COPA AMERICA

Cile menang besar walau diimbangi Jepang

Pemain Cile Erick Pulgar (kanan) melakukan selebrasi gol bersama Eduardo Vargas dalam kemenangan 4-0 atas Jepang pada laga Copa America 2019 di Stadion Morumbi, Sao Paulo, Brasil, Selasa (18/6/2019) WIB.
Pemain Cile Erick Pulgar (kanan) melakukan selebrasi gol bersama Eduardo Vargas dalam kemenangan 4-0 atas Jepang pada laga Copa America 2019 di Stadion Morumbi, Sao Paulo, Brasil, Selasa (18/6/2019) WIB. | Ueslei Marcelino /Antara Foto/Reuters

Tujuan permainan sepak bola adalah mencetak gol sebanyak mungkin, bagaimana pun bermainnya. Itu yang ditunjukkan dua kali juara bertahan Cile saat menang telak 4-0 atas Jepang dalam Copa America 2019, Selasa (18/6/2019) pagi WIB.

Jepang, satu dari dua tim undangan, sebenarnya mampu mengimbangi Cile. Bahkan Cile pun tidak kuasa tampil dominan atas lawannya dari Asia tersebut.

Namun, Cile melaksanakan dengan baik apa yang semestinya dilakukan ketika bermain sepak bola; mencetak gol. Pasukan Reinaldo Rueda punya ketajaman, Jepang sebaliknya.

Namun begitu, Jepang juga perlu dimaklumi karena pelatih Hajime Moriyasu membawa tim yang mayoritas berisi pemain muda dan belum berpengalaman. Bahkan Moriyasu juga menurunkan Takefusa Kubo, pemain 19 tahun yang belum lama dibeli Real Madrid.

Keputusan Jepang, yang bermain untuk kedua kali di Copa America setelah 1999, membawa tim muda ke Brasil adalah demi persiapan ke Olimpiade di Tokyo tahun depan. Karena berisi pemain muda, Jepang berkali-kali membuang peluang --terutama pada babak kedua ketika mendapat tiga kesempatan emas.

Peluang itu hadir melalui Ayase Ueda pada menit ke-57 ketika bola diagonal dari kapten Gaku Shibasaki di posisi bebas gagal mengarah dieksekusi ke gawang Gabriel Arias.

Kubo juga gagal mencetak gol meski sudah berhadapan dengan Arias di muka gawang pada menit ke-65. Pemain yang dijuluki "Messi dari Jepang" ini meliuk-liuk melewati adangan tiga pemain Cile, tapi bola tendangannya hanya mengenai sisi luar jaring.

Lima menit kemudian Ueda kembali membuang peluang. Kali ini bola silang dari kiri gagal disambut dengan sodoran ke gawang yang lowong.

Merespon hasil yang negatif, pelatih Moriyasu mengaku tetap positif melihat permainan timnya. Lagi pula, menurut pelatih 50 tahun ini, kelas Cile di atas timnya.

"Kami harus menerima perbedaan kualitas Cile dan kami. Namun, para pemain saya tampil berani dan mereka punya kemampuan mencetak gol melalui serangan. Semoga mereka bisa mengambil pelajaran untuk laga selanjutnya," ujarnya dilansir Kyodo News.

Sebenarnya Cile yang cuma mengendalikan 51 persen permainan di Stadion Morumbi di Sao Paulo ini kalah dari total upaya mencetak gol; 9 berbanding 12. Namun, mereka memiliki akurasi.

Mereka membuka keunggulan pada menit ke-41 saat Erick Pulgar menyundul bola penjuru. Penyerang Eduardo Vargas meneruskan tren golnya untuk Cile dalam 4 turnamen beruntun demi skor 2-0 pada menit ke-54 meski dengan bantuan deflection.

Pemain Manchester United Alexis Sanchez menyumbang gol ketiga sekaligus gol pertamanya dalam lima bulan pada menit ke-82. Satu menit kemudian, Sanchez mengirim bola untuk Vargas demi gol keduanya atau untuk skor 4-0.

Peltih Rueda menyambut gembira kembalinya keran gol Sanchez. Sementara mantan bintang Arsenal itu mengaku kesulitan pada babak pertama karena dalam enam bulan belakangan cedera dan jarang bermain.

"Dia sudah kembali ke jalur yang benar. Kami ingin mencadangkan dia untuk pertandingan berikut, tapi dia sudah pulih benar," tutur Rueda dalam jumpa pers yang dilansir Fox Sport Asia.

Rueda pun senang melihat timnya bisa memimpin Grup C bersama dengan Uruguay yang kemarin (17/6) juga menang 4-0 atas Ekuador. Apalagi, Uruguay baru akan dihadapi pada laga pamungkas grup.

“Para pemain Cile sangat berpengalaman, mereka sudah sangat mengenal satu sama lain karena telah bermain bersama bertahun-tahun. Juara bertahan biasanya melakukan debut yang buruk, tapi kami berusaha keras agar hal itu tak terjadi," kata pelatih asal Kolombia ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR