INDONESIA OPEN 2019

Cukup satu gelar di rumah sendiri, ganda putra jadi harapan

Sejumlah pebulu tangkis berlatih jelang kejuaraan blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Kompleks GBK, Jakarta, Senin (15/7/2019). Turnamen bulu tangkis tersebut akan diikuti 236 pebulu tangkis dari 20 negara mulai 16 hingga 21 Juli 2019.
Sejumlah pebulu tangkis berlatih jelang kejuaraan blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Kompleks GBK, Jakarta, Senin (15/7/2019). Turnamen bulu tangkis tersebut akan diikuti 236 pebulu tangkis dari 20 negara mulai 16 hingga 21 Juli 2019. | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Blibli Indonesia Open 2019 dimulai hari ini, Selasa (16/7/2019), di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Walau berlangsung di rumah sendiri, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tak memasang target terlalu tinggi, hanya satu gelar. Ganda putra masih menjadi andalan.

Salah satu dari tiga turnamen berkategori tertinggi, BWF World Tour Super 1000, itu diikuti seluruh pemain top dunia. Hadiah yang disediakan juga menggiurkan, mencapai total 1,25 juta dolar AS, atau sekira Rp17,5 miliar. Hanya kalah dari turnamen penutup tahun BWF World Tour Finals yang menyediakan total hadiah 1,5 juta dolar.

Gengsi turnamen dan besarnya hadiah--juara tunggal mendapat 87.500 dolar, sementara juara ganda 92.500 dolar--membuat trofi turnamen tahunan ini menjadi salah satu idaman para pebulu tangkis.

Tahun lalu Indonesia berhasil merebut dua gelar juara. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon menjuarai ganda putra, sementara Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berjaya di ganda campuran.

Oleh karena itu PBSI seperti kurang optimistis bila hanya memasang target satu gelar. Namun, kalau melihat prestasi pebulu tangkis Indonesia belakangan ini, memang hanya Kevin/Marcus yang terbilang stabil. Liliyana telah pensiun, sementara Tontowi masih butuh adaptasi dengan pasangan barunya, Winny Oktavina Kandow.

Ganda putra juga masih punya duo gaek Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang menjuarai All England tahun ini. Namun mereka tak mau jemawa di negeri sendiri. Target yang dipasang hanya "sampai semifinal".

"Sebenarnya mau lolos babak demi babak saja, tidak mau mikir terlalu jauh. Mungkin kalau tiga-empat tahun lalu targetnya bisa juara. Sekarang, lawan sudah bagus-bagus dan lebih muda, jadi kami fokus untuk enjoy bermain dan memberikan yang terbaik di lapangan," tutur Hendra dalam konferensi pers, Senin (15/7/2019).

Bagaimana dengan nomor lainnya? Harapan terbesar sepertinya ada di tunggal putra, terutama Jonatan "Jojo" Christie yang performanya tengah menanjak. Sepanjang Juni lalu ia berhasil menjadi juara di New Zealand Open dan Australian Open.

Namun, dua kejuaraan tersebut berada pada level yang lebih rendah, yaitu Super 300. Jadi, tak semua pemain top hadir karena tak diwajibkan. Berbeda dengan Super 1000 yang mewajibkan pemain peringkat 10 besar dunia untuk hadir, atau terkena penalti. Jadi, kali ini Jojo akan menghadapi lawan-lawan yang relatif lebih berat.

Untuk nomor lain--tunggal dan ganda putri, serta ganda campuran--sepertinya penggemar bulu tangkis di Indonesia hanya bisa berharap adanya kejutan.

Kenyataan tersebut sepertinya membuat PBSI tidak menetapkan target yang berlebihan. Cukup satu gelar.

Walau demikian, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susi Susanti, menegaskan bahwa semua pemain telah siap untuk tampil maksimal di hadapan publik sendiri. Apalagi, selain hadiah uang yang besar, perjalanan panjang di Indonesia Open bisa menambah poin lebih banyak bagi pemain untuk bisa lolos ke Olimpiade 2020.

"Persiapan cukup baik dan saat ini kondisi atlet sudah siap untuk melakoni pertandingan. Kami berharap di Blibli Indonesia Open, para atlet bisa tampil maksimal, karena memang ini salah satu target kami, selain poinnya tinggi, Blibli Indonesia Open sudah masuk hitungan ke Olimpiade," jelas Susi, Senin (15/7).

Soal dukungan penonton yang biasanya membeludak di Istora, menurut Susi bisa menjadi pedang bermata dua. Penonton bisa jadi pendorong semangat pemain, tetapi juga bisa menambah ketegangan mereka.

"Beban atau tidak, tergantung bagaimana menyikapinya. Kalau menyikapi positif, mereka kan tidak sendiri, sebetulnya penonton datang itu kan untuk mendukung, anggap saja yang di belakang kita itu mendukung kita. Justru harus menunjukan dengan beri hasil terbaik," tandas Susi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR