Bulu tangkis Jepang mulai menebar ancaman

Pemain tunggal putri Jepang, Akane Yamaguchi
Pemain tunggal putri Jepang, Akane Yamaguchi | Kamran Jebreili /AP Photo

Jepang kini menjadi kekuatan baru bulu tangkis dunia. Ahad lalu (19/2/2017), misalnya, para pemain negeri Matahari Terbit memukul Korea Selatan 3-0 untuk menjuarai kejuaraan Asia Mixed Team edisi perdana (2017).

Sebenarnya, Jepang sempat diragukan meski berstatus tim unggulan pada turnamen di Ho Chi Minh, Vietnam, itu. Keraguan muncul setelah Thailand secara mengejutkan mengalahkan Jepang 3-2 dalam laga pamungkas Grup C (BWFBadminton.com 17/2).

Kekalahan itu kemudian tidak merintangi langkah Jepang ke perempat final dan bertemu Indonesia. Jepang lantas tidak juga terhambat untuk melaju ke semifinal setelah menang 3-2 (17/2).

Pada semifinal, Jepang harus bertemu unggulan pertama Tiongkok yang juga penguasa supremasi bulu tangkis dunia. Namun lagi-lagi Jepang memberi kejutan dengan menang 3-1 meski ganda campuran Arisa Higashino/Yuta Watanabe yang tampil pada nomor pertama harus menyerah dua set pada Chen Qincheng/Zhang Nan.

Keberhasilan Jepang menumbangkan Tiongkok seolah menjadi alarm. Maklum, bila bicara soal kejuaraan beregu campuran, negeri Tirai Bambu itu jawaranya.

Piala Sudirman, yang menggunakan format sama persis Asia Mixed Team, dirajai Tiongkok sejak 2005. Jepang, finalis Piala Sudirman 2015, kemudian memukul Korea Selatan dengan skor 3-0 pada partai final dan keluar sebagai juara.

Tidak heran, Jepang pun diunggulkan di tempat teratas untuk menjuarai Piala Sudirman 2017 yang menurut rencana akan digelar di Gold Coast, Australia, 21-28 Mei.

Kebangkitan Jepang seolah merayap dalam sunyi. Padahal sejak 2015, ancaman mulai nyata.

Setelah menembus final Piala Sudirman 2015 meski akhirnya dikalahkan Tiongkok 0-3, ganda putri Jepang meraih kejayaan setahun berselang. Bermain di Olimpiade Rio 2016, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi meraih medali emas.

Andai mundur sejenak, kebangkitan Jepang dimulai sejak 2012 ketika Jepang untuk pertama kalinya merajai kejuaraan beregu Asia yunior. Itu adalah gelar utama pertama bagi bulu tangkis Jepang sejak menjuarai Piala Uber 1981.

Selain ganda putri, Jepang juga punya sosok andalan Akane Yamaguchi. Pemain 19 tahun ini mampu bermain sama baik pada tunggal maupun ganda campuran.

Di Ho Chi Minh, Ahad kemarin, pemain nomor 6 dunia ini bahkan berhasil mengalahkan Sung Ji Hyun yang lebih diunggulkan. Bermain dengan ketat, Yamaguchi menang dua set 22-20 dan 23-21.

Yamaguchi, juara tunggal putri yunior Asia 2014, menunjukkan bagaimana kekuatan mental adalah kunci kehebatan para pemain Jepang. "Level bulu tangkis Jepang di dunia begitu tinggi, itu sebabnya saya punya mental yang kuat," katanya dinukil Badzine.

Ketahanan mental dan sikap ngotot tanpa kenal menyerah Jepang terlihat ketika mengalahkan Indonesia. Tunggal putri Sayaka Sato, misalnya, tetap ngotot hingga membuat match point hingga 4 kali sebelum akhirnya ditundukkan pemain Indonesia Hanna Ramadini.

Gelar juara Asia Mixed Team sudah pasti akan memberi suntikan terbaru bagi masyarakat Jepang. Sejak meraih medali emas Olimpiade Rio 2016, popularitas bulu tangkis makin menanjak.

Bahkan pengelola bulu tangkis Jepang mengubah nama kompetisi lokal sejak awal 2016 menjadi S/J League (S berarti smash, speed, dan shuttle). Mereka bermaksud meraih perhatian lebih besar dari khalayak seperti halnya sepak bola dengan J-League-nya.

Salah satu kunci di balik kebangkitan bulu tangkis Jepang adalah sosok pelatih kepala Park Joo Bong. Legenda ganda putra Korea Selatan ini tak banyak bicara tapi banyak kerja.

Bergabung sejak 2004, peraih medali emas ganda putra Olimpiade 1992 dan jawara All England 1985 hingga 1996 ini antara lain juga mengantar Jepang menjuarai Piala Thomas untuk pertama kali (2014).

Park pula yang membenahi mental para pemain Jepang. Pelatih berusia 52 ini mengingat masa pertamanya tiba di Jepang.

"...para pemain Jepang punya keterampilan, kekuatan, dan kecepatan. Namun mereka tak tahu bagaimana menggunakannya. Mereka tidak punya taktik, bagaimana memainkannya, dan mentalnya lemah," ujar Park kepada Straits Times, 19 April 2016.

Park juga tak peduli pada peringkat (ranking) pemain. Menurutnya, peringkat pemain tidak penting karena bisa saja poin seorang pemain justru datang dari turnamen-turnamen kecil.

"Tapi begitu tampil di turnamen besar, mereka dikalahkan dengan mudah. Jadi, para pemain harus meningkatkan diri, harus lebih kuat," imbuhnya yang menilai Jepang masih butuh waktu sedikit lagi untuk melewati Tiongkok.

Jurnalis bulu tangkis Miyuki Komiya menyebut Park adalah katalisator perubahan bulu tangkis Jepang. Pada masa lalu, para pemain tak pernah begitu menghargai para pelatihnya karena bukan juara dunia.

"Begitu Park Joo Bong datang, tiba-tiba segalanya berubah. Dia datang dengan segala pengalamannya dan para pemain pun menghargainya," ujar Komiya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR