SERIE A ITALIA

Cuma Genoa yang bisa mengalahkan Juventus

Pemain veteran Goran Pandev (tengah) disambut dua rekannya usai mencetak gol kedua Genoa untuk mengalahkan Juventus 2-0 di Stadion Luigi Ferraris, Genoa, Italia, Minggu (17/3/2019).
Pemain veteran Goran Pandev (tengah) disambut dua rekannya usai mencetak gol kedua Genoa untuk mengalahkan Juventus 2-0 di Stadion Luigi Ferraris, Genoa, Italia, Minggu (17/3/2019). | Simone Arveda /EPA-EFE

Sudah 31 pertandingan Serie A dilalui Juventus tanpa kekalahan. Namun, Minggu (17/3/2019), Genoa menghentikan laju juara bertahan Serie A Italia ini 2-0.

Genoa adalah satu-satunya klub di Italia yang mampu mengalahkan Juventus. Cuma Genoa yang mampu mengalahkan Juventus dua kali sejak Oktober 2015; kemarin dan 27 November 2016.

Bagi Juventus, ini adalah kekalahan pertama mereka dalam Serie A musim 2018-19. Kekalahan terdahulu terjadi pada 22 April 2018, saat ditundukkan Napoli 0-1 di Turin.

Dan Juventus untuk pertama kalinya pula kalah dengan selisih dua gol. Terdahulu mereka mengalami itu adalah saat ditundukkan AS Roma 1-3 pada Mei 2017.

Juventus seolah mengalami antiklimaks setelah menundukkan Atletico Madrid 3-0 yang meloloskan mereka ke perempat final Liga Champions, Selasa (12/3). Cristiano Ronaldo yang mencetak hat-trick ke gawang Atletico pun absen menghadapi Genoa demi pemulihan fisik dan stamina.

Pada babak pertama saja, Juventus menghadapi 10 tembakan Genoa meski hanya dua yang mencapai gawang Mattia Perin dan tak menjadi gol. Ini adalah statistik negatif terbaru Juventus dalam 45 menit pertama sejak melawan Napoli pada Desember 2017.

Bahkan Juventus pun hanya punya dua tembakan pula ke gawang Genoa hingga 90 menit dari total enam shots. Alhasil Genoa yang sudah mengancam sejak babak pertama bisa mencetak dua gol hanya dalam kurun sembilan menit.

Pada menit ke-72, Stefano Sturaro mencetak gol pertama. Lalu pada menit ke-81 giliran pemain veteran 35 tahun Goran Pandev mengubah skor menjadi 2-0. Dengan begitu Genoa tak pernah kehilangan poin dari Juventus karena pada pertemuan pertama di Turin, Oktober 2018, mereka bermain 1-1.

"Saya tak menyangka kami bermain seperti tadi. Kami tampil buruk, membuat sejumlah kesalahan, dan kebobolan dengan mudah. Ini mirip dengan kesalahan dari Atalanta dalam Coppa Italia, kami bermain untuk kalah," tukas pelatih Juventus, Massimilano Allegri dalam The Guardian.

Ironisnya, Sturaro adalah pemain pinjaman dari Juventus. Pemain 26 tahun ini berada di Genoa sejak musim 2014-15. Tidak heran, Sturaro takjub dengan golnya.

"Ini sensasi fantastis. Saya baru sadar telah mencetak gol ke gawang Juventus beberapa menit kemudian," katanya kepada DAZN (h/t Football Italia).

Adapun kekalahan ini tidak menggoyahkan posisi Juventus karena mereka sudah unggul jauh hingga 15 angka di posisi puncak atau dari Napoli di posisi kedua. Sedangkan Genoa bertengger di posisi 12 dengan nilai 33.

Di sisi lain, para penonton yang memenuhi Stadion Luigi Feraris di kota Genoa meminta pengembalian tiket karena Juventus datang tanpa Ronaldo. Dilansir Corriere della Sera (h/t The Mirror), sejumlah penonton mendatangi kantor pusat Genoa.

Mereka minta uang kembali (refund). Namun, Genoa kemungkinan besar tak akan memenuhi permintaan itu karena hingga kini belum ada pernyataan dari klub.

Inter mendominasi Milan

Dari pertandingan lain yang juga dimainkan pada Minggu (17/3) waktu setempat, Inter Milan sukses mengalahkan tuan rumah AC Milan 3-2 dalam partai sekota derby della Madonnina di Stadion San Siro.

Hasil ini menegaskan dominasi Inter atas Milan dalam enam pertemuan terakhir pada ajang Serie A. Mereka mengulangi catatan 10 kali tanpa kalah saat menemui Milan hingga 1999.

Alhasil Inter pun melewati posisi Milan. Sebelum pertandingan, Inter ketinggalan satu poin dari Milan di posisi 3-4. Namun, setelah edisi derby ke-177 ini, Inter unggul dua poin dan menggeser Milan ke posisi empat.

Pelatih Milan, Gennaro Gattuso, menegaskan bahwa timnya memang kalah segalanya dari Inter. Gattuso menjelaskan agresivitas Inter sejak menit awal membuat timnya tertekan dan gagal mengeluarkan kemampuan terbaik.

Demikian pula pada babak kedua. Milan kesulitan mengantisipasi terobosan Inter dan secara sistematis bisa lolos dari kurungan empat lima pemain.

"Saya sering dikritik karena taktik defensif, tapi Anda harus ingat materi pemain yang ada. Inter mengombinasi kekuatan fisik dengan kualitas.

"Saya senang dengan penampilan pemain. Kami masih bisa menciptakan peluang dan hampir menyamakan kedudukan. Namun kami memang membuka lubang dan membuat kesalahan," ujar mantan gelandang Milan ini kepada Sky Sport Italia.

Inter unggul dua gol lebih dulu melalui aksi Matias Vecino pada menit ketiga dan Stefan De Vrij pada menit ke-51. Milan memperkecil ketinggalan berkat gol Tiemoue Bakayoko pada menit ke-57.

Namun, upaya Milan untuk mencari gol kedua justru terganggu oleh kesalahan Ricardo Rodriguez yang mengganjal Matteo Politano di kotak penalti pada menit ke-67. Inter pun akhir meraih gol ketiga dari titik putih melalui tembakan Lautaro Martinez dan hanya bisa dibalas Milan melalui gol Mateo Musacchio.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR