TRANSFER PEMAIN

Drama ''pembajakan'' Malcom oleh Barcelona

Pemain asal Brasil, Malcom Filipe Silva de Oliveira, mencium lambang FC Barcelona setelah menandatangani kontrak untuk menjadi pemain baru klub Spanyol tersebut, Selasa (24/7/2018).
Pemain asal Brasil, Malcom Filipe Silva de Oliveira, mencium lambang FC Barcelona setelah menandatangani kontrak untuk menjadi pemain baru klub Spanyol tersebut, Selasa (24/7/2018). | Quique Garcia /EPA-EFE

Transfer ini bisa berdampak panjang. Klub Prancis Bordeaux sudah menyatakan sepakat untuk menjual pemain sayap Malcom Filipe Silva de Oliveira ke klub Italia AS Roma. Harga yang ditawarkan Roma untuk Malcom itu tidak diumumkan resmi--ada media yang menyebut 32 juta euro (Rp542,3 miliar) dan 38 juta euro.

Bordeaux dan Roma kemudian mengabarkan kepindahan sang pemain melalui akun media sosial masing-masing pada Senin (23/7/2018) siang.

Sang pemain dijadwalkan datang ke Roma pada Senin malam, kemudian melakukan tes kesehatan. Beberapa pendukung AS Roma, dikabarkan ESPN, bahkan telah berkumpul di bandara Leonardo Da Vinci-Fiumicino untuk menyambut kedatangan pemain berusia 21 tahun itu.

Akan tetapi pesawat mendarat tanpa Malcom di dalamnya.

Rupanya, dipaparkan Goal.com, saat Malcom dalam perjalanan menuju bandara Bordeaux-Merignac, presiden Bordeaux, Stephane Martin, menerima telepon dari presiden klub Barcelona, Josep Maria Bartomeu. Ia menyatakan Barcelona tertarik untuk meminang pemain asal Brasil itu.

Tawaran yang diajukan Barcelona lebih besar, yaitu 41 juta euro ditambah 1 juta euro untuk berbagai variabel lain.

Martin menghubungi Malcom dan sang pemain meminta agennya untuk "mendengarkan" apa saja yang ditawarkan Barcelona. Bordeaux memutuskan untuk membatalkan kepergian Malcom malam itu dan menginformasikannya kepada Roma.

Ramon Rodriguez Verdejo, alias Monchi, direktur olahraga Roma kemudian menelpon Bordeaux meminta penjelasan soal pembatalan tersebut dan dijelaskan adanya tawaran lebih besar dari Barcelona dan Roma harus menaikkan tawaran mereka.

"Saya katakan kepada Martin bahwa kita telah sepakat, tetapi dia menyatakan belum ada surat-surat yang telah ditandatangani, walaupun kami telah bertukar dokumen dengan mereka," tutur Monchi dalam situs resmi AS Roma.

Ia lalu menghubungi presiden Roma, Jim Pallotta, menceritakan masalah tersebut dan Pallotta memutuskan untuk memberi penawaran yang lebih baik dari Barcelona. Pada pukul 23.00 waktu setempat, Roma mengirimkan tawaran resmi terbaru mereka, senilai 39 juta euro.

Setelah tawaran terbaru Roma itu masuk, Bordeaux kemudian menyerahkan kepada Malcom untuk menentukan pilihan.

Pada Selasa (24/7) siang, Malcom mengambil keputusan. Ia memilih Barcelona.

"Ini mimpi masa kecil yang menjadi nyata," kata Malcom saat tiba di Barcelona pada Selasa malam, setelah klub resmi mengumumkannya sebagai rekrutan terbaru mereka.

"Saya berharap memberi banyak kebahagiaan kepada para penggemar. Saya tak sabar untuk segera memulai. Saya di sini untuk membantu rekan-rekan saya dengan gaya saya," tambah pemain asal Brasil ke-40 yang akan mengenakan seragam Blaugrana.

Ia menandatangani kontrak untuk bersama Barcelona selama lima tahun dengan gaji dikabarkan mencapai 5 juta euro per musim.

Malcom akan mengenakan seragam bernomor 7 yang pernah dipakai Alda Turan. Sebenarnya Barcelona menyiapkan nomor tersebut untuk Antoine Griezmann, tetapi upaya untuk mendapatkan striker Atletico Madrid yang ikut membawa Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia itu gagal.

AS Roma tentu saja meradang. Monchi menyatakan mereka tengah menelaah untuk melihat apakah ada langkah hukum yang bisa mereka lakukan terhadap "pembajakan" yang dilakukan Barcelona tersebut.

"Kami tengah menimbang pilihan kami dan melihat apakah ada kasus hukum yang bisa kami ajukan," kata Monchi.

"Memang benar bahwa belum ada apapun yang ditandatangani, tetapi banyak pesan-pesan yang diutarakan agen dan presiden mereka (Bordeaux, red.) yang setidaknya layak kami telaah."

Ia menambahkan, Roma mengumumkan secara resmi kedatangan Malcom pada Senin karena presiden Bordeaux meminta mereka untuk melakukannya. Bordeaux bahkan lebih dulu mengumumkan kesepakatan transfer tersebut kepada publik.

"Kalau seseorang ingin datang ke Roma, itu bagus. Namun, jika mereka tak ingin datang maka kami tak menginginkan mereka," tegas Monchi.

Sementara itu, pelatih Roma Eusebio di Francesco menyatakan ia tak terlalu memikirkan kegagalan mereka merekrut Malcom.

"Semua tak berjalan seperti yang diharapkan Monchi, tetapi saya tak lagi peduli soal itu. Kami memiliki skuad yang kompetitif," kata Di Francesco, dikutip Tribal Football.

"Normal kalau kami selalu mengawasi pasar (pemain, red.). Kami memiliki pemain-pemain hebat dan kami tahu apa yang harus kami lakukan. Kami akan lakukan apapun yang kami anggap sesuai."

Siapakah Malcom?

Malcom (kanan) saat Bordeaux bermain melawan Videoton pada babak ketiga kualifikasi Liga Europa di Felcsut, Hungaria (3/8/2017).
Malcom (kanan) saat Bordeaux bermain melawan Videoton pada babak ketiga kualifikasi Liga Europa di Felcsut, Hungaria (3/8/2017). | Szilard Koszticsak /EPA

Nama Malcom mulai mencuat seiring kontribusi ciamiknya untuk Bordeaux setelah pindah dari klub Brasil Corinthians pada awal musim 2016/17.

Pemain kelahiran Sao Paulo, 26 Februari 1997, posisi utamanya adalah pemain sayap kanan, tetapi pada dasarnya ia bisa beroperasi di semua sisi lini depan.

Bakatnya, menurut Osmar Loss, pelatih tim remaja Corinthians, kepada Independent, sudah menonjol sejak masih berusia 16 tahun. Sehingga pada usia 17 ia telah dipercaya untuk memperkuat tim utama Corinthians.

Mantan bek kiri Corinthians, Uendel Pereira Goncalves, memujinya sebagai pemain yang cepat beradaptasi dan tampak seperti seorang anak baru saat masuk ke tim senior.

"Ia amat berkualitas untuk pemain seusianya, tetapi yang menonjol adalah kepribadiannya: ia berlatih seperti ia telah berada di tim senior bertahun-tahun," tutur Uendel.

Keputusannya untuk pindah ke Bordeaux sempat membuat rekan-rekannya kebingungan karena klub Prancis itu bukanlah sebuah klub yang besar.

Namun kemudian terbukti bahwa pindah ke Bordeaux adalah keputusan yang tepat bagi Malcom. Ia mendapat kesempatan bermain lebih banyak, kemampuannya terasah, dan tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi pemain bintang.

Selama tiga musim, ia bermain 94 kali untuk Bordeaux dan mencetak 23 gol.

Klub-klub besar, seperti Liverpool, Inter Milan, dan Arsenal, mulai meliriknya, hingga akhirnya ia memilih Barcelona.

Kini, untuk mengubur drama transfer ini, Malcom harus membuktikan diri apakah dirinya memang layak untuk mengenakan seragam Blaugrana dan mungkin kelak menggantikan Lionel Messi sebagai raja Camp Nou.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR