PIALA FA

Dikalahkan Wolves, Liverpool teruskan tren jelek awal tahun

Para pemain Liverpool tertunduk lesu saat mereka dikalahkan Manchester City dengan skor 1-2 dalam lanjutan EPL di Stadion Etihad, Manchester, Inggris pada Jumat (4/1/2019) dini hari WIB. Liverpool kembali menelan kekalahan 1-2 di awal 2019 saat bertandang ke markas Wolverhampton di babak ketiga Piala FA.
Para pemain Liverpool tertunduk lesu saat mereka dikalahkan Manchester City dengan skor 1-2 dalam lanjutan EPL di Stadion Etihad, Manchester, Inggris pada Jumat (4/1/2019) dini hari WIB. Liverpool kembali menelan kekalahan 1-2 di awal 2019 saat bertandang ke markas Wolverhampton di babak ketiga Piala FA. | Peter Powell /EPA-EFE

Tahun 2019 sepertinya belum bersahabat dengan Liverpool. The Reds telah melakoni dua pertandingan resmi sejak pergantian tahun. Namun, mereka selalu meraih hasil negatif, kalah.

Pertama, adalah ketika mereka ditundukkan Manchester City di ajang Liga Primer Inggris (EPL), Jumat (4/1/2019) dini hari WIB. Dan teranyar, pasukan Jurgen Klopp harus mengakui keunggulan Wolverhampton Wanderers (Wolves) di babak ketiga Piala FA dengan skor 1-2.

Menjalani laga di Stadion Molineux, Wolverhampton, Inggris, Selasa (8/1) dini hari WIB, tuan rumah membuka keunggulan lewat tendangan Raul Jimenez pada menit ke-38. Liverpool kemudian menyamakan kedudukan pada menit ke-53 via Divock Origi.

Dua menit setelahnya, tendangan kaki kanan Ruben Neves dari luar kotak penalti kembali merobek gawang Liverpool yang dikawal Simon Mignolet. Itu adalah gol terakhir dalam laga dini hari tadi, dan Liverpool pun harus rela menyerahkan tiket babak keempat kepada Wolves.

Pada pertandingan tersebut, penampilan Liverpool jauh dari kata bagus. Hingga menit ke-30, mereka belum sekali pun melepaskan tembakan tepat sasaran. Duet Daniel Sturridge dan Origi di depan tampil canggung dan seperti tak bisa bekerja sama.

Bahkan, dalam catatan BBC, di babak pertama, hanya ada satu umpan yang kedua pemain tersebut ciptakan. Dan, hanya ada satu sentuhan yang dibuat Sturridge dan Origi di dalam kotak penalti dalam periode 45 menit pertama.

Total, dalam pertandingan tersebut, Liverpool hanya membuat delapan tembakan dengan dua yang tepat sasaran, meski mampu membuat 61 persen penguasaan bola. Sedangkan Wolves, mencetak delapan tembakan dan tiga yang sesuai target.

Harus diakui, cara bermain melawan Wolves tersebut tak menggambarkan penampilan Liverpool musim ini, yang menurut Whoscored mampu membuat rata-rata 15,5 tembakan per pertandingan di semua kompetisi.

Ada satu hal mengapa semua itu terjadi. Liverpool memainkan tim lapis kedua mereka dalam laga tersebut. Setidaknya, ada sembilan pemain berbeda di starting line-up Liverpool yang dipasang Klopp jika dibandingkan saat mereka bertanding melawan City.

Termasuk di antaranya adalah pemain tengah Curtis Jones (17 tahun), Rafael Camacho (18 tahun), dan pemain belakang, Ki-Jana Hoever (16 tahun). Khusus nama terakhir, menjadikan ia sebagai pemain termuda yang pernah dimainkan Liverpool di Piala FA, atau debutan ketiga termuda Si Merah sepanjang sejarah.

Masuknya Roberto Firmino dan Mohamed Salah pada menit ke-70, tak mampu mengangkat penampilan Liverpool.

Klopp mengakui bahwa para pemain cadangannya kali ini tak bermain baik. Namun, ia menolak jika hal itu yang menjadi penyebab kalahnya Liverpool. "Kami ke sini tidak untuk membuat rekor sebagai tim termuda," ucap Klopp dalam laman resmi Liverpool.

"(Pemain muda) diturunkan karena kami berpikir mereka cukup bagus. Saat kami bermain 10 vs. 10 (dalam latihan), percaya pada saya, mereka jauh lebih bagus dibandingkan malam ini."

Bila boleh jujur, Liverpool memang tak memiliki rekor bagus di Piala FA jika bertemu tim sesama EPL. Meski telah tujuh kali juara, tapi dalam tujuh pertandingan terakhir mereka di Piala FA melawan tim EPL--sebelum melawan Wolves--lima di antaranya berakhir dengan kekalahan.

Pun, menurut catatan Opta Joe, Liverpool di bawah asuhan Klopp, kerap meraih hasil negatif tiap bulan Januari. Dari 25 pertandingan sejak awal musim 2015, Liverpool menderita 10 kekalahan, tujuh kali imbang, dan delapan kali menang.

Di sisi lain, kubu Wolves sangat senang dengan hasil ini. Selain karena berhasil meraih tiket babak keempat, kemenangan ini juga berarti banyak bagi mereka. Ini adalah kemenangan pertama di kandang dari tujuh pertandingan terakhir Wolves melawan Liverpool.

Terakhir mereka menang adalah pada 29 Agustus 1981. "Saya pikir kami bermain bagus, sangat padu dan kompak. (Pertahanan) kami sulit ditembus dan bermain lepas," kata pelatih Wolves, Nuno Espirito Santo, dalam laman resmi mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR