PIALA SUDIRMAN 2017

Dua sejarah baru Indonesia di Piala Sudirman

Anthony Sinisuka Ginting harus jatuh bangun saat mengalahkan Viktor Axelsen dalam pertandingan 3 game pada Rabu (24/5). Indonesia menang atas Denmark dengan skor akhir 3-2, tapi tak lolos dari fase grup.
Anthony Sinisuka Ginting harus jatuh bangun saat mengalahkan Viktor Axelsen dalam pertandingan 3 game pada Rabu (24/5). Indonesia menang atas Denmark dengan skor akhir 3-2, tapi tak lolos dari fase grup. | Rosa Panggabean /Antara Foto

Pupus sudah harapan Indonesia untuk melangkah lebih jauh di Piala Sudirman 2017. Meski Indonesia berhasil mengalahkan Denmark dengan skor 3-2, hasil ini tak mengubah posisi penghuni klasmen sub-grup 1D.

Indonesia tetap berada di posisi juru kunci, di bawah Denmark dan India.

Sebenarnya, total hasil pertandingan di sub-grup 1D ini sama, yakni tiap tim berhasil menang 1 pertandingan dan kalah sekali. Sayangnya, bila dihitung per-game, jumlah kekalahan Indonesia lebih besar dibanding jumlah kemenangan.

Indonesia berhasil menang 11 game dan kalah 14 game dari dua pertandingan. Sedangkan Denmark (14-12) dan India (12-11).

Fakta inipun membawa tim bulu tangkis Indonesia mencatatkan dua "sejarah baru" di Piala Sudirman. Yakni, sejak diadakan pada 1989, baru kali ini Indonesia gagal melangkah dari fase grup.

Selama ini langkah terburuk Indonesia berada di babak perempat final. Hal itu terjadi pada 2013. Sedangkan hingga babak semifinal, tim melakukannya pada tahun 1997, 1999, 2003, 2009, 2011, dan 2015.

Indonesia terhitung sering mencapai laga final Piala Sudirman, yakni pada 1989, 1991, 1993, 1995, 2001, 2005, dan 2007. Dari 7 kali menjejakkan kaki di final, baru sekali Indonesia juara, yakni di 1989.

Sejarah tadi, bukan hanya soal capaian saja. Demikian juga dengan kekalahan dari India pada Selasa (23/5) kemarin dengan skor akhir 4-1.

Dari 15 kali penyelenggaraan kejuaraan itu, Indonesia sejauh ini hanya kalah dari negara-negara papan atas bulu tangkis dunia, yakni Tiongkok, Denmark dan Korea Selatan.

Kekalahan dari Negeri Tirai Bambu terjadi pada 1995, 1997, 1999, 2001, 2003, 2005, 2007, 2009, 2013, dan 2015. Sedangkan dari Denmark, di tahun 1997, 1999, dan 2011. Untuk Korea Selatan, pada 1997, 2007, dan 2009.

Melawan India? Hingga sebelum pertandingan kemarin, Indonesia-India baru sekali bertemu di Piala Sudirman, yakni pada 2013.

Hasilnya, Indonesia menang telak 4-1 di babak grup. India sendiri baru rutin masuk grup utama Piala Sudirman di tiga penyelenggaraan terakhir.

Pada pertandingan melawan Denmark tadi malam, sebenarnya tim Indonesia tampil cukup baik dan melebihi ekspektasi banyak orang, termasuk dari PBSI sendiri.

Sebab, sejak awal, PBSI kerap kali mengatakan nomor-nomor yang dapat diandalkan Indonesia ada di sektor ganda. Justru, di pertandingan terakhir melawan Denmark, nomor tunggal putra dan putri, menyumbang poin.

Anthony Sinusuka Ginting berhasil mengalahkan Viktor Axelsen dengan skor 13-21, 21-17, 21-14. Sedangkan Fitriani berhasil menundukan Mia Blichfeldt, 24-22, 21-15, 21-14.

Ganda putra, yang selama ini menjadi unggulan, Markus Gideon/Kevin Sanjaya, kalah di tangan Mathias Boe/Carsten Morgensen. Kekalahan juga terjadi di ganda putri, di mana Greysia Polii/Apriyani Rahayu harus mengakui Kamila Ryyter Jull/Christinna Padersen.

Satu-satunya nomor duet yang menyumbang angka di pertandingan kemarin adalah ganda campuran, kala Praveen Jordan/Debby Susanto menundukan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Padersen.

Atas hasil buruk dan terciptanya "rekor baru" ini, Kabid Pembinaan Prestasi dan Pemain sekaligus merangkap manajer tim Indonesia di Piala Sudirman, Susi Susanti, meminta maaf.

"Saya pribadi minta maaf karena belum bisa memenuhi target membawa pulang Piala Sudirman ke Indonesia," kata Susi, seperti yang dikutip dari Badmintonindonesia.org. Menurut Susi, memang banyak kejutan terjadi di Piala Sudirman 2017.

Korea Selatan contohnya, bisa dikalahkan Taiwan, meski nama pertama tadi tetap lolos babak grup.

Hasil ini pun akan dijadikan evaluasi PBSI. Menurutnya, harus ada perubahan dari segi latihan. Hal lainnya, harus mempercepat regenerasi yang ada di tubuh perbulutangkisan Indonesia.

"Saya harap, kegagalan ini membuat kita lebih kuat ke depannya. Jangan ada yang saling menyalahkan" katanya.

Sebenarnya tim yang dibawa ke Gold Coast, Australia, ini memang terhitung muda-muda. Dari 20 pemain yang dibawa, 10 di antaranya baru pertama kali ini mengikuti Piala Sudirman.

Jadi, mari kita tunggu Piala Sudirman 2019 mendatang, yang diperkirakan bakal berlangsung di Tiongkok.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR