TIMNAS INDONESIA

Dua warna Simon McMenemy dalam dua laga persahabatan

Penyerang Alberto Goncalves menjadi pemain tertajam timnas senior Indonesia dalam setahun terakhir.
Penyerang Alberto Goncalves menjadi pemain tertajam timnas senior Indonesia dalam setahun terakhir. | M. Risyal Hidayat /Antara Foto

Pelatih timnas senior Indonesia, Simon McNememy, menjalani kalender FIFA pekan ini dengan dua laga persahabatan. Hasilnya dua warna; kekalahan dan kemenangan --seluruhnya sama-sama telak.

Pada Selasa (11/6/2019) di Amman, Indonesia menyerah 1-4 kepada tuan rumah Yordania. Sementara pada Sabtu (15/6), di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia menang besar 6-0 atas Vanuatu.

Sebelum ini (25/3), pelatih asal Skotlandia itu mencatat debut positif. Indonesia menang 2-0 atas tuan rumah Myanmar di Mandalay. Ini juga pertandingan persahabatan.

Warna dari racikan McMenemy bukan cuma soal hasil. Dari komposisi pemain hingga skema permainan pun cukup kontras.

Untuk masa FIFA international break kali ini, pelatih 41 tahun itu fokus pada lini tengah dan belakang jika melihat 25 komposisi pemain yang dipanggilnya. Masing-masing ada sembilan pemain.

Sedangkan di lini depan, pelatih yang mengantar Bhayangkara FC juara Liga 1 2017 itu meninggalkan dua penyerang naturalisasi; Greg Nwokolo dan Ilija Spasojevic yang memborong gol saat mengalahkan Myanmar. Sebaliknya, Mcmenemy memanggil tiga penyerang; Irfan Bachdim, Dedik Setiawan, dan Alberto "Beto" Goncalves.

Dan Beto membayar pemanggilan itu dengan positif. Pemain gaek 38 tahun berdarah Brasil ini masih punya ketajaman, bahkan kini menjadi pemain tertajam Indonesia dalam setahun terakhir.

Dalam dua laga, Beto mengemas lima gol --satu ke gawang Yordania melalui tendangan penalti dan empat ke gawang Vanuatu. Laman PSSI menyebut Beto sudah mengoleksi 12 gol dalam 12 laga sejak debutnya pada 2018, sementara menurut data Beritagar.id koleksi gol Beto adalah 8 dalam 8 pertandingan.

"Saya senang bisa mencetak empat gol dan mempersembahkannya untuk anak-anak saya. Saya memiliki empat anak dan empat gol ini saya persembahkan unuk masing-masing anak saya," ujar pemain asal Madura United ini seusai laga semalam.

Dari formasi permainan, McMenemy menggunakan dua skema dasar. Formasi 3-4-3 pada saat menghadapi Yordania dan Myanmar, serta 4-4-2 saat melawan Vanuatu.

Soal formasi 3-4-3, McMenemy menuai kritik --apalagi hasilnya kalah 1-4 dari Yordania. Namun, dengan formasi itu pun Indonesia bisa menang atas Myanmar walau hanya pada babak kedua.

Kuncinya pada hasil memang tak hanya berdasarkan formasi dasar permainan, melainkan soal level tim. Itu sebabnya McMenemy teguh menggunakannya.

Ia mengatakan biasa memakai 4-4-2 ketika menangani Bhayangkara karena kekurangan pemain sayap. Sebaliknya dengan skuat timnas senior Indonesia yang berlimpah winger.

"....saat TC di Australia, kita coba 4-4-2 lumayan berhasil, tetapi ketika babak kedua kita ubah jadi 3-4-3. Nah, disitulah kita bisa menguasai lebih banyak bola, terus permainan juga kita lebih kuasai, nah dari situ saya mulai berpikir mungkin ini adalah formasi yang cocok buat Indonesia," katanya, Jumat (14/6).

Persoalannya, mayoritas pemain yang dipanggil McMenemy kali ini bernaluri menyerang. Sisi defensif menjadi kewalahan saat lawan berhasil merebut bola dari Indonesia seperti ketika menghadapi Yordania.

Para gelandang yang kebanyakan pemain bernaluri menyerang kesulitan untuk melakukan transisi cepat ke bertahan ketika kehilangan bola. Akibatnya, penyerang lawan selalu berhadapan langsung dengan tiga pemain bertahan.

Meski begitu, McMenemy menyebutnya sebagai sebuah pelajaran dan menilai para pemainnya butuh waktu untuk berkembang.

"Setelah lawan Yordania, pemain jadi lebih baik lagi. Kalau nantinya kami bertemu negara dari timur tengah, saya yakin kami akan lebih baik lagi," kata bekas pelatih timnas Filipina itu.

Barisan pertahanan kemudian tidak cukup mendapat ujian ketika menghadapi Vanuatu yang level permainannya memang di bawah Indonesia. Selama 90 menit, Vanuatu hanya berhasil melepas 4 percobaan mencetak gol --3 di antaranya ke arah gawang.

Sebaliknya, dengan mayoritas pemain bernaluri menyerang --kecuali gelandang bertahan Zulfiandi serta dua bek tengah Yanto Basna dan Hansamu Yama, Indonesia bisa nyaman melakukan serangan.

Dengan permainan sayap, bola mengalir untuk Beto dan Irfan Bachdim atau Evan Dimas yang mengemas dua gol ke gawang Vanuatu --1 di antaranya dengan tembakan voli. Di sayap; Andik Vermansyah, Riko Simanjuntak, Febri Haryadi, dan sesekali full back Ricky Fajrin serta Yustinus Pae bisa leluasa mengirim bola silang.

Permainan menyerang itu membuat Indonesia bisa mencetak 6 gol dari total 13 tembakan yang dilepas, 8 di antaranya sesuai target. Bila pun ada noda adalah dua peluang emas lain Beto yang gagal menjadi gol --masing-masing menit 30 dan 68.

McMenemy menyebut lini pertahanan menjadi isu terbesar yang harus segera dibenahi dari dua laga persahabatan terbaru. Pekerjaan rumah lainnya adalah bagaimana mengalirkan bola dengan cepat.

"Saya sebagai pelatih, saya percaya bahwa permainan itu dimulai dari belakang, kenapa? Karena di Indonesia ada yang bisa melakukan itu. Kami punya Evan Dimas dan yang lainnya. Kami hanya tinggal meningkatkan kecepatan passing, lalu kecepatan pengambilan keputusan juga mesti diperbaiki lagi," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR