setelah banyak yang meragukan mereka di awal musim--Agustus--kini klub Catalan tersebut justru kokoh di papan atas klasemen La Liga--setelah para rivalnya pada berguguran.

Dan, hal itu semakin komplit tatkala mereka memenangi laga penting sebelum jeda musim 2017/2018. Pada pertandingan pekan ke-17, Sabtu malam (23/12) WIB, Barcelona menghancurkan rival abadi mereka, Real Madrid, dengan skor 3-0 di Santiago Bernabeu.

Luis Suarez (menit ke-54), Lionel Messi (penalti 64), dan Alex Vidal (90+3) secara bergantian memaksa kiper Keylor Navas memungut bola dari gawangnya. Tak ada "white Christmas" bagi publik Bernabeu, tak ada keceriaan di Madrid.

"Kami tak layak dengan hasil ini, tapi inilah sepak bola. Ini adalah kekalahan yang sangat menyakitkan, kami semua sedih, terutama saya," ucap pelatih Madrid, Zinedine Zidane, seperti dikutip dari Reuters.

Pernyataan "tak layak" boleh jadi benar. Sebab, bila melihat akhir babak pertama, kekalahan 3-0 di penghujung laga memang seperti tak disangka. Di babak pertama, kedua tim bermain cukup imbang.

Kalaupun kekalahan telak itu terjadi, maka kartu merah Daniel Carvajal pada menit ke-63 memainkan peranan penting. Selain harus kehilangan satu pemain, Barcelona pun mendapat hadiah penalti--yang dikonversi menjadi gol oleh Messi.

Hal itulah yang mengubah semuanya. "Melawan Barcelona dengan 11 pemain saja sulit, bayangkan dengan 10 orang," kata bek sayap Madrid, Marcelo, yang dilansir Marca.

Menurut Opta, Zidane pun kini menjadi pelatih Madrid pertama yang kalah dua kali berturut-turut di kandang sendiri dari Barcelona. Akhirnya, dalam tiga musim terakhir di La Liga, Madrid selalu kalah dari Barcelona di Bernabeu--sejarah baru kata Gracenote.

Peran Kovacic

Selain kartu merah, menurut sebagian kalangan, kekalahan kali ini tak lepas dari taktik yang diterapkan Zidane. Pelatih berdarah Prancis itu menurunkan empat gelandang untuk menyokong dua penyerang, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema.

Sampai di sini, semua masih wajar. Menjadi tak wajar ketika Mateo Kovacic, seorang gelandang serang, ditugasi menempel Messi dengan pola man to man marking. Soal umpan, pemain asal Kroasia ini tampil baik dengan catatan keberhasilan 100 persen.

Tapi, soal penjagaan pemain, ia melakukan kesalahan besar hingga terjadinya gol pertama. Alih-alih mengganggu Ivan Rakitic di tengah, ia justru lebih fokus pada Messi. Hasilnya, dengan mudah Rakitic mendesain terjadinya gol pertama Barcelona.

Messi? tak terlibat langsung dalam gol tersebut. Meski demikian, Zidane sama sekali tak menyesali keputusannya.

"Strateginya adalah terus mengawasi Messi, dan Mateo (Kovacic) melakukannya dengan baik ... Saya tidak menyesali keputusan sama sekali ... Saya membuat keputusan dan akan menerima apapun yang terjadi," ucap Zidane, dikutip dari Goal.

Atas hasil ini, Madrid pun kini tertinggal 14 poin di belakang Barcelona. Meski masih menyisakan satu pertandingan tersisa, namun cukup berat bagi Si Putih untuk mengakuisisi Barcelona dari pucuk klasemen.

Namun, Zidane menyatakan belum menyerang meraih titel La Liga. "Kami akan kembali dengan jauh lebih kuat," ucapnya.

Messi menjadi bintang

Pertemuan antara Madrid vs. Barcelona pasti akan menyediakan ruang untuk membandingkan Messi dan Ronaldo. Untuk pertemuan kali ini, bila boleh jujur, dimenangkan oleh Messi.

Squawka memberikan perbandingan yang cukup baik dalam El Clasico kali ini.

Bukan hanya itu, dengan satu gol dan satu assist-nya pada pertandingan tersebut, Messi pun membuat sejumlah rekor. Pertama adalah, dia menjadi pemain yang paling sering mencetak gol ke gawang Madrid, yakni dengan 25 gol.

Kedua, satu umpanya ke Alex Vidal pada gol terakhir Barcelona, membuat dia menjadi pemain yang paling banyak membuat assist dalam laga Madrid vs. Barcelona. Messi juga menjadi pemain yang paling banyak membuat gol untuk satu klub di Eropa.

Dengan satu golnya itu, total ia telah mengemas 526 gol buat Barcelona, mengalahkan legenda Bayern Munich, Gerd Muller (525 gol).

Hasil tutup tahun ini semakin menyenangkan bagi Barcelona setelah para rivalnya berguguran pada pekan ke-17. Peringkat kedua, Atletico Madrid keok 1-0 dari tuan rumah Espanyol. Sedangkan Valencia, juga menelan kekalahan 1-0 dari tamunya, Villarreal.

Beda poin dengan Atletico semakin melebar, menjadi 9 poin. Kini, Barcelona--bersama Manchester City--menjadi tim yang belum pernah menelan kekelahan sepanjang musim 2017/2018.

Dengan kemenangan atas Madrid ini, banyak pihak menilai persaingan merebut gelar juara di Liga Spanyol sudah habis. Tetapi, Ernesto Valverde, pelatih Barcelona, tak setuju dengan hal itu.

"Tentu tidak, bahkan putaran pertama liga saja belum usai. (Memang) kami memiliki keuntungan kini, tapi kami tida fokus pada hal itu," ucapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR