CHINA OPEN

Fajar/Rian dan Kevin/Marcus menang cepat

Aksi fajar/Rian saat mengalahkan wakil Thailand, Bodin /Maneepong, dengan skor 21-14, 21-11 di babak pertama China Open 2019, Selasa (17/9/2019).
Aksi fajar/Rian saat mengalahkan wakil Thailand, Bodin /Maneepong, dengan skor 21-14, 21-11 di babak pertama China Open 2019, Selasa (17/9/2019). | Badmintonindonesia.org /PBSI

Ganda putra Indonesia tampaknya masih belum menemui kendala berarti pada ajang Victor China Open 2019 di Changzhou, Tiongkok. Dari dua pasangan yang turun pada babak pertama, Selasa (17/9/2019), semuanya berujung dengan hasil positif, menang straight game.

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang mudah atas wakil Thailand, Bodin Isara/Maneepong Jongjit, dengan skor 21-14, 21-11. Sedangkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon menaklukkan ganda Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, 21-17, 21-15.

Kemenangan andalan Indonesia itu dilengkapi dengan catatan lain. Mereka tak perlu terlalu bersusah payah untuk melangkah ke babak kedua di turnamen berkategori BWF World Tour Super 1000 itu. Pasalnya, kemenangan tersebut didapat dengan cukup cepat.

Fajar/Rian hanya butuh 21 menit, alias yang paling singkat dari semua pertandingan di hari pertama, untuk menaklukkan ganda peringkat 40 dunia tersebut. Sedangkan Kevin/Marcus memerlukan 34 menit, atau tercepat kesembilan dari total 37 laga hari itu.

Hari itu, Fajar/Rian memang tampil cukup apik. Mereka jarang membuat kesalahan sendiri. Pun komunikasi di antara mereka berdua di tengah pertandingan terlihat cukup lancar.

Hasilnya, cara bermain cepat yang biasanya mereka peragakan, tak mampu diantisipasi oleh Bodin/Maneepong. Meski Fajar/Rian mengatakan bahwa pada pertandingan ini, mereka masih meraba-raba kondisi lapangan.

"Alhamdulillah bisa menang. (Namun) hari ini kami masih menyesuaikan diri. Lapangannya cukup berangin, jadi kami sesuaikan pukulan-pukulan kami dengan kondisi lapangan," kata Fajar, dalam Badminton.org.

Hal yang sama diutarakan Rian. Menurutnya, dia dan Fajar tengah beradaptasi dengan kondisi lapangan. "lebih menajamkan akurasi dan lebih di-enakin aja pukulan-pukulannya," kata Rian.

Di babak kedua nanti, peringkat tujuh dunia itu akan berhadapan dengan Lu Ching Yao/Yang Po Han asal Taiwan. Kedua wakil ini sudah tiga kali bertemu, dengan catatan Fajar/Rian menang dua kali.

Dengan cukup sering bersua, Fajar/Rian pun sudah cukup hafal dengan permainan Yao/Han. "Kebanyakan pemain Taiwan itu power-nya kuat, jadi kami harus siap antisipasi di bagian ini," kata Fajar.

Sedangkan Kevin/Marcus masih menunggu lawannya, yakni antara Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol atau Choi Sol Gyu/Seo Seung Jae.

Kecewanya Richard Mainaky

Bila ganda putra melaju mulus, tidak demikian dengan ganda campuran. Salah satu wakil harapan Merah-Putih untuk mendulang medali, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, terhenti di babak pertama.

Praveen/Melati kalah di tangan pasangan asal India, Satwiksairaj Rankireddy/Ashwini Ponnappa dalam permainan rubber game, 20-22, 21-17, 17-21.

Ini adalah pertemuan pertama kedua pasangan, sehingga mereka masih saling meraba kekuatan dan kekurangan masing-masing. Salah satu kelebihan, lawan yang dinilai Praveen/Melati cukup menyulitkan, ialah pukulan-pukulan tak terduga dari Rankireddy.

"Rankiredy punya pukulan yang halus, tadi berapa kali kami tidak bisa menebak arah pukulannya," ucap Melati.

Meski sudah berusaha, hasil ini sebenarnya tidak sesuai target mereka. Untuk itu, mereka pun akan fokus pada perbaikan permainan ke depannya. "Kami berdua sudah sama-sama tahu kekuarangan kami di mana, akan kami diskusikan bersama pelatih," kata Praveen.

Apa pun hasil itu, nampaknya sang pelatih, Richard Mainaky, sangat khawatir. Pasalnya, hasil ini menunjukkan ada yang salah dengan Praveen/Melati. Richard mengatakan, kekalahan ini bukan lagi karena masalah komunikasi di lapangan.

"Dengan hasil tidak memuaskan ini, cukup riskan. Dan ini (bisa menjadi) isyarat menuju ke krisis kepercayaan diri mereka. Jelas pekerjaan rumah saya semakin besar," kata Richard kepada detikcom.

Selain krisis kepercayaan diri, menurut Richard, hal lain yang dapat dilihat dari sini adalah ego masing-masing pemain terlihat terlalu besar. "Padahal kondisi ego itu biasanya terjadi saat mereka latihan saja," katanya.

Selain Praveen/Melati, ganda campuran yang turun di hari itu adalah, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Pasangan muda Indonesia itu berhasil menaklukkan wakil Negeri Jiran, Tan Kian Meng/Lai Pei Jing, dengan skor 21-18, 16-21, 21-12.

Kejutan Shesar

Siapa tunggal putra andalan Indonesia saat ini? Jika hal itu ditanyakan, kemungkinan besar nama-nama yang keluar adalah Jonatan "Jojo" Christie atau Anthony Sinisuka Ginting. Atau, ada nama lain seperti Tommy Sugiarto dan Ihsan Maulana Mustofa.

Namun, kini ada satu nama lain yang bisa diperhitungkan sebagai pemain andalan tunggal putra Indonesia. Namanya, Shesar Hiren Rhustavito. Di babak pertama China Open 2019 ini, Shesar berhasil mengalahkan rekan senegaranya, Jojo.

Lewat pertandingan sekitar satu jam, Shehsar mengalahkan juniornya di pelatnas itu dengan skor 23-21, 18-21, 21-10. Ini adalah kemenangan pertama dari total tiga pertemuan kedua pemain.

Satu tunggal putra Indonesia lainnya, Tommy Sugiarto, berhasil melaju ke babak kedua China Open 2019 setelah mengalahkan Wong Wing Ki Vincent (Hong Kong) dengan skor 21-10, 21-15.

Sedangkan tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung ditaklukkan Zhang Beiwen (Amerika Serikat), setelah bertarung tiga gim dengan skor akhir 21-14, 19-21, 16-21.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR