PIALA ASIA

Catatan apik yang membawa Jepang melangkah ke final

Para pemain Jepang tengah merayakan keberhasilannya melangkah ke babak final AFC Asian Cup 2019. Di babak semifinal, Senin (28/1/2019) malam WIB, Jepang menang 3-0 atas Iran.
Para pemain Jepang tengah merayakan keberhasilannya melangkah ke babak final AFC Asian Cup 2019. Di babak semifinal, Senin (28/1/2019) malam WIB, Jepang menang 3-0 atas Iran. | Ali Haider /EPA-EFE

Jepang menjadi tim pertama yang berhasil menginjakkan kakinya di babak final Piala Asia 2019. Di babak semifinal, Senin (28/1/2019) malam WIB, mereka berhasil menang telak atas atas tim unggulan lainnya, Iran, dengan skor 3-0.

Tiga gol yang Jepang dalam laga yang dihelar di Stadion Hazza bin Zayed, Al Ain, Uni Emirat Arab (UEA), dicetak oleh Yuya Osako pada menit 56 dan 67 (penalti) serta Gengki Haraguchi, saat pertandingan memasuki injury time.

Dengan hasil ini, Jepang pun tinggal menunggu lawannya untuk bertarung di partai puncak pada Stadion Zayed Sports City, Abu Dhabi, UEA, pada Jumat (1/2). Calon lawan Jepang antara tuan rumah UEA atau Qatar. Keduanya baru akan bertanding malam nanti.

Dan, capaian Jepang ke babak final ini sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Dalam tujuh edisi terakhir, alias sejak tahun 2000, mereka berhasil empat kali masuk ke final--semuanya berakhir dengan menjadi juara.

Sejak saat itu pula, Jepang menorehkan hasil sangat bagus. Yakni, dalam 34 laga di putaran final kejuaraan sepak bola terbesar se-Asia tersebut, mereka hanya kalah sekali saat pertandingan berjalan di waktu normal--alias tanpa adu penalti.

Jepang terakhir kali kalah terjadi pada babak semifinal Piala Asia 2007. Kala itu, mereka kalah 2-3 dari Arab Saudi. Sedangkan kegagalan Jepang menjadi juara pada tahun 2015, mereka disingkirkan UEA via adu penalti di babak perempat final.

Kemenangan telak atas Iran ini, sebenarnya menjadi prestasi tersendiri bagi Jepang. Pasalnya, dalam 12 pertandingan terakhir dari total 21 pertemuan, selisih gol kedua tim tak pernah lebih dari satu--entah Jepang yang menang atau Iran.

Menurut pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, kemenangan telak timnya tersebut tak lepas dari semangat bertanding para "Samurai Biru". Moriyasu mengatakan, timnya hanya berpikir bahwa mereka merupakan penantang.

Pikiran inilah yang membawa Yuto Nagatomo dkk. berhasil bermain tanpa beban. "Iran memiliki hasil yang baik di masa lalu, dan kami tahu bahwa laga akan berjalan keras. Namun, tim telah menyiapkan diri dengan baik dan menunjukkan semangat bertarung," ucap Moriyasu dalam Fox Sports Asia.

Dalam pertandingan tersebut, sejatinya Iran tampil lebih agresif. Meski dalam penguasaan bola mereka kalah, yakni 53 persen berbanding 47, tapi Iran memiliki peluang mencetak gol lebih banyak.

Dalam catatan statistik yang dikeluarkan laman resmi AFC Asian Cup, Iran memiliki 11 tembakan dengan tiga yang tepat sasaran. Sedangkan Jepang, hanya mampu melepas 7 tendangan dan empat yang sesuai target.

Masalah bagi Iran datang karena lini pertahanan Jepang yang dijaga oleh Nagatomo, Maya Yoshida, Takehiro Tomiyasu, dan Hiroki Sakai, mampu bermain baik. Moriyasu mengapresiasi kinerja lini belakang Jepang ini.

"Kami bisa saja tampil lebih agresif. Namun, kami sangat bermain sabar dalam bertahan dan mampu menghentikan lini serang Iran," ucap Moriyasu. "Para pemain mampu menerapkan fleksibilitas dalam bermain."

Carlos Queiroz tengah memberikan instruksi kepada para pemain Iran saat timnya menghadapi Jepang di babak semifinal AFC Asian Cup 2019, Senin (28/1/2019) malam WIB. Iran kalah 0-3 dari Jepang.
Carlos Queiroz tengah memberikan instruksi kepada para pemain Iran saat timnya menghadapi Jepang di babak semifinal AFC Asian Cup 2019, Senin (28/1/2019) malam WIB. Iran kalah 0-3 dari Jepang. | Mahmoud Khaled /EPA-EFE

Kekalahan Iran ini semakin memperpanjang dahaga juara Tim Melli (julukan Iran yang berarti Tim Nasional). Terakhir mereka menjadi juara adalah pada 1976.

Sebagai salah satu kiblat sepak bola Asia, dengan pemilik rangking FIFA tertinggi di antara negara-negara Benua Kuning, dahaga gelar 43 tahun bukanlah hasil yang baik.

Oleh karena itulah, pelatih Iran, Carlos Queiroz, memilih untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala pelatih. Sikap ini diketahui dari unggahan Instagram-nya, tak lama setelah Iran dipastikan tersingkir dari Piala Asia 2019.

"Tak ada kata-kata yang dapat mengekspresikan rasa terima kasih saya kepada para pemain dan segala yang telah mereka lakukan selama ini: usaha, bantuan dan komitmen," tulis pelatih asal Portugal tersebut.

"Adalah suatu kebanggaan berada di sisi para orang-orang besar itu dalam delapan tahun perjalanan saya di timnas Iran. Selamat kepada Jepang, tim terbaik malam ini. Namun, hormat kepada Tim Melli."

Pertandingan melawan Jepang pada babak semifinal kemarin, merupakan laga ke-100 Queiroz mendamping timnas Iran. Kini, ia disebut-sebut akan terbang ke Kolombia untuk menggantikan posisi Jose Pekerman yang mundur sebagai pelatih timnas pada September 2018.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR