INDONESIA MASTERS 2019

Berharap perpisahan sempurna Liliyana Natsir

Ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir (kiri) dan Tontowi Ahmad meluapkan kegembiraan seusai mengalahkan ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019). Owi/Butet lolos ke final setelah menang dengan skor 22-20, 21-11.
Ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir (kiri) dan Tontowi Ahmad meluapkan kegembiraan seusai mengalahkan ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019). Owi/Butet lolos ke final setelah menang dengan skor 22-20, 21-11. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Hanya butuh satu langkah lagi untuk menciptakan perpisahan berkesan dari Liliyana "Butet" Nasir. Bersama tandem sejatinya, Tontowi "Owi" Ahmad, ia berhasil menginjakkan kakinya di babak final Indonesia Masters 2019.

Jika pada partai puncak, Minggu (27/1/2019), tersebut Owi/Butet dapat keluar sebagai juara, sepertinya karier bulu tangkis wanita kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 33 tahun lalu tersebut akan benar-benar manis.

Pasalnya, turnamen dengan kategori BWF World Tour 500 itu adalah kejuaraan terakhir yang diikuti Butet. Setelah ini, dia akan gantung raket. Dan, bila di pengujung karier dia mampu mengangkat trofi, ini akan menyempurnakan perjalanan gemilang di dunia tepuk bulu.

Maklum, sudah tak terhitung jumlah piala yang dia angkat sejak bergabung dengan pusat pelatihan nasional (pelatnas) di Cipayung, Jakarta Timur, 16 tahun lalu. Paling tidak, ada delapan prestasi paling bergengsi yang pernah ia rengkuh.

Yakni, satu emas Olimpiade Rio de Jenerio 2016, tiga kali beruntun juara All England (2012-2014), serta empat kali juara dunia (2005, 2007, 2013, lalu 2017). Jumlah itu belum termasuk gelar bergengsi superseries (kini namanya menjadi BWF World Tour).

Masalahnya, untuk menciptakan perpisahan yang sempurna, bukanlah perkara mudah. Ia bakal menghadapi lawan tangguh di partai puncak, Zheng Siwei/Huang Yaqiong dari Tiongkok.

Sejauh ini, dari empat pertemuan kedua pemain, calon duet legendaris Indonesia tersebut baru menang sekali. Mengenai rekor pertemuan yang tak berpihak kepadanya, Butet sangat menyadari.

"Kami sering ketemu Zheng/Huang dan sering kalah. Besok akan tampil nothing to lose, anggap saja 0-0 lagi," kata pemain didikan PB Djarum dalam Badmintonindonesia.org.

Namun, bukan berarti peluang tersebut tertutup sama sekali. Pada kejuaraan kali ini, penempilan Owi/Butet benar-benar sangat matang. Pukulan-pukulan mereka, terutama Butet, sangat cakap.

Ia seperti tak butuh tenaga kencang untuk mematikan lawan. Sebab, pukulannya begitu terarah dan sulit sulit diantisipasi lawan. Permainan di depan sangat yahud. Shuttlecock kerap melintas dengan jarak yang sangat tipis dari bibir net.

Kepada Beritagar.id pada Jumat (25/1), ia bercerita bahwa cara bermain demikian dihasilkannya lewat pengalaman dan selalu mengevaluasi diri atas kekurangannya. "Tidak ada (role model). Itu semua dihasilkan lewat pengalaman saja dan tak pernah puas dengan apa yang sudah saya capai," kata Butet.

Apapun hasilnya di partai final kejuaraan yang menyediakan hadiah total 350.000 dolar AS (sekitar Rp4,9 miliar) tersebut, langkah Liliyana ke babak final ini sebenarnya patut diacungi jempol.

Musababnya, ia sudah lama tak turun di pertandingan kompetitif. Terakhir, dia turun di China Open, awal November 2018.

"Persiapan saya memang kurang, latihan sama Owi jarang. Saya berusaha enjoy, apapun hasilnya, saya sudah siap. Puji Tuhan saya surprise dengan hasilnya, makanya saya berterima kasih sama Owi yang sudah berjuang," ucap Liliyana.

Kini, panitia acara telah menyiapkan kado perpisahan manis bagi Butet. Satu jam sebelum laga final dihelat, yakni pukul 13.00, akan ada satu pesta khusus bagi Butet. Menurut Ketua Panitia Indonesia Masters 2019, Achmad Budiharto, pesta perpisahan ini sangat layak dilakukan.

"Farewell Event digelar Karena Butet telah mengabdikan hidupnya di dunia bulu tangkis dan telah memberikan banyak kebanggaan pada negara dan bangsa," kata Budiharto.

Indonesia memastikan satu gelar

Ganda Putra Indonesia Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan berusaha mengembalikan kok ke ganda putra Cina Han Chengkai dan Zhou Haodong saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019). Ahsan/Hendra berhasil lolos ke final setelah mengalahkan ganda pria urutan tujuh dunia Han Chengkai/Zhou Haodong dengan skor 21-11, 21-17.
Ganda Putra Indonesia Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan berusaha mengembalikan kok ke ganda putra Cina Han Chengkai dan Zhou Haodong saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019). Ahsan/Hendra berhasil lolos ke final setelah mengalahkan ganda pria urutan tujuh dunia Han Chengkai/Zhou Haodong dengan skor 21-11, 21-17. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Pada Indonesia Masters 2019, para pebulu tangkis Tanah Air telah memenuhi target Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia. Yakni, minimal meraih satu gelar juara.

Piala Indonesia Masters untuk nomor ganda putra sudah pasti jatuh ke atlet Indonesia. Musababnya, di babak final akan bertemu Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dengan juara bertahan, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Di babak semifinal, Hendra/Ahsan mengalahkan Han Chengkai/Zhou Haodong (Tiongkok), dengan skor 21-11, 21-17. Sementara itu, The Minions menaklukkan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmusen (Denmark), 21-19, 21-13.

Ini adalah pertemuan kedelapan antara kedua pemain. Sejauh ini, Kevin/Marcus unggul 7-2 atas Hendra Ahsan.

Meski secara rekor kedua pemain terlihat cukup jomplang, tapi laga final sesama pemain Indonesia ini dijamin menarik. Setidaknya, itulah yang diungkapkan oleh Kevin. "Pastinya bakal seru, karena mereka pemain berpengalaman dan tidak mudah melawan mereka," ujarnya.

Bisa jadi pernyataan Kevin tersebut bukan sekadar basa-basi. Sama seperti penampilan Butet, Hendra/Ahsan juga menunjukkan penampilan apik selama kejuaraan berlangsung. Tolok ukur paling mudah adalah, pertarungan di semifinal, Sabtu (26/1) kemarin.

Han/Zhou bukan pemain kacangan. Head to head antara Han/Zhou dengan Kevin/Marcus saja lebih unggul pemain yang disebut pertama, 1-3. Dan, The Daddies, julukan Hendra/Ahsan, menang telak atas Han/Zhou.

Selain itu, pada kejuaraan kali ini Hendra/Ahsan tak pernah kehilangan satu gim pun dari lawan-lawannya. "Syukur alhamdulillah kami bisa melewati semifinal. Hari ini kami tetap fokus di lapangan, menekan terus supaya lawan tidak bisa berkembang," kata Ahsan.

Hasil lain pemain Indonesia

Jonatan Christie vs. Anders Antonsen: 18-21, 16-21
Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: 20-22, 22-20, 12-21.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR