Bentrok suporter Indonesia kembali merenggut nyawa

Suporter klub sepak bola Persija Jakarta, Jakmania.
Suporter klub sepak bola Persija Jakarta, Jakmania.
© Fanny Octavianus /Antara Foto

Kabar duka itu datang di ujung musim kompetisi Go-Jek Traveloka Liga 1 Indonesia. Satu nyawa suporter Persija Jakarta hilang usai menonton pertandingan tim kesayangannya vs. Bhayangkara FC, di stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/11) malam.

Dia adalah Rizal Yanwar Putra, Jakmania--sebutan suporter Persija--dari Sukatani Subkorwil Cikarang, Jabar. Rizal tewas karena diduga dikeroyok oleh suporter tim lain di daerah Desa Karangasih, Cikarang Utara, Senin (13/11) dini hari.

Gelombang ungkapan duka cita pun membanjiri dunia maya, khususnya di akun Twitter @Jakmania_CKR. Mereka menyampaikan rasa duka atas kejadian pilu itu. Termasuk pula Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, yang mengucapkan belasungkawa.

Atas kejadian ini, Polres Metro Bekasi tengah mengusut pelaku pengeroyokan. Meski demikian, sampai saat ini, korps Bhayangkara belum menemukan tersangka.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Polres Metro Bekasi, Kombes Asep Adisaputra. Menurut Asep, saat ini pihaknya sudah meminta keterangan dari berbagai pihak. Dalam waktu dekat, Asep mengatakan, tersangka sudah bisa diamankan.

"Kalau dugaan, sudah kita dapatkan. Namun belum A1 untuk kepastian pelakunya," ucap Asep, seperti dikutip dari Radar Bekasi.

Sejauh ini, Asep masih enggan menyebutkan apa dan siapa yang melatarbelakangi bentrokan tersebut. Namun Asep menyiratkan bahwa tewasnya Rizal akibat bentrok antar suporter.

"Kejadiaannya di luar kendali kita (pihak kepolisian) ... Saya kebetulan juga turun langsung saat itu, untuk menjaga kondusifitas terjadinya bentrokan dua suporter fanatik," ucapnya. "Peristiwa itu (tewasnya Rizal) terjadi ketika suporter sudah hampir sampai rumah."

Untuk sementara, warganet menduga pelaku adalah suporter Persib dari daerah Cikarang. Sebab, sesaat sebelum terjadinya bentrok antar suporter itu, akun Twitter @VickingCikbar mengirim pesan yang menjurus kepada kondisi tak kondusif.

Entah kebetulan atau tidak, di waktu yang relatif bersamaan dengan pertandingan Bhayangkara vs. Persija, Persib Bandung juga bertanding melawan Perseru Serui. Hasilnya, Maung Bandung keok 2-0.

Kepada Indosport, akun @VickingCikbar itu memberi jawaban soal tuduhan warganet. Menurut mereka, @VikingCikbar tidak akan memberi klarifikasi hingga pelaku tertangkap.

"Kita klarifikasi setelah pelakunya ketangkep. Dan biar akun Jakmania ckr raya nya sendiri yang mengklarifikasi kalo itu bukan kita pelakunya," tulis @VikingCikbar melalui fasilitas Direct Message Twitter kepada Indosport.

Soal status tadi, mereka minta hal itu tidak dibesar-besarkan. Mereka tegas menolak status yang dijadikan dugaan tersebut ditujukan oleh Jakmania.

"Ya bukanlah, kita mana tau ada yg bakal meninggal. Org plg dr bdg aja jam 2an. Pagi2 dpt kabar ada yg meninggal. Eh twit itu disudutkan dan disangka pembunuhan berencana," @VikingCikbar kembali menjelaskan.

Akun @VikingCikbar saat ini telah dikunci. Mereka juga kini memilih diam hingga situasi reda dan pelaku sebenarnya tertangkap. Oleh karena itu, mereka sangat menunggu kepastian perkembangan kasus dari pihak Kepolisian.

"Tuntutan kita sih, semoga ada yang bisa menjelaskan itu kita (Viking Cikarang Barat) apa bukan. Soalnya nama kita sudah tercoreng," tulis akun tersebut.

Tak ramah nyawa

Kejadian tewasnya suporter ini bukan kali pertama. Dalam tiga bulan terakhir saja, setidaknya sudah ada dua nyawa manusia yang melayang akibat menyaksikan sepak bola Indonesia.

Mereka adalah Catur Yuliantono (meninggal saat menyaksikan timnas Indonesia vs. Fiji pada 2 September) dan Ricko Andrean (meninggal saat menyaksikan Persib vs. Persija).

Bila ditarik lebih jauh ke belakang, menurut lembaga nirlaba Save Our Soccer (SOS), sejak dihelat pada 1994/1995, sepak bola Indonesia telah menewaskan 66 orang, termasuk Rizal tadi. Dan, sepak bola Indonesia pun seperti tak ramah pada nyawa.

Sejauh ini, sebenarnya PSSI, sebagai induk organisasi sepak bola nasional sudah berupaya mencegah kemungkinan itu terjadi. Salah satunya dengan membentuk Departemen Khusus Area Fans dan Community Engagement.

Pun, pemerintah juga berusaha telah berusaha, di antaranya memfasilitasi pertemuan antara suporter dalam acara bertajuk "Rembuk dan Jumpa Suporter Indonesia" pada 3 Agustus 2017. Tepatnya, setelah meninggalnya Ricko Andrean.

Bentrok antar suporter Persija dan Persib, menurut SOS, telah merenggut tujuh nyawa.

Tapi, semua usaha itu menurut kordinator SOS, Akmal Marhali, hanya lips service saja. Sebab, selain terus berulangnya kejadian serupa, juga karena tidak adanya pengusutan kasus tersebut hingga tuntas.

"(Pengusutan kasus) itu hilang ditelan bumi. Hanya ungkapan prihatin dan belasungkawa yang disampaikan, tak ada tindakan nyata. Di mana pengawasan pemerintah?" tanya Akmal, dalam keterangan pers yang diterima Beritagar.id.

Akmal pun meminta pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga, untuk mengevaluasi kompetisi secara total, mumpung saat ini sudah selesai. Bentrokan suporter, vandalism, anarkisme, di lapangan tak lepas dari kurang tegasnya PSSI dan Pemerintah dalam menegakkan aturan.

"Fungsi pengawasan harus benar-benar di lakukan. Masyarakat hanya ingin hiburan dan sepak bola berprestasi," ucapnya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.