BULU TANGKIS

Bertambahnya turnamen level atas dunia di Indonesia

Ekspresi ganda putra Indonesia Fajar Alfian (kanan) dan Muhammad Rian Ardianto saat mendapatkan poin ketika melawan ganda putra Malaysia Goh V Shem dan Tan Wee Kiong pada babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di St. Jakobshalle, Basel, Swiss, Kamis (22/8/2019).
Ekspresi ganda putra Indonesia Fajar Alfian (kanan) dan Muhammad Rian Ardianto saat mendapatkan poin ketika melawan ganda putra Malaysia Goh V Shem dan Tan Wee Kiong pada babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di St. Jakobshalle, Basel, Swiss, Kamis (22/8/2019). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Mulai bulan depan, akan ada satu lagi turnamen bulu tangkis tingkat dunia di Indonesia, namanya Yuzu Indonesia Masters. Ia menjadi turnamen seri BWF World Tour ketiga yang berlangsung di Tanah Air, setelah Blibli Indonesia Open dan Daihatsu Indonesia Masters.

Tak seperti dua turnamen lain yang berlangsung di Jakarta, Yuzu Indonesia Masters 2019 bakal berlangsung di GOR Ken Arok, Malang, Jawa Timur, 1-6 Oktober 2019.

Bila Indonesia Open berlevel Super 1000--tertinggi dalam rangkaian BWF World Tour--dan Daihatsu Indonesia Masters adalah Super 500, maka Yuzu Indonesia Masters jadi yang terendah, yakni Super 100. Walau demikian turnamen itu tetap berkelas dunia.

"Indonesia harus berbangga karena memiliki tiga turnamen level atas dunia saat ini," ucap Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PP PBSI), Achmad Budhiarto, dalam acara jumpa pers di Jakarta pada Rabu (11/9/2019).

Ucapan Budhiarto tak sedang membesar-besarkan peran Indonesia. Musababnya, jarang satu negara mampu menyelenggarakan kejuaraan level atas sebanyak itu. Hanya Tiongkok yang mampu melebihi Indonesia: Lingshui China Masters, China Open, Fuzhou China Open, dan BWF World Tour Finals.

Sekadar catatan, pada 2019, BWF mengklasifikasi turnamen. Tertinggi, BWF World Tour dengan level 1 (BWF World Tour Final) hingga 6 (seperti Yuzu Indonesia Masters). Di bawah BWF World Tour, ada Continental Circuit, biasa disebut BWF Open Tournaments.

Olahraga tepok bulu ini memang banyak penggemarnya di Nusantara, pun menjadi salah satu cabang yang banyak berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Sebut saja tujuh medali emas Olimpiade dan juga bolak-balik atletnya juara di berbagai turnamen bergengsi, macam All England atau Kejuaraan Dunia.

Mengapa penyelenggara dan PBSI memilih melangsungkan Yuzu Indonesia Masters di Malang? Bukan di Jakarta seperti dua turnamen lainnya?

"Jakarta sudah cukup banyak kejuaraan internasional-nya. Dan PBSI memang ingin meratakan event International ke sejumlah daerah juga," jawab Budhiarto.

Foto bersama para narasumber jumpa pers "YUZU Indonesia Masters Super 100" yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Rabu (11/9/2019).
Foto bersama para narasumber jumpa pers "YUZU Indonesia Masters Super 100" yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Rabu (11/9/2019). | Panitia Yuzu Indonesia Masters 2019

Sebenarnya, Yuzu Indonesia Masters ini bukan turnamen baru di Indonesia. Setidaknya, pada 2018, turnamen ini sudah ada dengan nama Bangka Belitung Indonesia Masters. Hanya saja, saat itu levelnya masih Grand Prix.

Dengan klasifikasi baru BWF pada 2019 ini, turnamen tersebut seolah "naik kelas" dengan masuk level elite. "Ini adalah kali pertama Indonesia memiliki turnamen level (BWF World Tour) 1000, 500, dan 100," ucap Budhiarto.

Dengan kenaikan tersebut, tentu saja membuat animo pebulu tangkis dunia tertarik untuk ambil bagian. Setidaknya, ada 15 negara yang telah memastikan mengirim atlet mereka untuk turun di turnamen dengan total hadiah AS$75.000 (Rp1,04 miliar) tersebut. Total, ada 302 atlet yang ambil bagian dari turnamen ini.

"Yuzu Indonesia Masters ini juga menjadi turnamen pengumpulan poin ke Olimpade 2020," kata Budhiarto.

Sedangkan Ketua Umum PP PBSI, Wiranto, berharap turnamen ini dapat dimanfaatkan para pemain untuk membuat bangga Indonesia. "Sepak bola saat ini belum bisa membuat bangga olahraga Indonesia. Saya harap bulu tangkis tetap bisa memberi kebanggaan bagi Indonesia," katanya.

Andalkan Fajar/Rian

Pada umumnya, turnamen dengan kategori BWF World Tour 100 diikuti oleh para pemain pelapis, atau setidaknya yang junior. Tujuannya, untuk meningkatkan ranking dunia dan memberi pengalaman bertanding internasional kepada mereka.

Namun, ada yang membedakan untuk turnamen yang diadakan oleh Yuzu Isotonic kali ini. Yakni, turunnya ganda putra peringkat tujuh dunia, Fajar Alfianto/Muhammad Rian Ardianto. Mereka menjadi unggulan pertama turnamen untuk nomor ganda putra.

Meski demikian, Fajar tidak kecewa dengan keputusan PBSI ini. Toh, mereka menyadari bahwa akhir-akhir ini tak beroleh hasil memuaskan.

"Kami mengakui masih tertinggal dalam pengumpulan poin ke Olimpiade dari Kevin (Sanjaya)/Marcus (Gideon) dan Hendra (Setiawan)/(Mohammad) Ahsan. Kami akan memberi hasil maksimal," kata Fajar.

Dalam turnamen kali ini, PBSI menargetkan setidaknya dua nomor menjadi juara. Tentu saja, nomor ganda putra menjadi salah satunya, apalagi di sana terdapat Fajar/Rian.

"Masing-masing punya target. Misalnya, untuk junior setidaknya masuk delapan besar. Atau, untuk pratama bisa masuk semifinal," ungkap Susi Susanti, Kepala Bidang Pengembangan dan Prestasi PBSI. "Kami target juara di dua nomor."

Untuk mewujudkan hal itu, bukan perkara mudah. Seperti yang telah disinggung di atas, banyak pemain dunia yang akan ambil bagian. Misalnya, di nomor tunggal, Loh Kean Yew (Singapura) dan Kazumasa Sakai (Jepang) masuk dalam daftar peserta.

Sedangkan nomor ganda putra, ada nama-nama Huang Kai Xiang/Liu Cheng dan Ou Xuan Yi/Zhang Nan dari Tiongkok yang juga ikut serta. Sektor ganda putri lebih berat lagi bagi para pemain tuan rumah. Sebab, peringkat tujuh dunia, Du Yue/Li Yun Hui (Tiongkok) ambil bagian.

Menyambut para pemain dunia ini, Malang, selaku kota penyelenggara, mengakui telah siap. "Kami sudah mempersiapkan sebaik-baiknya, mulai dari transportasi, akomodasi, atau lapangan pertandingan," ucap Walikota Malang H. Sutiaji.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR