COPA AMERICA

Diwarnai kontroversi VAR, Jepang nyaris menang

Para pemain Jepang memberi apresiasi kepada para suporternya usai bermain 2-2 dengan Uruguay dalam Grup C Copa America di Stadion Gremio, Porto Alegre, Brasil, Jumat (21/6/2019) pagi WIB.
Para pemain Jepang memberi apresiasi kepada para suporternya usai bermain 2-2 dengan Uruguay dalam Grup C Copa America di Stadion Gremio, Porto Alegre, Brasil, Jumat (21/6/2019) pagi WIB. | Jose Mendez /EPA-EFE

Jepang berhasil bangkit dari kekalahan dengan menahan 2-2 Uruguay dalam laga Grup C Copa America 2019 di Stadion Gremio, Porto Alegre, Brasil, Jumat (21/6/2019) pagi WIB. Bahkan Jepang sebenarnya bisa menang andai tak ada video asisten wasit (VAR).

Kontroversi muncul karena keputusan melibatkan VAR dinilai tidak konsisten. Wasit Andres Rojas merujuk VAR untuk memutuskan hadiah penalti kepada Uruguay pada babak pertama, tapi berikutnya menolak ketika Jepang juga meminta hal senada.

Jepang, satu dari dua tim undangan, secara mengejutkan membuka keunggulan melalui kapten Koji Miyoshi yang melepas bola dari sudut sempit ke gawang Fernando Muslera pada menit ke-25. Enam menit kemudian, Luis Suarez menyamakan kedudukan.

Gol Suarez lahir dari titik penalti. Wasit Rojas merujuk ke VAR untuk menentukan bahwa perebutan bola antara Ueda Naomichi dengan Edinson Cavani adalah pelanggaran.

Jepang kembali unggul dan lagi-lagi Miyoshi mencetak gol pada menit ke-59. Pemain 22 tahun ini menyambar bola rebound tepisan Muslera persis di depan gawang. Pada menit ke-66, Uruguay memastikan skor 2-2 melalui sundulan Jose Gimenez.

Adapun tidak konsisten keputusan Rojas terjadi setidaknya dua kali. Pada menit ke-26, Diego Godin menjatuhkan penyerang Shinji Okazaki di daerah terlarang.

Lalu berikutnya tak lama setelah turun minum ketika Shoya Nakajima dilanggar Gimenez di kotak penalti. Jepang meminta hadiah penalti tapi Rojas menolaknya.

Satu dari sejumlah orang yang menyebut kelabilan Rojas dalam menentukan keterlibatan VAR diungkapkan jurnalis Footbal Espana, Colin Millar, melalui Twitter. Ia menulis penalti untuk Uruguay tak perlu, sebaliknya saat Nakajima dilanggar.

Para pemain Jepang sempat merasa frustrasi pada masa istirahat setelah klaim penalti mereka ditolak wasit. Bahkan pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, mengatakan seharusnya timnya bisa menang apabila tak ada VAR (h/t Associated Press/Fox Sport).

Namun, Moriyasu lebih lanjut memuji para pemainnya. Jepang yang mayoritas mengandalkan para pemain U-23 sebagai persiapan menuju Olimpiade 2020 di kampung halaman Tokyo, dinilai berani menghadapi Uruguay --tim peringkat 8 dunia.

"Para pemain ingin menang dan itu bisa kelihatan dari permainan mereka. Para pemain bekerja keras. Kami sial kemasukan gol Uruguay, tapi secara keseluruhan sungguh upaya besar," tutur Moriyasu dalam Kyodo News.

Jepang memang tampil berbeda dibanding ketika kalah 0-4 dari Cile, Senin (17/6). Moriyasu pun menurunkan susunan pemain yang berbeda dengan partai perdana, satu di antaranya memainkan Okazaki sebagai penyerang tunggal.

Secara permainan, sebenarnya relatif tak berbeda dengan pertarungan melawan Cile. Perbedaan mendasar adalah bagaimana para pemain Jepang lebih berani menekan dan lebih ngotot saat menyerang.

Ini bisa dilihat dari jumlah tembakan Jepang yang mencapai 10 kali, 3 di antaranya ke gawang Muslera. Jumlah tembakan ini tak berbeda jauh dengan upaya ke gawang Cile.

Tidak heran, Moriyasu mencium aroma peluang untuk lolos ke perempat final. Sementara ini mereka berada di posisi 3 Grup C dengan nilai 1 dan akan menghadapi tim terlemah Ekuador dalam laga pamungkas.

Bila menang, Jepang berpeluang lolos dari peringkat tiga yang memiliki jatah 2 tim. "Jika kami menang, kami bakal lolos dari grup," tutur Moriyashu.

Sementara itu, Uruguay memimpin Grup C dengan nilai 4 tapi Cile baru akan bermain melawan Ekuador pada Sabtu (22/6) pagi WIB. Jika Cile menang, mereka akan lolos ke perempat final.

Uruguay, yang menang 4-0 atas Ekuador, pada laga perdana seolah memiliki pekerjaan rumah jika berkaca pada permainannya melawan Jepang. Meski melepas 17 tembakan, tujuh di antaranya ke gawang Jepang, ada urusan soliditas yang perlu dibenahi pelatih Oscar Tabarez.

Masih mengandalkan Suarez dan Cavani, Uruguay kalah dari Jepang dalam penguasaan lapangan tengah. Ini yang membuat Suarez dan Cavani tidak cukup mantap berada di ruang depan karena berkali-kali harus turun mencari bola.

Urusan ketajaman menyelesaikan peluang juga perlu dibenahi Tabarez. Misalnya bagaimana Suarez gagal mencetak gol pada menit ke-14 ketika bola sundulannya dari posisi bebas di depan gawang hanya berakhir pada tangkapan Eiji Kawashima.

Penyerang Barcelona itu juga mendapatkan satu peluang lain ketika bola tembakannya hanya mengenai mistar gawang. Demikian pula Cavani yang membuat dua peluang; dimentahkan Kawashima dalam situasi 1vs.1 dan tembakannya kena tiang.

Namun, Suarez menilai Uruguay sebenarnya patut menang jika melihat jumlah tembakan, tapi terpaksa imbang karena membuat kesalahan. "Kami tampil bagus secara keseluruhan, tapi harus menerima hukuman 2 gol karena membuat kesalahan. Kami harus lebih hati-hati," katanya dilansir Goal.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR