ALL ENGLAND 2019

Berharap pemain tunggal akhiri 25 tahun dahaga gelar

Anthony Sinisuka Ginting saat membela tim putra Musica Trinity pada Final Djarum Superliga Badminton 2019 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/2/2019).
Anthony Sinisuka Ginting saat membela tim putra Musica Trinity pada Final Djarum Superliga Badminton 2019 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/2/2019). | M Agung Rajasa /Antara Foto

Sudah 25 tahun berlalu sejak Hariyanto Arbi dan Susi Susanti bergantian naik ke puncak podium setelah masing-masing menjuarai tunggal putra dan putri All England 1994, turnamen bulu tangkis tertua di dunia.

Susi, yang kini menjabat sebagai kepala bidang pembinaan prestasi (kabid binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), menginginkan agar penantian untuk melihat pemain nomor tunggal mengangkat trofi berakhir tahun ini.

"Harapannya ada kejutan. Sudah 25 tahun kosong gelar di tunggal," kata Susi dalam wawancara dengan Tempo.co (1/3/2019).

All England 2019 akan berlangsung mulai Rabu (6/3) hingga Minggu (10/3) di Birmingham, Inggris. PBSI mengirim 2 tunggal putra (tak termasuk Tommy Sugiarto yang merupakan pemain profesional), 2 tunggal putri, 5 ganda putra, 3 ganda putri, dan 6 ganda campuran ke turnamen BWF World Tour Super 1000 yang berhadiah total 1 juta dolar AS (Rp14,13 miliar) itu.

Untuk tunggal putra, harapan masih terbuka meski bisa dibilang kecil. Tahun lalu, hanya Anthony Sinisuka Ginting yang berhasil menjuarai turnamen kelas atas BWF--badan bulu tangkis dunia. Pada September 2018 ia menjuarai China Open, mengakhiri 24 tahun penantian gelar tunggal putra di Negeri Tirai Bambu itu.

Akan tetapi prestasinya bisa dibilang seperti roller coaster, alias naik turun dengan cepat. Pada dua turnamen yang telah diikutinya tahun ini, Malaysia Masters dan Indonesia Masters, atlet berusia 22 tahun ini hanya bisa sampai ke perempat final. Ia dikalahkan Chen Long di Kuala Lumpur dan Kento Momota di Jakarta.

Pada All England kali ini, Ginting menempati unggulan ke-8 dan akan menghadapi atlet Hong Kong, Ng Ka Long Angus pada laga pembuka. Peluangnya untuk lolos ke babak kedua terbuka lebar karena dalam pertemuan terakhir Ginting berhasil mengalahkan Angus di Japan Open tahun lalu.

Lalu ada Jonatan Christie, yang performanya juga tak stabil. Sejak merebut medali emas Asian Games 2018 di Jakarta, Jojo--begitu ia populer disapa--belum menjuarai turnamen lain. Hasil terbaiknya adalah semifinal Korea Open 2018 dan Indonesia Masters 2019.

Pelatih tunggal putra Pelatnas PBSI, Hendry Saputra Ho, kepada detikSport menjelaskan bahwa kelemahan utama Jonatan adalah mentalnya pada poin kritis.

"Untuk mainnya Jonatan sudah oke. Tapi saat di angka-angka penting dia masih gampang mati dan eror. Hal-hal seperti itu yang harus disadari para pemain," ujar Hendry.

Jonatan akan membuka perjalanan di All England menghadapi Lee Dong Keun dari Korea Selatan. Rekor pertemuan adalah 2-1 untuk keunggulan Lee, yang menang dalam dua pertarungan terakhir di Korea Masters 2015 dan Singapore Open 2017.

Untuk tunggal putri, sejak era Susi dan Mia Audina berakhir hingga detik ini belum lahir kembali pebulu tangkis dengan kemampuan teknik dan mental setara dengan kedua legenda tersebut. Pemain baru datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak berarti.

Namun bukan berarti tak ada asa. Indonesia saat ini memiliki juara dunia junior tunggal putri 2017, Gregoria Mariska Tunjung. Di pundak pebulu tangkis berusia 19 tahun inilah PBSI menggantungkan harapan untuk bisa kembali menulis cerita indah tunggal putri.

Masalahnya, sama seperti di tunggal putra, konsistensi masih menjadi masalah utama Gregoria. Setelah menjadi juara dunia junior, prestasi terbaiknya pada turnamen kelas atas barulah semifinal Denmark Open dan Thailand Open, keduanya pada tahun lalu.

Ia mengawali tahun ini dengan relatif buruk. Gregoria kalah di babak pertama Malaysia Masters, di babak kedua Indonesia Masters, dan di babak pertama German Open.

Dalam wawancara dengan Beritagar.id tahun lalu, ia menyatakan masalah utama yang masih mengganggunya adalah pola pikir seorang juara dan cara menyusun strategi untuk memenangi pertandingan.

"Pola pikir itu lebih kepada kesadaran diri sendiri bahwa kita bisa. Kalau fisik dan teknik itu pasti (berkembang) karena kita latihan setiap hari. Pola pikir itulah yang terus saya pelajari," papar Gregoria.

Usia Gregoria memang masih muda dan saat ini ia sudah berada di peringkat ke-15 dunia. Akan tetapi, jika tak segera merebut prestasi di turnamen besar, ia bakal tergilas dengan bakat-bakat baru lain yang terus bermunculan, terutama dari Tiongkok dan Jepang.

Peluang hat-trick The Minions

Kevin Sanjaya (kiri) dan Marcus Gideon beraksi pada final ganda putra Daihatsu Indonesia Masters 2019 melawan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di Jakarta (27/1/2019). Kevin/Marcus menang. EPA-EFE/ADI WEDA
Kevin Sanjaya (kiri) dan Marcus Gideon beraksi pada final ganda putra Daihatsu Indonesia Masters 2019 melawan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di Jakarta (27/1/2019). Kevin/Marcus menang. EPA-EFE/ADI WEDA | Adi Weda /EPA-EFE

Kalau melihat sisi prestasi dan konsistensi, peluang terbesar bagi Indonesia untuk membawa pulang gelar tetap ada di ganda putra, di tangan juara bertahan Kevin Sanjaya/Marcus Gideon.

Kevin/Marcus telah dua kali berturut-turut menjadi juara di All England--2017 dan 2018--dan kini mereka mengincar gelar ketiga beruntun, alias hat-trick.

Jika berhasil, The Minions--julukan pasangan no. 1 dunia itu--akan menjadi ganda putra Indonesia setelah Tjun Tjun/Johan Wahyudi yang bisa mencatat hat-trick di Birmingham. Tjun Tjun/Johan malah pernah empat kali beruntun menjuarainya pada 1977, 1978, 1979, dan 1970.

"Yang terpenting, Kevin/Marcus harus bisa mengontrol emosi karena pasti kemauan hat-trick juara All England sangat besar. Jangan terlalu percaya diri," kata pelatih ganda putra Pelatnas PBSI, Herry Iman Pierngadi, dikutip Bola.com.

"Merebut dan mempertahankan gelar sangat berbeda. Kalau merebut kan tanpa beban, tapi kalau mempertahankan itu tidak boleh salah," sang pelatih mengingatkan.

The Minions akan memulai All England menghadapi Liu Cheng/Zhang Nan, pasangan Tiongkok yang pernah mereka kalahkan lima kali dalam enam pertemuan.

Tahun ini Kevin/Marcus telah menjuarai dua turnamen yang mereka ikuti, yaitu Malaysia Masters dan Indonesia Masters.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR