Tangis haru menyambut hasil audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016
Tangis haru menyambut hasil audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 Beritagar.id / Abdul Arif

Berjuang menjadi bintang lewat Djarum Beasiswa Bulutangkis

Para atlet belia bulu tangkis Indonesia unjuk gigi dalam audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016. Mereka ingin bersinar pada masa depan.

Iringan lagu "Ayo Indonesia Bisa" menggema di Gedung Olahraga (GOR) Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Ahad (4/9/2016) siang. Lagu itu menandai akhir perhelatan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016.

Pengumuman hasil final audisi sedianya disampaikan pada pukul 14.00 WIB. Namun jadwal penguman telah lewat satu jam. Para peserta yang mengenakan kostum merah putih dengan logo Djarum di dada itu terlihat tak sabar menanti.

Penantian itu terjawab setelah pelatih dan tim pencari bakat PB Djarum menampakkan diri di lapangan. Manajer tim PB Djarum, Fung Permadi, memberi sedikit prolog tentang hasil audisi.

Fung (48), mantan pemain tunggal putra Indonesia, menyampaikan bahwa daya juang seorang pemain adalah pertimbangan utama para pencari bakat untuk menentukan pilihan.

Para peserta hanya menyimak. Mereka berbaris membentuk beberapa banjar sesuai kategori usia yang terpampang di depan barisan.

Mereka merupakan peserta yang lolos ke tahap dua final Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016. Jumlahnya 63 orang.

Beberapa pelatih lalu membagikan amplop kepada masing-masing peserta. Isi amplop itulah yang mengabarkan peserta lolos atau tidak.

Seorang atlet mengucapkan doa sebelum pengumuman hasil audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 di Kudus, Jawa Tengah, Ahad (4/9/2016)
Seorang atlet mengucapkan doa sebelum pengumuman hasil audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 di Kudus, Jawa Tengah, Ahad (4/9/2016) | Abdul Arif /Beritagar.id

Beberapa orang tampak lesu menerima amplop itu. Sesekali menengadahkan kedua telapak tangan sembari berucap doa. Ada juga yang memasang wajah riang dan usil kepada peserta lain.

Tapi suasana berubah haru saat amplop itu dibuka secara bersamaan. GOR Djarum banjir air mata.

Peserta yang memperoleh ucapan selamat dalam amplop itu segera menghampiri orang tua. Mereka disambut dengan cium kening dan pelukan. Tangis ibu dan anak pun pecah.

Meski demikian, air mata yang mengucur saat itu tidak memiliki arti sama. Sebab hanya 53 peserta yang lolos. Sisanya harus pulang.

Muhammad Rayhan Nur Fadillah , 12 tahun, adalah salah seorang peserta yang beruntung. Amplop yang dia buka berisi ucapan selamat karena telah lolos ke tahap karantina.

Anak kelahiran Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, ini pun segera mencari sang bunda, Rusnawati (41), yang menyaksikan dari belakang.

Rayhan merupakan siswa Kelas 1 SMP 2 Kusan Hilir Tanah Bumbu. Dia bersama keluarga jauh-jauh mengikuti audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis di Kudus.

Untuk mencapai ke tahap final, Rayhan harus bermandi peluh menjalani delapan pertandingan. Tapi ini bukan audisi pertamanya.

Tahun lalu Rayhan juga mengikuti audisi yang sama di Kudus. Namun dia tersingkir saat memasuki tahap karantina. Dia tak lolos tes fisik.

Berbekal pengalaman itu, Rayhan datang lagi untuk edisi tahun ini. Dari delapan pertandingan audisi, Rayhan hanya satu kali kalah.

Lawan yang mengalahkan adalah Alexandria Da Matta. Namun kekalahan itu terbalas saat pertandingan pamungkas dengan skor 21-12 dan 21-15.

"Rasanya sudah plong bermain habis-habisan. Harapannya semoga bisa masuk PB Djarum," katanya.

Rusnawati merasa bangga putra ketiganya itu bisa melangkah sejauh ini. Apalagi masuk tahap karantina tidaklah mudah dan Rayhan belum pernah bergabung dengan klub mana pun.

Di Tanah Bumbu, Rayhan hanya berlatih didampingi sang kakak. Meski demikian Rayhan bisa mencatat sejumlah prestasi membanggakan.

Pada usianya yang masih belia, dia menjuarai O2SN tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi saat kelas 3, 4 dan 5 SD. Pada 2015, dia bahkan lolos ke tingkat nasional kendati belum bisa menjadi juara.

"Anak saya juga juara 1 se-Kalimantan Selatan pada Desember 2015. Agustus 2016 ini juga juara di Kejuaraan Wilayah se-Kalimantan," kata Rusnawati.

Peserta lain, Chiara Marvella Handoyo (11) bahkan harus menahan nyeri di paha selama audisi final berlangsung. Chiara mengalami cedera saat latihan enam minggu yang lalu.

Ayahnya, Handoyo, sudah membawanya ke dokter untuk diperiksa. Juga membawanya ke terapis akupunktur.

Chiara pun diperbolehkan main. Hanya saja dia masih merasakan kesakitan. Meski demikian dia tetap lolos masuk tahap karantina.

"Saya sudah cukup puas dengan penampilan anak saya. Dia sudah berjuang maksimal," kata Handoyo yang warga Klaten, Jawa Tengah.

Tangis haru Angelique Jenice Sentosa Cheung usai menerima Super Tiket dari PB Djarum
Tangis haru Angelique Jenice Sentosa Cheung usai menerima Super Tiket dari PB Djarum | Abdul Arif /Beritagar.id

Pengalaman mengesankan juga diperoleh Angelique Jenice Sentosa Chung, 13 tahun, selama mengikuti audisi umum PB Djarum. Tahun sebelumnya Angelique sudah pernah ikut audisi namun gagal.

Tahun ini dia bahkan sudah kalah di beberapa kota yang mengelar audisi. Di Purwokerto, dia tersingkir pada babak delapan besar. Dia lalu mengadu nasib di Cirebon. Hasilnya, dia juga kalah di semifinal.

Tapi dua kegagalan itu tidak membuatnya surut.

Di Kudus, gadis kecil kelahiran Purwokerto 12 Februari 2003 itu mendapatkan momentumnya. Meskipun kalah dalam turnamen aduisi, dia memperoleh Super Tiket dari tim pencari bakat untuk melanjutkan ke final audisi.

Saat menerima Super Tiket itu, dia bahkan harus diadu permainan netting dengan pemain lainnya hinga akhirnya bisa lolos tahap karantina.

"Deg-degan saat diadu netting. Harus lebih bersemangat lagi," kata siswi kelas VIII SMP Bruderan Purwokerto, Jawa Tengah, itu.

Super Tiket

Dari segi kuantitas, jumlah pendaftar audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pendaftar tahun ini bahkan mencapai 4.547 orang. Lebih banyak dari tahun sebelumnya, yaitu 2.916 orang.

Program Director Djarum Foundation Bhakti Olahraga, Yoppy Rosimin, menyebut ada fenomena menarik.

Masyarakat di berbagi kota yang dikunjungi PB Djarum menunjukkan minat tinggi untuk mendaftar audisi.

Pada 2015; audisi digelar di Medan, Palembang, Jember, Balikpapan, Manado, Makassar, Tasikmalaya, Purwokerto, dan Kudus.

Tahun ini kombinasi kota menjadi Bandung, Palembang, Purwokerto, Balikpapan, Solo, Makassar, Cirebon, Surabaya, dan Kudus.

"Agar peta yang masuk final beragam. Harapannya mendapatkan talenta muda di bawah U-13," kata Yoppy menjelaskan maksud perubahan itu.

PB Djarum kebetulan tidak mematok kuota peserta audisi umum. Kriteria dasar merekrut atlet adalah kualitas.

Itu sebabnya jumlah peserta selalu berbeda dari tahun ke tahun. Dia menyebutkan rata-rata jumlah penerima beasiswa 19-20 orang per tahun. Adapun jumlah tertinggi yang pernah terjadi adalah 26 orang.

Tahun ini tim pencari bakat hanya meloloskan 142 orang untuk kembali bersaing di final audisi yang dilaksanakan di GOR Djarum, Jati, Kudus pada 2-4 September 2016.

Belakangan yang melakukan registrasi ulang hanya 135 orang. Mereka diambil dari semifinalis (putra) dan finalis (putri) di masing-masing kota audisi.

Beberapa pemain berbakat yang kalah dalam turnamen itulah yang mendapatkan Super Tiket dari tim pencari bakat. Angelique adalah salah seorang di antaranya.

Fung mengatakan Super Tiket diberikan kepada atlet yang mampu memukau tim pencari bakat melalui penampilan apiknya. "Pemberian Super Tiket mengandalkan mata hati dan pengalaman pelatih," katanya.

Christian Hadinata, salah seorang legenda bulu tangkis Indonesia, yang tergabung dalam tim pencari bakat mengatakan bahwa alasan pemberian Super Tiket dipengaruhi potensi bagus sang atlet bersangkutan.

Dia menjelaskan, atlet yang kalah dalam turnamen audisi bisa jadi karena sama-sama memiliki kualitas yang bagus. Untuk itu tim pencari bakat masih memberi kesempatan.

Para peraih Super Tiket final audisi dari berbagai kota mulai berdatangan di GOR Djarum, Kudus, untuk melakukan registrasi ulang sejak Kamis (1/9). Mereka terbagi dalam beberapa kategori usia; U-15 putra, U-15 putri, U-13 putra dan U-13 putri.

Jatuh bangun demi menjadi bintang bulu tangkis masa depan
Jatuh bangun demi menjadi bintang bulu tangkis masa depan | Abdul Arif /Beritagar.id

Selanjutnya mereka berkompetisi melalui pertandingan sebanyak lima kali.

Hari pertama final audisi yang berlangsung pada Jumat (2/9), peserta bertanding dengan sesama finalis yang ditentukan pelatih sebanyak dua kali.

Pada hari kedua, Sabtu (3/9), peserta bertanding dengan finalis yang lebih berat lagi atau diadu dengan atlet seusianya dari PB Djarum. Selanjutnya pada Ahad ( 4/9), peserta menjalani pertandingan sebanyak satu kali.

Fung menjelaskan, tahap karantina berlangsung di asrama PB Djarum selama sembilan hari; 5-13 September 2016. Para peserta harus datang ke asrama mulai Ahad (4/9)pukul 18.00 WIB dengan membawa peralatan masing-masing.

Namun masuk asrama belum berarti perjuangan para peserta audisi selesai. Atlet yang lolos masuk tahap karantina belum tentu diterima di PB Djarum.

Fung mengungkapkan para atlet harus menjalani tes fisik dan hasilnya akan diumumkan pada masa akhir karantina. Bila hasilnya tak memadai, ya mereka harus rela tersingkir.

"Mulai Audisi Umum hingga Final Audisi di Kudus, kami ingin semakin menggairahkan olahraga bulu tangkis ke seluruh pelosok Indonesia. Harapannya tentu agar mampu melahirkan atlet-atlet bulu tangkis berbakat sehingga menjadi bintang pada masa depan. Juga menjaga supremasi bulu tangkis Indonesia," katanya.

Fung juga menjelaskan hasil evaluasi PB Djarum dari tahun ke tahun; agresivitas tinggi berbagai klub bulu tangkis di Indonesia dalam merekrut atlet.

Itu sebabnya PB Djarum fokus pada perekrutan atlet U-13 dan U-11. Namun langkah itu masih menjadi perbincangan panjang di antara para pengurus PB Djarum.

Kemudian para pemain yang ikut audisi juga mengalami perkembangan dari segi kualitas. Hal itu tampak dari teknik dasar yang ditunjukkan oleh peserta audisi umum Djarum Beasiswa Bulutangkis.

Salah satu sudut wisma atlet PB Djarum di Kudus, Jawa Tengah
Salah satu sudut wisma atlet PB Djarum di Kudus, Jawa Tengah | Abdul Arif /Beritagar.id

Para atlet yang berhasil diterima dan mendapatkan beasiswa bulu tangkis dari PB Djarum akan mendapat berbagai pelatihan dan fasilitas olahraga secara lengkap. Termasuk fasilitas asrama.

Beritagar.id didampingi pembantu administrasi kantor Persatuan Olahraga PB Djarum, Roni Jahuri, mendapat kesempatan menengok kondisi asrama para atlet PB Djarum di Jati, Kudus.

Para atlet yang kebetulan libur terlihat sedang bersantai. Beberapa orang di antaranya sedang sarapan di ruang makan yang berada tepat di belakang lapangan.

Gedung asrama dua lantai terletak di bagian belakang. Asrama putra di sebelah kiri dan asrama putri di sebelah kanan.

Masing-masing berkapasitas 40 orang. Adapun asrama pelatih berada di antara asrama putra dan putri.

Atlet PB Djarum, Sintia Dewi Yuliani (14), berbagi pengalaman tinggal sehari-hari di asrama tersebut. Dia mengaku merasa nyaman tinggal bersama teman-teman atlet lainnya.

Sintia menjadi atlet PB Djarum mulai 2014 lalu melalui audisi umum di Kudus. "Yang membuat saya betah di sini (asrama), teman-temannya seru. Latihannya juga. Dan fasilitasnya paling bagus," kata gadis kelahiran Semarang, 16 Juli 2002, itu.

Sintia bersama para atlet lainnya rutin mengikuti latihan bersama para pelatih. Latihan khusus berlangsung pada Senin-Sabtu. Setiap hari dua kali kecuali Rabu dan Sabtu yang hanya sekali.

Latihan pagi hari berlangsung pada pukul 07.00-10.30. Setelah itu mandi, makan siang dan istirahat. Latihan dilanjutkan kembali pada pukul 14.00-18.00.

"Lalu mandi dan makan malam. Habis itu waktunya nonton televisi atau mainan ponsel. Jam 9 malam, ponsel dikumpulkan," kata siswi Siswa SMP Taman Dewasa Kudus itu.

Di asrama, jadwal makan juga diatur. Menurut Sintia, waktu sarapan biasanya berlangsung pukul 06.00-09.00. Makan siang pukul 12.00-14.00 dan makan malam pukul 18.00-21.00.

Sejak 2014 hingga sekarang, Sintia sudah mengikuti lebih dari 10 turnamen tingkat daerah maupun nasional. Menurut dia, turnamen paling mengesankan adalah saat tampil di Sirnas Riau 2015.

Pada babak delapan besar, dia bertemu lawan bernama Nahla dari Jayaraya Jakarta. Sintia pernah dikalahkan olehnya. Namun kali itu, Sintia membalas kekalahan dan merasa bangga.

Atlet lain, Alberto Alvi Yulianto (16), juga menikmati kehidupan di asrama PB Djarum. Remaja kelahiran Purwokerto 7 Januari 2000 ini bergabung di PB Djarum sejak 2011.

Ketika itu umurnya masih 11 tahun. Tapi Alberto tidak melewati audisi umum. Pelajar SMA Kanisius kelas XII ini bergabung melalui tes pribadi.

"Sebelumnya sudah pernah menjuarai turnamen BM 77 di Bandung. Lama-lama kenal PB Djarum dan akhirnya bisa tes pribadi," katanya.

Seingat Alberto, ada banyak atlet seangkatannya yang masuk ke PB Djarum. Namun banyak yang terdegradasi. Yang masih bertahan hingga saat ini hanya empat orang.

Dia ingin terus berprestasi agar bisa tetap bertahan. Hal itu baru saja dibuktikannya dengan mengikuti turnamen Sirnas di Medan pekan lalu. Dia pulang dengan membawa gelar juara remaja U-17 pada ajang tersebut.

Menurut keterangan Roni, para atlet yang terdegradasi biasanya pindah ke klub lain. PB Djarum memang menerapkan sistem yang sangat ketat dalam pembinaan.

Adapun Yoppy Rosimin mengatakan bahwa atlet bisa terdegradasi jika kualitasnya tidak baik.

Menurut dia, evaluasi dilakukan pada setahun pertama. Selanjutnya, evaluasi dilakukan setiap tiga bulan (triwulan).

"Kami juga berkomunikasi dengan orang tua. Kalau ada atlet yang terdegradasi kami sampaikan kepada orangtua," katanya.

Peraih medali perunggu tunggal putri Olimpiade Beijing 2008, Maria Kristin, mengungkapkan pembinaan dan fasilitas PB Djarum saat ini jauh lebih baik ketimbang saat dirinya masuk menjadi atlet PB Djarum pada 1998.

"Sekarang semua sarananya lengkap. Kalau dulu masih biasa saja. Namun dari yang biasa itu para atlet jadi nggak manja," katanya.

Sebagai instruktur, Maria berharap para atlet muda lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam latihan.

Dia mengingatkan para atlet agar tak lupa pada niat waktu pertama kali ikut audisi. Berdasarkan pengalamannya, kebanyakan para atlet lupa pada tujuan utama tersebut.

Padahal untuk lolos audisi sangat susah. "Tantangan pemain bulutangkis sekarang itu, terutama kategori putri, adalah permainan pemain asing sangat kuat dan cepat. Jika ingin menang harus kuat dan cepat," imbuhnya.

Roni kemudian mengajak Beritagar.id melihat fasilitas lain di GOR PB Djarum. Dia mengatakan, pelatihan bulu tangkis atlet PB Djarum ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai.

PB Djarum memiliki gedung olahraga seluas 29.450 persegi. Di dalamnya terdapat 16 lapangan yang terbagi dalam 12 lapangan beralas kayu dan sisanya beralas karet sintetis.

GOR juga dilengkapi peralatan kebugaran dan ruang fisioterapi. Ada dua orang yang bertugas di ruangan ini.

"Jika ada atlet yang mengalami cedera atau ganguan fisik lainnya bisa dibawa ke fisioterapi," kata Roni.

Seorang petugas menyiapkan kok untuk keperluan audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 di GOR Djarum, Kudus, Jawa Tengah
Seorang petugas menyiapkan kok untuk keperluan audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 di GOR Djarum, Kudus, Jawa Tengah | Abdul Arif /Beritagar.id

Selain itu PB Djarum juga menyediakan raket yang siap dipakai para atlet untuk berlatih. Senar raket yang dipakai ada beberpa jenis. Di antaranya senar Yonex bg 65, Flypower 65 dan Lining No 1.

Senar raket disetel (setting) khusus menyesuaikan usia maupun kebiasaan para atlet. Adalah Darmanto yang bertugas menyetel senar para pemain di PB Djarum.

Biasanya Darmanto menyetel senar raket dengan mesin elektrik Flypower. Kekencangan senar bisa diatur melalui mesin itu. Biasanya berkisar antara 31-40.

"Kalau raket yang dipakai Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir saat karantina di PB Djarum awal Agustus lalu, kekencangan senarnya 31," katanya.

Selain urusan senar raket, PB Djarum juga menyiapkan kok. Bagian pelayanan umum logistik PB Djarum, Ahmad Zamroni, mengatakan bahwa kebutuhan kok untuk latihan atlet PB Djarum dalam sehari mencapai 50 tabung.

Untuk menyuplai kebutuhan itu, pihaknya menyediakan hingga 17 kardus berbagai jenama kok. Misal Flypower enam kardus, Johan Wahyudi empat kardus, E'France empat kardus dan Victor dua-tiga kardus.

"Kok memang dari beragam merk agar para atlet bisa terbiasa," katanya menjelaskan.

Peraih medali emas ganda campuran bulutangkis Olimpiade Rio 2016 Tontowi Yahya (kiri) dan Liliyana Natsir (kanan) tiba di gerbang kota Kudus, Jawa Tengah, Kamis (1/9/2016)
Peraih medali emas ganda campuran bulutangkis Olimpiade Rio 2016 Tontowi Yahya (kiri) dan Liliyana Natsir (kanan) tiba di gerbang kota Kudus, Jawa Tengah, Kamis (1/9/2016) | Abdul Arif /Beritagar.id

Kamis siang itu (1/9), langit Kota Kudus sangat cerah. Bahkan terik matahari cukup menyengat.

Tapi kondisi itu tak menghalangi barisan pelajar di Kota Kretek yang menantikan rombongan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Barisan terdiri dari pelajar SD, SMP dan SMA.

Mereka memadati bibir jalan dari Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) hingga alun-alun Simpang 7 Kota Kudus.

Mereka menantikan kehadiran pasangan peraih medali emas bulu tangkis ganda campuran Olimpiade Rio 2016 yang biasa disapa Owi/Butet itu. Mereka menanti Owi/Butet hingga kurang lebih satu jam.

Owi/Butet datang ke Kudus untuk meramaikan pembukaan final audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 yang belangsung selama tiga hari, 2-4 September 2016, di Gedung Olahraga PB Djarum, Jati Kudus.

Pasangan ini diarak keliling kota mulai Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK), mampir di Brak Bitingan Lama 53 lalu menuju Simpang 7 Kota Kudus. Mereka diarak dengan kendaraan VW yang sudah dimodifikasi menjadi dua lantai.

Bagian atapnya terbuka. Bagian muka mobil VW itu tertulis "Owi/Butet Juara Medali Emas Olimpiade Rio 2016". Keduanya mengenakan kostum berwarna dasar merah dan berkacamata hitam.

Para pelajar menyambut riang lambaian tangan dan lemparan senyum Owi/Butet. Sesekali Owi mengangkat tongsis untuk mengabadikan swafoto momentum itu.

Ada juga yang menyambut dengan iringan musik rebana. Bahkan sesekali para pelajar memblokir jalan agar bisa berlama-lama berfoto dengan kedua pemain bintang PB Djarum itu.

Yoppy Rosimin, mengungkapkan bahwa Owi/Butet merupakan contoh nyata atlet berprestasi binaan PB Djarum.

Keduanya berhasil mempersembahkan kado medali emas tepat pada saat Republik Indonesia memperingati kemerdekaan ke-71 pada 17 Agustus 2016.

Tontowi Ahmad (kiri) melakukan swafoto dengan tongsis di Simpang 7 Kudus, Jawa Tengah, Kamis (1/9/2016)
Tontowi Ahmad (kiri) melakukan swafoto dengan tongsis di Simpang 7 Kudus, Jawa Tengah, Kamis (1/9/2016) | Abdul Arif /Beritagar.id

PB Djarum pun memberikan apresiasi yang sangat tinggi. Djarum Foundation memberikan hadiah senilai lebih dari Rp5 miliar. Kemudian masing-masing memperoleh rumah senilai Rp1,5 miliar di perumahan Graha Padma, Semarang, Jawa Tengah.

Mereka juga menerima bonus masing-masing senilai Rp 1 miliar dan hadiah Polytron LED Smart TV berukuran 65 inchi. Hadiah TV juga diberikan kepada Richard Mainaky, pelatih Owi/ Butet.

Kirab Owi/Butet di Kudus juga diikuti oleh para legenda bulu tangkis yang pernah meraih medali olimpiade untuk Indonesia.

Mereka adalah pahlawan di Olimpiade 1992 Susi Susanti dan Alan Budikusuma (emas), Eddy Hartono (perak). Lalu bintang Olimpiade Atlanta 1996 Rexy Mainaky (emas) dan Denny Kantono/ Antonius Budi Ariantho (perunggu).

Terakhir adalah peraih medali Olimpiade Sydney 2000 Minarti Timur (perak) dan peraih medali Olimpiade Beijing 2008 Maria Kristin (perunggu).

Pelatih PB Djarum, Christian Hadinata, yang berhasil mengantar Ricky Subagja/Rexy Mainaky meraih medali emas ganda putra di ajang Olimpiade Atlanta 1996 juga turut hadir. Legenda bulu tangkis yang juga putra asli kelahiran Kudus, Liem Swie King dan Hariyanto Arbi, tak luput ikut kirab.

Arak-arakan Owi/Butet seolah menapak tilas sejarah PB Djarum. Rute yang dipilih memiliki nilai sejarah bagi PB Djarum.

Menurut Manajer Komunikasi Bhakti Olahraga Djarum Foundation, Budi Darmawan, kirab juara Olimpiade Rio 2016 ini juga mengulang kembali momentum 32 tahun silam.

Tepatnya pada 1984. Saat itu, kata dia, Indonesia berhasil meraihPiala Thomas. "Dari delapan atlet, tujuh di antaranya merupakan atlet dari PB Djarum. Mereka juga diarak keliling Kota Kudus," katanya.

PB Djarum memang punya cerita panjang.

Budi berkisah, langkah PB Djarum bermula dari Brak Bitingan Lama 53, Kudus, pada masa 1969. Saat itu karyawan PT Djarum gemar bermain bulu tangkis. Kebetulan CEO PT Djarum, Budi Hartono, juga memiliki kepedulian yang tinggi pada olahraga tersebut.

Niat awalnya hanya sederhana ingin membuat latihan bulu tangkis bersama bagi karyawan PT Djarum. Brak Bitingan Lama menjadi pilihan.

Brak yang saban hari menjadi tempat karyawan untuk melinting rokok itu disulap menjadi lapangan bulu tangkis saat sore hari. Latihan bulu tangkis itu diberi nama Komunitas Kudus.

Rupanya, makin hari peminat bulu tangkis di Djarum kian ramai. Setahun berikutnya (1970), brak Bitingan terbuka bagi masyarakat umum yang ingin ikut latihan.

Liem Swie King yang saat itu masih berumur 13 tahun ikut bergabung. Liem muda menunjukkan prestasi gemilang dengan menjadi juara tunggal putra junior Munadi Cup pada 1972.

Dari situlah Budi Hartono tergugah ingin serius mengembangkan komunitas menjadi PB Djarum. "Lalu muncul inisiatif, kenapa tidak membentuk klub bulu tangkis saja," kata Budi Darmawan.

Akhirnya, PB Djarum resmi berdiri pada 1974.

Berbagai penghargaan tingkat dunia mulai digapai. Mulai dari kejuaraan Piala Thomas, All England, hingga Olimpiade.

Liem yang bergabung sejak awal bahkan mencatat prestasi membanggakan dengan menjuarai All England secara berturut-turut pada 1978, 1979 dan 1981.

Setelah Liem, sejumlah atlet berprestasi lahir dari PB Djarum. Di antaranya Kartono, Heryanto, Alan Budi Kusuma, Eddy Hartono, Gunawan, Ardy B Wiranata, Hariyanto Arbi, Anthonius, Denny Kantono, Sigit Budiarto, Minarti Timur, Eng Hian, Maria Kristin, M Ahsan,Praveen Jordan/Debby Susanto hingga pasangan Owi/Butet.

Hingga sekarang, lanjut Budi, PB Djarum masih berkomitmen mengembangkan bulu tangkis melalui Djarum Beasiswa Bulutangkis. Melalui beasiswa ini; para atlet akan mendapatkan pembinaan, pelatihan, tempat tinggal, dan sejumlah fasilitas penunjang lain secara gratis.

"Ada 5.000 lebih atlet bulu tangkis yang telah dibina PB Djarum sejak 1969," katanya.

Bahkan karena animo beasiswa demikian tinggi, PB Djarum mengubah metode perekrutan dan tidak membatasi jumlah rekrutan.

Bila audisi pada awalnya hanya dilakukan di Kudus, PB Djarum kemudian melakukan jemput bola karena banyak peminat dari berbagai daerah.

"Mulai 2015 PB Djarum membuka audisi umum Djarum Beasiswa Bulutangkis di 9 kota besar di Indonesia," jelasnya.

Catatan redaksi: Beritagar.id terafiliasi secara tidak langsung dengan PT Djarum
BACA JUGA