PIALA DUNIA 2018

Darah muda Prancis vs daya juang Kroasia

Stadion Luzhniki dipenuhi cahaya lampu menjelang final Piala Dunia antara Prancis dengan Kroasia di Moskow, Rusia.
Stadion Luzhniki dipenuhi cahaya lampu menjelang final Piala Dunia antara Prancis dengan Kroasia di Moskow, Rusia. | Kai Pfaffenbach /Antara Foto/Reuters

Piala Dunia 2018 akan mencapai puncaknya malam ini, Minggu (15/7/2018), pukul 22.00 WIB. Puncak yang tidak diprediksikan banyak pengamat dan penggemar saat turnamen sepak bola terakbar ini dimulai di Rusia sebulan lalu.

Ketika turnamen dimulai, siapa yang menyangka Prancis dan Kroasia bakal bertemu pada laga pemuncak di Stadion Luzhniki, Moskow?

Prancis, walau pernah mengangkat trofi pada 1998, datang dengan sekumpulan pemain muda dengan rata-rata usia 26 tahun. Dari 23 pemain, 14 orang tampil perdana dalam sebuah turnamen besar.

Pelatih Didier Deschamps mendapat banyak pertanyaan soal para pemain pilihannya itu, tapi ia bergeming.

"Saya tak bisa menyenangkan semua orang--tapi saya memilih dan bertanggung jawab atasnya," kata Deschamps menjelang dimulainya Piala Dunia.

Menurunkan para pemain muda dan belum banyak pengalaman dalam pertandingan sebesar Piala Dunia dipandang amat berisiko. Tapi tidak bagi mantan kapten timnas Prancis itu.

"Itu bukan risiko. Para pemain muda itu ada di sana dan kalau saya memilih mereka, itu karena mereka bagus untuk tim. Mereka ada di sini karena mereka punya kualitas untuk berada di sini," tegas Deschamps, kapten timnas Prancis saat juara Piala Dunia 1998.

Walau muda, mereka bukan pemain sembarangan yang membela klub semenjana. Kylian Mbappe (19), pemain depan Paris Saint-Germain yang telah mencetak tiga gol di Rusia, menegaskan hal itu.

"Kami memang memiliki tim yang muda. Tapi kalau kalian perhatikan, kalian lihat bahwa kami bermain di Barcelona, Madrid, Paris, Juve, Manchester," ujarnya.

Mbappe adalah juara Ligue 1 Prancis, Samuel Umtiti (24) ikut membawa Barcelona berjaya di La Liga Spanyol, dan Raphael Varane (25) menjuarai Liga Champions bersama Real Madrid.

Lalu ada Paul Pogba, pemain termahal Manchester United, ada andalan Atletico Madrid Lucas Hernandez (22), dan Benjamin Pavard (22), bek kanan yang menciptakan salah satu kandidat gol terbaik di Rusia 2018.

"Saya tak suka berbicara mengenai umur. Apakah kita bisa, atau tak bisa. Kalau kami tak bisa, kami pasti tinggal di Prancis," tegas Mbappe.

Setelah mengawali Piala Dunia dengan lambat di babak grup, para pemuda Prancis itu menunjukkan kecepatan dan ketajaman mereka pada babak sistem gugur.

Argentina mereka libas 4-3, menghantam Uruguay 2-0, dan pada semifinal mengakhiri mimpi generasi emas Belgia 1-0. Semua pertandingan berakhir dalam waktu normal, 90 menit. Total 10 gol telah mereka jaringkan dan hanya kebobolan 4 kali.

Kecepatan para pemain muda tersebut, terutama saat melakukan serangan balik, adalah kekuatan yang menakutkan lawan.

Tak heran jika pasukan muda Prancis lebih diunggulkan dari Kroasia pada pertandingan malam nanti.

Tapi jangan pernah menganggap remeh Kroasia, salah satu negara dengan jumlah penduduk paling sedikit, 4,17 juta jiwa, yang pernah tampil di final Piala Dunia. Rekor negara berpenduduk paling sedikit masih dipegang Uruguay yang jumlah penduduknya hanya 1,7 juta jiwa ketika menjuarai Piala Dunia 1930.

Berada di peringkat ke-20 FIFA, Kroasia menjadi tim berperingkat terendah yang akan bermain di final.

Mereka sepertinya tertatih sehingga selalu butuh lebih dari 90 menit usai lolos babak grup, termasuk semifinal melawan Inggris. Bahkan dua di antaranya, melawan Denmark dan Rusia, harus ditentukan melalui adu penalti.

Akan tetapi, hal tersebut justru menunjukkan bahwa pasukan Kroasia, yang baru ikut Piala Dunia pada 1998, memiliki stamina, mental bertanding, dan keinginan untuk menang yang amat kuat.

Tak salah memang julukan Srce vatreno (hati yang berapi) disematkan pada tim tersebut.

Tim yang dilatih Zlatko Dalic ini juga memiliki pemain-pemain berkelas yang dapat diandalkan, terutama di tengah dan belakang.

Di tengah ada jenderal lapangan, Luka Modric, dan sekondannya, Ivan Rakitic. Membiarkan mereka bebas di lapangan tengah berarti bunuh diri bagi Prancis.

Pasalnya, duo andalan Real Madrid dan Barcelona itu akan mencari dan membuka ruang bagi striker tajam yang bermain di Juventus, Mario Mandzukic, untuk menggedor gawang lawan.

Selain itu, semangat balas dendam juga bisa menambah api semangat Kroasia. Pada semifinal Piala Dunia 1998 mereka disingkirkan Prancis yang kemudian menjadi juara.

Apa pesan yang akan disampaikan Dalic saat para pemain nanti masuk ke lapangan?

"Saya akan berkata, 'selamat bersenang-senang'," kata Dalic. "Saya ingin para pemain menikmati diri mereka sendiri. Saya sudah amat bangga dengan segala yang telah mereka lakukan."

Jika juara, Kroasia akan menjadi negara ke-9 yang tim nasionalnya membawa pulang trofi Piala Dunia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR