Fakta di balik dominasi Indonesia

Setelah 19 bulan tanpa juara di kejuaraan level atas, akhirnya Praveen/Debby berhasil memenangi Korea Open. Mereka berhasil mengatasi ganda campuran Tiongkok, Wang/Huang, pada Minggu (16/9).
Setelah 19 bulan tanpa juara di kejuaraan level atas, akhirnya Praveen/Debby berhasil memenangi Korea Open. Mereka berhasil mengatasi ganda campuran Tiongkok, Wang/Huang, pada Minggu (16/9). | Badmintonindonesia.org /PB PBSI

Dahaga itu akhirnya sirna pada Minggu (17/9). Harapan Praveen Jordan/Debby Susanto untuk berdiri di podium puncak, akhirnya benar-benar terwujud di Victor Korea Open 2017. Mereka menjadi juara di turnamen dengan total hadiah 600.000 USD tersebut.

Bertanding di lapangan 1 HK Handball Stadium, Seoul, Praveen/Debby mengalahkan ganda campuran Tiongkok Wang Yilyu/Huang Dongping lewat straight game, 21-17, 21-18.

"Sejak All England kemarin kami benar-benar penasaran untuk naik podium lagi, hanya selalu tertunda," ucap Debby seperti yang dikutip dari Badmintonindonesia.org. All England yang mereka raih terjadi pada Maret 2016.

Artinya, sudah 19 bulan Praveen/Debby absen juara di kejuaraan dengan level Superseries. Bila melihat sejarah keikutsertaan Praveen/Debby selama 1,5 tahun terakhir, mereka kerap mentok di babak perempat final.

Hasil di Korea Selatan tadi sekaligus membalas kekalahan ganda nomor 7 dunia itu dari Wang/Huang. Terakhir mereka bertemu adalah di Kejuaraan Asia pada April lalu, di mana Praveen/Debby kalah 22-24, 19-21.

"Kunci kemenangan kami yaitu fokus di lapangan dari awal sampai selesai. Kami juga memperbanyak komunikasi di lapangan, saling memotivasi," ucap Praveen.

Di Korea Open ini, prestasi para wakil Indonesia sangat membanggakan. Bukan hanya Praveen/Debby saja yang berhasil menjadi juara. Pun demikian dengan nomor tunggal putra.

Bahkan, di nomor tersebut, Indonesia sudah mengunci gelar juara sejak babak final belum dimulai. Sebab, di sana, terjadi all Indonesian final. Para lakonnya adalah Anthony Sinisuka Ginting berhadapan dengan Jonatan Christie.

Hasil inipun mengulang capaian sembilan tahun silam, di mana tunggal putra berhasil mewujudkan final sesama pemain Indonesia. Kala itu, para aktornya adalah Sonny Dwi Kuncoro dan Simon Santoso di Indonesia Open 2008.

Pertarungan antara Anthony dan Jonatan itu dimenangi oleh nama pertama tadi. Lewat pertarungan ketat--berjalan kurang lebih 1 jam 9 menit--, Anthony mengalahkan Jonatan dengan skor 21-13, 19-21, 22-20.

"Rasanya senang sekali menjadi juara. Hasil ini bukan kebetulan. Sebab selama ini saya sudah berulang kali mengalahkan pemain unggulan," ucap Anthony.

Chen Long, Victor Axelsen, maupun Jan O Jorgensen, pernah dikalahkan pemuda 21 tahun tersebut. Bahkan, di Korea Open ini, Anthony mengalahkan pemain nomor 1 dunia yang juga merupakan jagoan tuan rumah, Son Wan Ho.

Korea Open merupakan gelar pertama Anthony di turnamen dengan level elit. Sebelumnya, capaian paling tinggi Anthony di kelas superseries adalah semi final Hong Kong Open (2015) dan semi final Australian Open (2016).

"Tentu saja kemenangan yang sangat tak terlupakan bagi saya. Ini adalah titel superseries pertama di kejuaraan tertinggi," ucapnya, yang dikutip dari situs resmi BWF.

Anthony dan Jojo saat menerima medali pada Minggu (16/9).
Anthony dan Jojo saat menerima medali pada Minggu (16/9). | Badmintonindonesia.org /PB PNSI

Di lain pihak, meski kalah, Jonatan tetap merasa bersyukur atas capaian kali ini. "Ini capaian yang luar biasa sekali bagi saya," ucap Jojo,begitu ia biasa disapa. Sama seperti Anthony, Korea Open adalah kali pertama bagi Jojo menginjakan kaki di final kejuaraan superseries.

Menurut Jojo, kekalahannya kali ini karena Anthony bermain lebih lepas dan ia cukup lambat beradaptasi dengan lapangan. "Kemarin (semi final) Anthony sudah bermain di lapangan ini. Yang pasti hari ini Anthony bermain lebih lepas," katanya.

Sayangnya, keberhasilan Praveen/Debby dan Anthony itu tidak diikuti ganda putra terbaik Indonesia saat ini: Kevin Sanjaya/Marcus Gideon. Kevin/Marcus lagi-lagi kalah dari musuh bebuyutan mereka Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark).

Lewat pertarungan 1 jam 8 menit, Kevin/Marcus kalah straight game: 12-21, 21-19, 15-21. Hasil ini pun semakin menambah luka mereka. Dari 5 kali pertemuan, Kevin/Marcus hanya berhasil menang 1 kali.

Terakhir mereka menang di ajang Thaihot China Open, pada November 2016. "Hari ini kami banyak melakukan sendiri. (Sebenarnya) lawan jarang mematikan kami," kata Kevin.

Dua juara dengan empat finalis bukan raihan buruk bagi Indonesia di Korea Open. Dari segi peserta final, Indonesia bahkan menyumbang paling banyak. Di bawahnya ada Tiongkok yang menyertakan dua wakil. Sisanya, Korea Selatan, Jepang, India, dan Denmark.

Meski capaian tersebut terhitung baik, namun Sonny Dwi Kuncoro mengingatkan untuk tak cepat puas bagi semua pihak: pemain maupun PBSI. " Juara di Korea ini baru pertama. Semoga buat atlet menjadi lebih waspada," kata Sonny, seperti dikutip dari Detik.

Sedangkan kepada pengurus, Sonny berharap, tak cepat berpuas diri dan mampu menciptakan 5-10 pemain seperti Anthony dan Jojo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR