Dua catatan dari semifinal Piala Jenderal Sudirman

Pemain Semen Padang Nur Iskandar (kiri) berebut bola dengan pemain Pusamania Borneo FC Riki Pora pada leg kedua semifinal Piala Jenderal Sudirman di Stadion Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, Sabtu, 16 Januari 2016
Pemain Semen Padang Nur Iskandar (kiri) berebut bola dengan pemain Pusamania Borneo FC Riki Pora pada leg kedua semifinal Piala Jenderal Sudirman di Stadion Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, Sabtu, 16 Januari 2016 | Iggoy el Fitra /Antara Foto

Semifinal turnamen Piala Jenderal Sudirman (PJS) selesai digelar pada Sabtu-Minggu (16-17/1/2016). Hasilnya, Semen Padang dan Mitra Kukar akan bertemu di final pada 24 Januari mendatang. Mereka akan berebut trofi juara di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Di balik dua partai semifinal, muncul dua catatan yang bisa dicermati. Pertama adalah banjir kartu merah dan kedua adalah semua pertandingan diakhiri adu penalti.


Pusamania Borneo FC (PBFC) vs Semen Padang

Pada leg pertama antara PBFC dan Semen Padang di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (10/1), gelandang tamu Vendry Mofu mendapat dua kartu kuning sehingga menuai kartu merah.

Kartu kuning kedua untuk pemain asal Papua itu berbau kontroversial. Ditinjau via tayangan ulang televisi, seperti ditulis Bisnis.com, Vendry tak melanggar Ade Jantra. Tapi keputusan wasit tak berubah. Alhasil, Vendry (26) tak bisa diturunkan pada leg kedua di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, kemarin.

Tapi pemain kelahiran Wamena, Papua, ini tak asing pada kartu merah. Pada babak delapan besar, mantan pemain Persiwa Wamena ini juga menuai kartu merah.

Pada leg kedua, jumlah kartu merah yang dikeluarkan wasit justu bertambah. Bahkan Semen Padang dan PBFC telah kehilangan pemain pada menit kedua.

Wasit Iwan Sukoco memberi kartu merah kepada pemain Semen Padang Satrio Syam dan pemain PBFC Arpani lantaran terlibat perkelahian.

Menjelang pertandingan usai, Semen Padang kehilangan seorang pemain lagi. Kali ini Hendra Bayaw menuai kartu kuning kedua lantaran dinilai melakukan diving.

Meski harus bermain dengan sembilan pemain, Semen Padang tetap mampu keluar sebagai pemenang. Usai menyamakan skor agregat 2-2, pasukan Nil Maizar menang 4-3 lewat adu penalti.

Nil (46) begitu menikmati kemenangan ini. Bahkan pelatih yang pernah menangani tim nasional Indonesia itu enggan bicara panjang lebar soal kartu merah untuk dua pemainnya.

"Soal kartu merah layak atau tidak, wasit punya sudut pandang sendiri," kata Nil dikutip FourFourTwo.

Pemain Arema Cronus Esteban Viscara (kanan) berusaha melewati pemain Mitra Kukar Arthur Do Santos pada leg kedua semifinal Piala Jenderal Sudirman di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu, 17 Januari 2016
Pemain Arema Cronus Esteban Viscara (kanan) berusaha melewati pemain Mitra Kukar Arthur Do Santos pada leg kedua semifinal Piala Jenderal Sudirman di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu, 17 Januari 2016 | Ari Bowo Sucipto /Antara Foto

Mitra Kukar vs Arema Cronus

Pada partai ini, pertemuan pertama berlangsung tanpa kartu merah. Bermain di Stadion Aji Imbut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (9/1), tuan rumah yang berjuluk "Naga Mekes" menang 2-1.

Namun di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi dan bahkan terkesan kasar. Saat Arema memimpin 1-0 berkat gol penalti penyerang Cristian Gonzales, pertandingan sempat ricuh.

Wasit pun memberi kartu merah untuk Toni Mossi dari Arema dan Abdul Gamal dari Mitra Kukar akibat buntut perkelahian massal dua tim. Yang unik, wasit tak menghukum pemain Arema Alfarizie yang terekam kamera televisi menendang pemain Mitra Kukar. Bisa jadi wasit dan para asistennya tak melihat.

Kartu merah bagi Mitra Kukar belum berhenti. Pada menit 71, Bayu Pradana dipaksa wasit meninggalkan lapangan setelah mendapat kartu kuning kedua.

Namun seperti halnya Semen Padang, Mitra Kukar bisa menjaga peluang lolos ke final lewat babak penalti meski menutup laga normal dengan sembilan pemain. Pada babak "adu tendangan penalti" ini, kiper Mitra Kukar Shahar Ginanjar menjadi pahlawan karena menggagalkan dua penalti Arema sehingga menang 3-2.

Pelatih Arema, Joko Susilo, mengaku bertanggung jawab pada kekalahan "Singo Edan" pada dua leg semifinal. Namun mantan penyerang Arema ini menyoroti kartu merah untuk Mossi.

Pelatih yang disapa Gethuk ini menilai kartu merah untuk Mossi salah sasaran. "Tapi bisa jadi saya yang salah karena wasit punya sudut pandang sendiri," ujar Joko dilansir Bola.net.

Para penerima kartu merah dipastikan tak tampil pada partai final. Menurut peraturan panitia dari Mahaka Sports and Entertainment, pemutihan pada final hanya berlaku untuk kartu kuning.

Menurut CEO Mahaka Sports and Entertainment, Hasani Abdulgani, yang dikutip Goal Indonesia pada akhir Desember 2015, pemutihan kartu merah ditiadakan agar laga final berlangsung menarik dan tidak kasar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR