LIGA NEGARA UEFA

Belanda akhiri 16 tahun dominasi Jerman

Memphis Depay tengah merayakan golnya bersama Quincy Promes. Belandang menang 3-0 dalam laga kedua Grup A1 Liga Negara Eropa di Johan Cruyff ArenA, Amsterdam, Belanda, Minggu (14/10/2018) dini hari WIB.
Memphis Depay tengah merayakan golnya bersama Quincy Promes. Belandang menang 3-0 dalam laga kedua Grup A1 Liga Negara Eropa di Johan Cruyff ArenA, Amsterdam, Belanda, Minggu (14/10/2018) dini hari WIB. | Keon Van Weel /EPA-EFE

Runtuh sudah kedigdayaan tim nasional sepak bola Jerman di hadapan Belanda. Setelah tak pernah kalah dalam semua laga kedua tim sejak 2002, Nationalmannschaft akhirnya takluk juga di tangan Belanda.

Rekor 16 tahun tak terkalahkan itu tumbang kala Jerman tandang ke stadion Johan Cruyff ArenA, Amsterdam, Belanda, dalam laga kedua Grup A1 UEFA Nations League (Liga Negara Eropa), Minggu (14/10/2018) dini hari WIB. Belanda terakhir menang atas Jerman pada laga persahabatan 20 November 2002 dengan skor 3-1.

Kali ini, bukan hanya kalah, tapi Jerman luluh lantak. Gol-gol dari Virgil van Dijk pada menit ke-30, Memphis Depay (86) dan Georginio Wijnaldum (90+3), tak mampu dibalas satu pun oleh anak asuh Joachim Loew. Walhasil, Belanda menang 3-0 atas Jerman.

Dan Loew tak punya jawaban mengapa semua itu terjadi. "Mengapa kami tak mampu mencetak gol? Itu jawaban yang sulit, sebab kami jelas memiliki peluang untuk mencetak gol," kata pelatih Jerman tersebut dalam laman resmi Liga Negara Eropa.

"Bila kami kalah 1-0, itu dapat diterima. Namun, hancur seperti ini dalam 10 menit terakhir, jelas tidak bagus."

Jerman memang tengah dalam periode tidak bagus. Dalam 10 pertandingan terakhir menghadapi siapa pun, Manuel Nuer dkk. hanya beroleh tiga kemenangan. Bahkan, mereka kalah dari tim yang secara kualitas berada di bawah mereka, seperti Korea Selatan, Meksiko, hingga Austria.

Dalam pertandingan melawan Belanda, sebenarnya permainan Jerman tidaklah buruk. Mereka mampu menguasai laga hingga 60 persen. Juga melepaskan 21 tembakan. Bandingkan dengan Belanda, dari 40 persen penguasaan bola, mereka hanya membuat 14 tembakan.

Masalahnya ada di ketajaman. Lima tendangan Belanda meluncur tepat sasaran dan tiga menjadi gol. Jerman? Hanya membuat empat tembakan tepat sasaran. Inilah yang menjadi dasar kritikan dari Oliver Khan, legenda Jerman.

"Ini seperti yang terjadi di Piala Dunia kemarin. Banyak penguasaan bola, tapi hanya sedikit yang menjadi ancaman," ucap Kahn. "Jika bola itu mampu bersarang ke gawang (lawan) jelas hasil akhir akan sangat berbeda."

Pendapat Khan itu diamini oleh para pemain Jerman. Masalah krusial mereka memang ketidakmampuan mencetak gol. "Masalah utamanya adalah mengubah peluang menjadi gol. Itu jelas, tanpa keraguan," ucap Mats Hummels, bek Jerman.

Jerman memang memiliki masalah pada lini serang mereka. Para penggedor Die Mannschact, sangat melempem. Dalam 10 laga terakhir, mereka hanya mampu menghasilkan delapan gol.

Mereka tak lagi memiliki striker yang ganas di depan gawang seperti Miroslav Klose, beberapa waktu silam. Kemampuan Thomas Muller mencetak gol dari lini tengah juga tak sebaik kala Jerman merebut gelar juara di Piala Dunia 2014.

Timo Werner, Julian Brandt, atau Mark Uth, tampak belum bisa menjadi tulang punggung timnas Jerman. Alhasil, laga ke-168 Loew--terbanyak dalam sejarah pelatih timnas Jerman--harus berakhir duka.

Isu mengenai pemecatan Loew pun semakin hembus berkencang. Michael Ballack, legenda Jerman lainnya, bahkan terkejut DFB (Federasi Sepak Bola Jerman) masih mempertahankan posisi Loew.

Bila Jerman tengah memasuki periode sulit, tidak demikian dengan Belanda. Dari tiga pertandingan terakhir setelah gagal mentas di Piala Dunia 2018, mereka menang dua kali dan sekali kalah (melawan Prancis).

"Saya pikir, semua pemain tengah dalam kondisi sangat percaya diri, itulah mengapa kami dapat menang 3-0. Tentunya, mereka memiliki sejumlah peluang, tapi secara keseluruhan kami bermain sangat baik," ucap kapten tim, Van Dijk.

Hal lain yang perlu mendapat kredit dari tim Belanda adalah berani menurunkan susunan pemain yang berbeda. Tak seperti Jerman yang kerap memasang pemain itu-itu saja. Dalam pertandingan sepenting ini misalnya, Ronald Koeman, pelatih Tim Oranye, berani memainkan sejumlah debutan.

Beberapa di antaranya adalah Steven Bergwijn and Denzel Dumfries. Eks-pelatih Everton itu pun yakin timnya memiliki masa depan cerah. "(Kemenangan) ini memberi kami banyak kepercayaan diri untuk masa depan," ucap Koeman kepada NOS (H/T Goal Indonesia).

"Kami sangat bangga, ada pertandingan yang luar biasa dan tim telah menunjukkan bahwa kami bisa memainkan sepak bola bagus."

Kemenangan tersebut membawa Belanda mendekati Prancis, pemimpin Grup A1 yang telah mengumpulkan empat poin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR