BULU TANGKIS

Beres-beres ala PBSI, penghuni Cipayung dirombak

Para penghuni Cipayung tengah berfoto bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Beberapa dari mereka dikeluarkan dari markas PBSI karena tak berprestasi cukup baik.
Para penghuni Cipayung tengah berfoto bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Beberapa dari mereka dikeluarkan dari markas PBSI karena tak berprestasi cukup baik. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia merombak cukup besar penghuni di markas mereka, Cipayung, Jakarta Timur. Bila sepanjang 2017 "warga Cipayung" berjumlah 89, kini meningkat menjadi 104 pemain.

Hal ini tak lepas dari agenda tahunan Federasi, yakni melakukan promosi-degradasi. Pemain yang dinilai tak tampil cukup baik, dikeluarkan dari Cipayung. Sedangkan pemain dari klub yang dianggap memenuhi kriteria PBSI, dimasukkan ke Cipayung.

Setidaknya, ada 15 atlet yang ditendang dari Pelatnas. Memang, bila melihat nama-nama atlet yang terdepak, tak ada pemain yang rutin menghiasi sejumlah media di tanah air. Bukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, maupun Jonatan Christie atau Anthony Sinisuka Ginting.

Mereka yang keluar, seperti Muhammad Bayu Pangisthu, Enzi Shafira, Isra Faradila, Ghaida Nurul Ghaniyu, hingga Tiara Rosalia Nuraidah, maupun Shela Devi Aulia (klik di sini untuk selengkapnya).

Familiar kah dengan nama-nama tersebut? Mungkin hanya sebagian dari Anda yang mengetahui nama-nama itu.

Dengan meningkatnya jumlah skuat pelatnas dibanding 2017, maka jelas PBSI lebih banyak melakukan promosi ketimbang degradasi. "Kami berharap 2018 lebih baik lagi, dan regenerasi lebih cepat," beber Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti kepada Badmintonindonesia.org.

Bila Anda telah melihat nama-nama pemain yang keluar dari Cipayung, sebagian besar dari mereka adalah pemain di sektor tunggal. Hal ini sebenarnya bisa diprediksi. Pasalnya, sektor tersebut belum mampu memperlihatkan capaian yang cukup apik.

Terbaik, untuk kategori superseries, hanya di France Open, di mana terjadi all Indonesian final. Sedangkan sektor yang paling sedikit pemainnya dikeluarkan ada di nomor ganda putra. Lagi-lagi, ini sudah bisa dilihat gelagatnya sejak awal.

Sebab, di nomor ganda--entah itu putra, putri, maupun campuran--prestasi para atlet Indonesia cukup cemerlang. Menurut Susy, sepanjang 2017, 38 gelar berhasil didapat atlet Indonesia di level international series hingga superseries premier.

Dari jumlah tersebut, sumbangan terbesar datang dari nomor ganda. Dan ganda putra menjadi yang paling cemerang--dengan sumbangan tujuh gelar superseries melalui Kevin/Marcus.

"Ganda putri menunjukan peningkatan prestasi, di mana meraih tiga gelar tahun ini. Secara keseluruhan, progres kelihatan dan ini bisa jadi angin segar," ucapnya.

"Meskipun tak sebanyak tahun sebelumnya, tapi ganda campuran konsisten mendapat gelar, khususnya di turnamen penting." Dengan fakta tersebut, PBSI pun berharap nomor tunggal mampu memberikan kontribusi berarti tahun depan.

"Jonatan, Anthony, dan Ihsan diharapkan lebih stabil, bukan cuma di rangking 20 besar dunia, tetapi juga top 10. Apalagi mereka punya kesempatan ke olimpiade 2020," kata Susy.

Memang, meski belum memperlihatkan prestasi apik, namun ada satu keunggulan di nomor tunggal putra ini. Para pemain utama mereka masih muda-muda. Anthony kini berusia 21 tahun, Jonatan (20 tahun), dan Ihsan (22 tahun).

Maka dari itu, pelatih tunggal putra, Hendry Saputra, tak khawatir dengan capaian di 2017 ini. "Jangan bandingkan dengan nomor lain. Kalau lihat dari umur dan latar belakangnya, bagi saya malah sektor tunggal putra itu menonjol," ucap Hendry kepada Kumparan.

Rombak ganda putri

Sektor ganda putri memang tak mendapat sorotan berarti--justru dipuji. Dan, tentu saja pemain yang paling berperan besar atas hasil itu adalah Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Walau belum setahun diduetkan, mereka berhasil menjuarai Thailand Grand Prixdan French Open Superseries.

Capaian itu tak lepas dari keberanian PBSI melakukan perombakan dan mencoba menduetkan pemain dengan mekanisme senior-junior; Greysia 30 tahun dan Apriyani (19 tahun). Sebelumnya, Greysia diduetkan dengan Nitya Krishinda Maheswari.

Ekspresi Greysia/Apriyani saat menjuarai France Open 2017.
Ekspresi Greysia/Apriyani saat menjuarai France Open 2017. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Pada 2018 nanti, Greysia/Apriyani akan tetap menjadi tumpuan di nomor ini. Meski demikian, PBSI butuh pelapis untuk mengarungi 2018. Apalagi nomor ini punya target khusus, yakni mempertahankan emas di Asian Games.

Sejauh ini, ada 10 pemain utama di sektor ganda putri. Selain Greysia, Apriyani, dan Nitya, terdapat pula nama-nama seperti Anggia Shitta Awanda, Ni Ketut Mahadewi Istarani, hingga Della Destiara Haris.

Sejauh ini, kepala ganda putri, Eng Hian, belum ingin memastikan pasangan pasti di Asian Games--selain Greysia/Apriyani nampaknya. Hal ini akan diumumkan usai turnamen di bulan Januari kelar, di antaranya Thailand Masters, Malaysia Masters, Indonesia Masters dan India Masters 2018.

"Saya masih pantau hasil di turnamen bulan Januari. Kalau juara, buat apa dirombak lagi. Alasan saya ingin bongkar pasang ini, karena hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi," ucap Eng.

BACA JUGA