LIGA 1 INDONESIA

Beribu-ribu maaf dan berulang kali suporter tewas

Suporter memasuki lapangan saat terjadi kericuhan pada pertandingan antara Arema FC melawan Persib Bandung dalam Liga 1 Indonesia di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (15/4/2018). Kericuhan tersebut menyebabkan tewasnya satu suporter.
Suporter memasuki lapangan saat terjadi kericuhan pada pertandingan antara Arema FC melawan Persib Bandung dalam Liga 1 Indonesia di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (15/4/2018). Kericuhan tersebut menyebabkan tewasnya satu suporter. | H. Prabowo /Antara Foto

Tepat di hari ini, Kamis (19/4/2018), Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah menginjak usia 88 tahun. Dengan usia yang semakin bertambah itu, Federasi punya harapan baik, memajukan sepak bola Indonesia.

"...Seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia, Insyaallah memulai lembaran baru dengan sangat baik," begitu kata Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, Rabu (18/4/2018) seperti yang dikutip dari situs resmi PSSI.

Harapan, tentu saja terucap untuk hal yang baik. Namun, bila berbicara fakta yang ada, sering kali berbanding terbalik. Nyatanya, sehari sebelum PSSI ulang tahun, sepak bola Indonesia kembali berduka.

Dimas Dhuha Ramli, Aremania--sebutan untuk suporter Arema FC--baru saja mengembuskan nafas yang terakhir. Dimas meninggal akibat kerusuhan kala Arema melawan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (15/4/2018) malam.

Dalam pantauan Detik, kerusuhan tersebut terjadi antara Aremania dengan aparat keamanan. Pihak disebut terakhir, mencoba meredakan amarah suporter tuan rumah yang meledak karena kecewa atas kinerja wasit Handri Kristanto.

Akibat kejadian itu, lebih dari 214 Aremania cedera dan mendapat perawatan. Dan, Dimas bukan termasuk dari Aremania yang mendapat perawatan. Dia berhasil pulang ke rumahnya di daerah Sukun, Malang sekira pukul 1 dini hari.

Akan tetapi, kondisi Dimas memburuk karena dadanya merasa sesak. Menurut kakak ipar korban, Putra kepada Tribun Jatim, Dimas sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Namun, saat dimandikan, terdapat sejumlah lebam di tubuh Dimas.

"Ada lebam di dagu. Tadi juga katanya ada gosong juga di bagian lengannya," terang Putra.

Sejauh ini, belum diketahui secara pasti penyebab kematian Dimas. Menurut rekan Dimas--sekaligus tetangganya--Nur Rosyidin, saat kericuhan terjadi Dimas bukan termasuk Aremania yang bersitegang dengan aparat.

Saat peristiwa itu terjadi, dalam pengakuan Rosyidin, Dimas justru ingin keluar stadion dengan cara menaiki pagar. Di saat bersamaan, para Aremania yang berada di lapangan kembali masuk ke tribun.

Akibat luapan suporter itu, pemuda yang saat ini duduk di kelas 10 SMK N 1 Malang, jatuh dan terinjak-injak. Ia pun mengalami sesak nafas hingga patah di lengannya. "Jadi saat di pagar itu ia terjatuh. Soalnya anaknya kecil," terang Rosyidin.

Sempat dirawat di dua rumah sakit, RSI Aisiyah dan RS Saiful Anwar, sejak Senin, nyawa Dimas tak tertolong. Rabu kemarin, sekitar pukul 15.10 Dimas pun mengembuskan nafas terakhirnya.

Innalillahi wainnalllillahi rojiun.. Turut berduka cita atas meninggalnya Dimas Dhuha Romli, salah satu korban dari insiden di Stadion Kanjuruhan minggu kemarin.. _ Seperti dikutip dari memontum.com. Dimas (17) warga Jalan Kepuh Gang 1/34, Kecamatan Sukun, Kota Malang dirawat selama sehari penuh di 2 rumah sakit. Rabu (18/4/2018) pukul 15.50, Dimas, meninggal di RSU Dr Saiful Anwar Malang. Nur Ro Sidik (40) tetangga korban bercerita, pada Minggu (15/4/2018) pertandingan #Arema FC vs Persib, Dimas ikut menonton bersama rombongan. Hingga kemudian kericuhan terjadi, bersamaan paniknya supporter dampak gas airmata. “Dia di tribun Timur, dekat papan skor. Pas penembakan gas airmata. Kata teman temannya terinjak- injak, ” cerita Nur Sidik. _ Sepengetahuan Sidik, Dimas lalu pulang. Ia tidak mendapat perawatan, baik di puskesmas ataupun rumah sakit. Sekitar pukul 01.00, Dimas sampai di rumahnya. Pelajar SMKN 1 Malang kelas 1 itu barulah mengeluh lemas dan sesak nafas pada Senin (17/4/2018). _ Sorenya, ia dibawa ke RSI Aisiyah Malang. Selasa (17/4/2018) pukul 21.00, Dimas dirujuk ke UGD RSU Dr Saiful Anwar Malang. Kondisinya lemas. Ia mendapat tabung oksigen dan perawatan tim medis RSU Dr Saiful Anwar Malang. Rabu (18/4/2018) sore, Dimas menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga amal dan ibadah almarhum diterima Allah SWT.. ???????? Serta keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan & kesabaran.. Amin ???????? _ Follow @LingkarGaruda Follow @LingkarGaruda Follow @LingkarGaruda #AremaFc #Arema #Aremania #Malang

A post shared by TIMNAS INDONESIA ???? (@lingkargaruda) on

Tri Wibisono, orang tua almarhum, memang sudah mengikhlaskan anaknya untuk menghadap Sang Khalik. Namun ini tak menghapus kesalahan para pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Arema dan panitia penyelenggara secara terbuka sudah meminta maaf atas jatuhnya korban jiwa ini. Dalam posting-an di akun media sosial Instagram, @aremafcofficial, kedua pihak tersebut mengatakan beribu-ribu minta maaf atas kejadian ini.

Dimas adalah korban ketiga dalam kompetisi Liga 1 Indonesia dalam seminggu terakhir. Sebelumnya, seorang Aremania juga tewas dalam perjalanan pulang pasca-menyaksikan laga Arema vs. Persib. Dia adalah Imam Shokib, asal Jombang, Jawa Timur.

Untuk yang satu ini, lokus kejadian memang tak di stadion. Melainkan di jalan raya. Namun, menurut lembaga nirlaba Save Our Soul dalam keterangan persnya mengatakan, saat itu Imam tengah dikejar oleh sejumlah oknum. Sehingga ia memacu kendaraannya dengan kencang dan menabrak mobil di depannya.

Korban terakhir, adalah Micko Pratama. Dia adalah seorang bonek (sebutan pendukung Persebaya Surabaya) meninggal setelah timnya, Persebaya, bertanding melawan PS TIRA, Jumat (14/3/2018).

Pria asal Sidoarjo tersebut tewas setelah terjadi bentrok dengan warga di Solo (Jawa Tengah). "Saya sudah ketemu dengan Mas Aulia (Presiden Pasoepati/klub sepak bola Persis Solo), dan kami saling meminta maaf," ujar Cak Rijal, seperti dilansir Bolasport (H/T Bolalob), Minggu (15/4/2018).

Tiga korban saat kompetisi baru berjalan empat pekan, menjadi noda kelam bagi PSSI yang hari ini sudah semakin tua dan operator liga, PT Liga Indonesia Baru. Selalu ada korban dalam tiap musim kompetisi.

Pertengahan November 2017, satu orang suporter Persija Jakarta bernama Rizal Yanwar Putra, tewas. Rizal meninggal karena dikeroyok sejumlah orang, di antaranya koordinator lapangan Viking--sebutan suporter Persib Bandung--Tanggul, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Bukan hanya itu, Agustus hingga Oktober 2017, ada dua suporter di Indonesia yang tewas. Mereka adalah Catur Yuliantono (meninggal saat menyaksikan timnas Indonesia vs. Fiji, 2 September) dan Ricko Andrean (meninggal saat menyaksikan Persib vs. Persija).

Kementerian Pemuda dan Olahraga, melalui Sekretaris Menpora, Gatot S. Dewa Broto, menyayangkan kejadian ini. Menurutnya, ada kesalahan prosedural yang dilakukan panpel dan petugas keamanan dalam menyikapi amarah suporter.

Atas peristiwa ini, Gatot meminta adanya sikap tegas dari PSSI dan PT LIB. "Janganlah ada satu korban di setiap pertandingan," ucap Gatot kepada Kumparan.

Atas kejadian meninggalnya Rizal, Catur, dan Ricko tadi, PSSI, melalui Sekretaris Jenderal, Ratu Tisha Destria, meminta media untuk tutup buku soal ini. Toh nyatanya, kini kejadian serupa kembali terulang.

Catatan redaksi: terdapat penambahan informasi yang masih relevan mengenai jumlah suporter tewas seminggu terakhir.
BACA JUGA