LIGA NEGARA UEFA

Belanda tegaskan kebiasaannya jadi runners-up

Kapten Belanda Virgil Van Dijk (tengah) memimpin rekan-rekannya untuk memberi penghormatan kepada para suporter usai kalah 0-1 dari Portugal dalam laga final Liga Negara Eropa di Stadio Dragao, Porto, Portugal, Minggu (9/6/2019).
Kapten Belanda Virgil Van Dijk (tengah) memimpin rekan-rekannya untuk memberi penghormatan kepada para suporter usai kalah 0-1 dari Portugal dalam laga final Liga Negara Eropa di Stadio Dragao, Porto, Portugal, Minggu (9/6/2019). | Jose Coelho /EPA-EFE

Timnas Belanda kembali menjadi runners-up. Menjalani final kelimanya sepanjang sejarah, tim Oranje harus rela gagal juara karena kalah dari Portugal.

Kekalahan 0-1 itu terjadi dalam final Liga Negara UEFA di Stadion Dragao, Porto, Portugal, Minggu (9/6/2019). Gol kemenangan Portugal dicetak oleh Goncalo Guedes pada menit ke-60.

Bagi Belanda, kegagalan ini seolah kebiasaannya ketika sudah mencapai final. Dari lima kali masuk final, Belanda hanya berhasil sekali menjadi juara pada Piala Eropa 1988. Ironisnya, pelatih Belanda saat ini Ronald Koeman turut tampil dalam final 1988 itu.

Sebelum Liga Negara UEFA, Belanda mencapai final Piala Dunia 1974 dan 1978. Masing-masing dikalahkan Jerman dan Argentina yang berstatus tuan rumah. Lantas pada final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Belanda menyerah kepada Spanyol.

Kegagalan terbaru ini menjadi antiklimaks dari perjalanan Belanda selama Liga Negara UEFA. Sebelumnya skuat Belanda mendapat pujian dari sejumlah analis, terutama untuk bek belia 19 tahun Matthijs de Ligt dan gelandang kunci Frenkie de Jong.

Koeman juga mendapat apresiasi karena berhasil membangkitkan Belanda yang kini dihuni oleh para pemain muda, bahkan kapten Virgil van Dijk pun masih berusia 28.

Namun, permainan melawan Portugal justru merusak semua impresi. Tak ada permainan penuh gairah seperti ketika mengalahkan Inggris 3-1 pada semifinal pekan lalu atau Jerman dan Prancis pada fase-fase sebelumnya.

Meski begitu, Koeman justru mendapatkan pencerahan di balik kegagalan ini. Pelatih 56 tahun ini mengatakan timnya tak cukup tajam atau dengan kata lain belum punya penyerang berkualitas.

"Kami ingin maju dan menyerang. Tapi kami tak cukup bagus, mungkin itu penyebab kekalahan dari Portugal," ujar Koeman dalam jumpa pers yang dilansir Goal.com.

Bekas bek tengah Barcelona ini menegaskan kualitas Belanda sudah sejajar dengan Jerman, Prancis, Inggris, dan Portugal yang disebutnya empat dari lima atau enam tim terkuat di Eropa.

Persoalannya, Belanda kehilangan unsur ofensif yang menjadi step akhir untuk menentukan kemenangan. "Untuk menuju langkah berikutnya, kami butuh waktu dan daya ofensif. Itu diperlukan untuk menciptakan peluang, kami kehilangan itu dalam pertandingan tadi," paparnya.

Belanda memang berada di bawah bayang-bayang Portugal dalam laga semalam. Bahkan pada babak pertama, Van Dijk dkk. dikurung Cristiano Ronaldo cs.

"Portugal sudah sesuai dugaan adalah tim yang solid. Mereka biasa bermain seperti itu (menyerang) dan kompak. Mereka bagus dalam menyerang, mungkin kami tak punya kreativitas dalam sisi ofensif," tukas Koeman menyimpulkan.

Belanda berusaha menekan pada babak kedua, tapi seperti dikatakan Koeman, tak ada peluang bersih yang bisa menjanjikan gol. Sebaliknya Portugal bisa mencuri gol.

Skuat Portugal merayakan gelar juara Liga Negara UEFA di Stadion Dragao, Porto, Portugal, Minggu (9/6/2019).
Skuat Portugal merayakan gelar juara Liga Negara UEFA di Stadion Dragao, Porto, Portugal, Minggu (9/6/2019). | Paulo Novais /EPA-EFE

Menurut catatan statistik UEFA, Portugal melepas 19 upaya mencetak gol --tujuh di antaranya mencapai gawang Jasper Cillessen. Sementara Belanda hanya melakukan lima tembakan serta cuma satu yang mengarah ke gawang Rui Patricio.

Bagi Portugal, ini adalah peningkatan permainan ketimbang saat mengalahkan Swiss dalam semifinal pekan lalu. Ketika itu Swiss justru lebih dominan dan aktif dalam membuat peluang dibanding Portugal yang tampil di depan publiknya.

Namun, pelatih Fernando Santos seolah enggan membicarakan hal itu. Pelatih 64 tahun ini lebih senang menyoroti timnya yang tetap padu usai menjuarai Piala Eropa 2016.

"Dalam lima tahun terakhir, kami menjadi keluarga utuh yang paham bagaimana bermain. Kami tahu bisa memenangi laga ini," katanya dikutip BBC.

Adapun Ronaldo, yang mencetak hat-trick ke gawang Swiss, menyampaikan arti penting trofi Liga Negara UEFA yang perdana ini. Kegembiraan itu mengalahkan kemandulannya akibat "dimatikan" Van Dijk sepanjang pertandingan.

"Indah sekali, saya sangat senang. Menjadi juara di depan masyarakat Portugal adalah kehormatan besar bagi saya," tukas pemain asal Juventus ini.

Dari pertandingan lain pada hari yang sama, Inggris menempati posisi ketiga usai mengalahkan Swiss melalui adu penalti 6-5 setelah melalui waktu normal dengan 0-0.

Inggris pantas memenangi laga di Guimaraes, Portugal, tersebut. Selama pertandingan, pasukan Gareth Southgate mendominasi permainan.

Dari serangkaian serangan, empat upaya Inggris hanya berakhir di tiang gawang. Sedangkan gol Callum Wilson dianulir berkat penilaian VAR. Namun, kunci kemenangan adalah kiper Jordan Pickford yang menahan tembakan penalti Josip Drmic sebagai eksekutor terakhir Swiss.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR