Denmark kubur Irlandia

Christian Eriksen (kanan) disambut rekannya, Thomas Delaney, setelah mencetak tiga gol demi kemenangan 5-1 atas tuan rumah Republik Irlandia pada leg kedua playoff Piala Dunia 2018 di Dublin, Rabu (15/11/2017) dinihari WIB.
Christian Eriksen (kanan) disambut rekannya, Thomas Delaney, setelah mencetak tiga gol demi kemenangan 5-1 atas tuan rumah Republik Irlandia pada leg kedua playoff Piala Dunia 2018 di Dublin, Rabu (15/11/2017) dinihari WIB.
© EPA-EFE /Aidan Crawley

Mimpi Republik Irlandia untuk melaju ke putaran final Piala Dunia 2018 kandas. Denmark mengubur impian mereka dengan kemenangan 5-1 dalam pertemuan kedua playoff Piala Dunia 2018 di Dublin, Irlandia, Rabu (15/11/2017) dinihari WIB.

Dengan begitu Irlandia kalah telak karena pada pertemuan pertama di kandang Denmark, skuat asuhan Martin O'Neill menyerah 1-2. Denmark pun menyusul Swedia, negeri serumpun di kawasan Skandinavia.

Swedia melangkah ke Rusia, kemarin (14/11), setelah menahan 0-0 juara dunia tiga kali Italia. Secara agregat, Swedia unggul 1-0 karena pada pertemuan pertama di kandangnya menang dengan skor serupa.

Swedia pun menjadi tim pertama dari Eropa yang melaju ke putaran final Piala Dunia dengan melewati tiga mantan finalis (Italia, Belanda, dan Prancis). Kebetulan Belanda juga bakal absen di Rusia.

Adapun Denmark lolos ke putaran final Piala Dunia untuk kelima kali setelah edisi 1986, 1998, 2002, dan 2010. Sementara Irlandia sudah empat kali gagal.

Bintang Denmark kali ini adalah gelandang Christian Eriksen. Pemain Tottenham Hotspur ini mencetak tri gol (hattrick) pada menit 32, 63, dan 74. Sementara dua gol lainnya dicetak Andreas Christensen pada menit 29 dan Nicklas Bendtner dari titik penalti pada menit pamungkas.

Irlandia sempat menjanjikan ketika Shane Duffy mencetak gol pada menit enam. Namun itu semua hanya sekadar fatamorgana.

The Guardian menyebut permainan Irlandia secara keseluruhan di Stadion Aviva ini sangat buruk. Irlandia bermain tanpa inspirasi dan tak punya taktik yang jelas.

Sisi lebar lapangan terlampau terbuka sehingga para pemain Denmark leluasa bermanuver di sana. Setelah turun minum, O'Neill berusaha memperbaiki keadaan dengan memainkan Wes Hoolahan and Aiden McGeady.

Namun keputusan itu justru membuat Irlandia makin merana. Ruang terbuka bagi Denmark justru bertambah karena Irlandia tak punya lagi gelandang bertahan. Padahal di area itu ada salah seorang gelandang menyerang terhebat di dunia --Eriksen.

O'Neill mengambil solusi lain, memindahkan bek kiri Stephen Ward ke lapangan tengah untuk menahan Eriksen. Namun pemain 32 tahun ini tak berdaya guna; menyebabkan dua gol di gawangnya. "Kacau sekali," tulis jurnalis Barry Glendenning.

Namun O'Neill bergeming meski taktiknya dipertanyakan. Bahkan pelatih 65 tahun ini marah saat diwawancarai Tony O'Donoghue dari RTE.

Antara lain O'Donoghue bertanya mengapa Irlandia kalah dari Serbia, Georgia, Austria, dan Wales, serta terbaru dari Denmark. O'Donoghue mempertanyakan kinerja O'Neill.

"Saya tak mengerti apa yang Anda maksud. Kami bermain 24 kali selama empat tahun dan hanya kalah empat kali. Jadi ada 20 pertandingan yang berakhir tanpa kalah," kata O'Neill dilansir The Sun Irlandia.

"Kami menang tandang, mungkin beberapa bukan di Aviva, tapi kami menang di kandang lawan dan itu berkat kerja keras. Selalu kerja keras.

"Kami mencetak gol pada menit pertama melawan Serbia. Real Madrid dan Barcelona pun bisa kebobolan pada menit pertama dan kemudian bangkit untuk menang. Ini bisa terjadi, lalu kami bangkit dan bermain 2-2 lantas Serbia menjuarai grup (kualifikasi).

"Lalu kami ke Wales dan menang. Kami berhasil memimpin dan tidak kebobolan. Jadi argumen Anda lemah. Perlu juga Anda ketahui: ini pertandingan berat dan kami selalu melawan tim hebat," tegas O'Neill.

Pelatih Repubik Irlandia, Martin O'Neill, dalam jumpa pers sebelum melawan Denmark di Copenhagen, Denmark, 10 November 2017.
Pelatih Repubik Irlandia, Martin O'Neill, dalam jumpa pers sebelum melawan Denmark di Copenhagen, Denmark, 10 November 2017.
© Anders Kjaerbye /EPA-EFE

Ganjaran dari Eriksen

Pernyataan O'Neill relatif benar. Irlandia hanya kalah sekali dari 11 pertandingan resmi di kandangnya. Namun modal itu, plus gol pertama Duffy, tidaklah cukup .

Keputusan bermain bertahan setelah unggul dan hanya memainkan strategi serangan balik justru memberi angin kepada Denmark. Beberapa kesalahan individu diganjar dengan jitu oleh Eriksen.

Pemain 25 tahun ini mencetak gol pertamanya dari sisi kanan pertahanan Irlandia tanpa kawalan berarti. Sementara gol kedua dicetak dari luar kotak penalti dan lagi-lagi tak ada seorang pun pemain Irlandia yang mengawalnya.

Adapun gol ketiganya kembali diawali oleh kesalahan kontrol bola Ward di kotak penalti. Dengan kecepatan larinya, Eriksen menyambar bola ke dalam gawang Darren Randolph.

"Gol kedua lebih teknikal dibanding yang dua gol lain. Mental saya memang telah tumbuh dan saya justru lebih ahli mencetak gol dibanding mengumpan. Saya seolah menjadi seorang penyerang," ujar pemain yang sudah mencetak 21 gol untuk Denmark ini, 11 di antaranya pada masa kualifikasi Piala Dunia 2018, seperti dikutip BBC.

Sinar Eriksen, gelandang tertajam selama kualifikasi Piala Dunia 2018, berarti kecemerlangan Denmark pula. Juara Eropa 1992 ini tak pernah kalah selama 2017, menang lima kali dan imbang empat kali.

Tak pelak sorotan mengarah ke pelatih Age Hareide yang mengambil alih jabatan pelatih Denmark setelah Morten Olsen gagal total di Euro 2016. Namun pelatih 64 tahun itu enggan mengambil kredit sendirian.

"Saya sangat senang dengan penampilan anak-anak. Ini tempat yang sulit untuk bermain, apalagi mencetak lima gol ke gawang Irlandia. Bukan hal yang biasa terjadi.

"Saya juga kaget. Irlandia bermain dengan skema permata, tapi kami justru punya banyak ruang. Saya cuma bisa bilang terima kasih," katanya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.