OBITUARIUM

Beristirahatlah dengan tenang, Sinyo Aliandoe

Senyum Sinyo Aliandoe pada 2006
Senyum Sinyo Aliandoe pada 2006 | Gunawan Wicaksono /Tempo

Tak banyak pelaku sepak bola Indonesia yang begitu dikenang publik. Sebastian Sinyo Aliandoe adalah salah seorang di antaranya.

Rabu pagi (18/11/2015), Sinyo meninggal pada usia 77 dalam perjalanan menuju RS Mayapada, Lebak Bulus, Jakarta. Jenazah pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, NTT, pada 1 Juli 1938 (sebagian media menyebut 1940) itu disemayamkan di Ruang Duka Gabriel, RS Carolus, Salemba, Jakarta.

Menurut rencana, Sinyo akan dimakamkan pada Jumat (20/11) pagi.

Putra bungsu almarhum, Theodorus Aliandoe, mengatakan penyebab meninggal kemungkinan jantung dan usia tua. "Kondisi bapak terus melemah seiring bertambahnya usia dan sejak lama juga sudah menderita demensia," kata Theodorus kepada Antaranews.

Selama hayat, Sinyo hidup untuk sepak bola. Bahkan sebelum mengalami demensia (pikun) akut sejak 2012, Sinyo masih sempat menyumbangkan ide dan tenaga untuk Komite Normalisasi PSSI pada 2011.

Saat itu PSSI tengah dilanda konflik kepengurusan.

Sepak terjang Sinyo dimulai saat memperkuat Persija Jakarta dan ikut menjuarai kompetisi perserikatan 1964. Bahkan ketika itu Persija berhasil juara tanpa terkalahkan sepanjang kompetisi.

Namun Sinyo harus pensiun dini lantaran patah kaki. Setelah itu dia banting setir menjadi pelatih. Sempat dikirim berguru ilmu kepelatihan ke Manchester United, Inggris, Sinyo mengantar Persija juara perserikatan 1973 dan 1975.

Kali ini dalam kapasitas pelatih.

Bahkan pada tahun 1973 pula, menurut Juara.net, Persija diantar Sinyo menjuarai turnamen Piala Quoch Khan di Vietnam.

Sinyo Aliandoe (kedua dari kanan) bersama Komite Normalisasi PSSI di Jakarta, 18 Mei 2011
Sinyo Aliandoe (kedua dari kanan) bersama Komite Normalisasi PSSI di Jakarta, 18 Mei 2011 | Aditia Noviansyah /EPA

Tak banyak pelaku sepak bola yang mampu juara dengan satu tim dalam dua status berbeda serta pada beda zaman pula; sebagai pemain dan pelatih.

Bahkan di level negara mapan sepak bola sekalipun tak banyak.

Antara lain, Franz Beckenbauer bersama Jerman (1974 dan 1990) serta Mario Zagallo bersama Brasil (1958, 1962, 1970 dan 1994).

Sinyo memang beda. Dia patut dikenang.

Laman Pandit Football menjuluki Sinyo adalah bapak offside sepak bola Indonesia. Sinyo adalah orang pertama yang mengenalkan strategi jebakan offside dalam permainan di Indonesia.

Bahkan dengan strategi itu, timnya sekaligus bisa menekan (pressing) lawan. Pressing adalah napas lazim permainan sepak bola masa kini. Sementara Sinyo menerapkannya sejak era 70-an.

Hal itu disampaikan Pelatih Persija, Bambang Nurdiansyah, yang juga mantan anak asuh Sinyo di timnas Indonesia pada kurun 80-an.

Segala kepuutusan Sinyo, menurut Bambang, selalu didasari perhitungan statistik dan analisa teknis. "Caranya menjalankan strategi mirip dengan pelatih-pelatih modern pada saat ini. Saya belajar banyak dari dirinya," kata Bambang kepada Metrotvnews.com.

Hal senada dikatakan mantan anak asuh Sinyo, Rully Nere. "Dia mengandalkan tehnik," kata Rully kepada Bisnis.com, yang mengenang prestasi Sinyo saat nyaris meloloskan Indonesia ke Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Pada kualifikasi zona Asia timur, Sinyo membawa Indonesia ke puncak Grup B pada putaran pertama. Di grup itu, Indonesia tidak terkalahkan dari India, Thailand, dan Bangladesh.

Namun di babak berikut, menurut data RSSSF, Indonesia kalah kualitas dari Korea Selatan. Main di Seoul kalah 0-2 dan di Jakarta menyerah 1-4 pada "tim ginseng."

Selepas itu nama Sinyo meredup. Tapi warisan timnya tetap bersinar sebelum lagi-lagi Korea Selatan menjadi momok.

Penerus Sinyo di kursi pelatih timnas Indonesia, Bertje Matulapelwa, membawa tim warisan itu hingga empat besar Asian Games Seoul 1986. Korea Selatan sebagai tuan rumah menang telak 5-0 atas Indonesia pada semifinal.

Kini, Sinyo meninggalkan warisan nama harum. Di Twitter, ucapan belasungkawa mengalir dari para pendukung Persija dan Arema Malang --tim yang pernah dilatihnya pula. Sejumlah pelatih dan mantan anak asuhnya memberi penghormatan dan kesaksian positif.

Kenangan yang besar untuk Sinyo membuat namanya sempat masuk jajaran tren topik Twitter Indonesia pada pukul 14.00 WIB.

Selamat jalan Om Sinyo, beristirahatlah dengan tenang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR