PIALA DUNIA 2018

FIFA bagi-bagi keuntungan Piala Dunia hingga Rp3 triliun

Timnas Prancis tengah merayakan keberhasilan mereka menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia pada Minggu (15/8/2018) waktu setempat.
Timnas Prancis tengah merayakan keberhasilan mereka menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia pada Minggu (15/8/2018) waktu setempat. | Facundo Arrizabalaga /EPA-EFE

Awal pekan ini, ratusan klub sepak bola di dunia ketiban rezeki dari perhelatan Piala Dunia 2018. FIFA, sebagai federasi penyelenggara, membagi keuntungan kepada 416 klub dari 63 negara yang turut "menyumbang" para pemainnya ke kejuaraan tersebut.

Jumlah keuntungan, yang dipublikasikan pada Selasa (4/12/2018), mencapai 209 juta dolar AS (sekitar Rp3 triliun). Angka tersebut dibagi secara proporsional kepada tiap klub peserta.

Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut. Per hari, FIFA akan memberikan sekitar 8.530 dolar AS (belum termasuk pajak dan biaya lainnya) kepada tiap pemain. Bila satu negara berhasil menginjak babak final, FIFA menghitung tiap pemainnya bertanding selama kira-kira 45 hari.

Mengapa 45 hari? Padahal turnamen berlangsung selama satu bulan -- 14 Juni hingga 15 Juli. Perhitungan kompensasi FIFA dimulai sekitar dua minggu sebelum Piala Dunia dimulai hingga hari terakhir.

Contohnya Kylian Mbappe, penyerang Prancis asal klub Paris Saint-Germain. Karena Prancis mencapai babak final, maka PSG akan mendapatkan kompensasi sebesar 383.850 dolar AS (sekitar Rp 5,5 miliar).

Jumlah yang sama bakal diterima klub-klub yang para pemainnya menjadi bagian dari skuat Les Bleus meski dia sama sekali tidak pernah main di Rusia. "Tidak relevan apakah dia bermain atau tidak pada tiap laga," tulis FIFA dalam keterangannya.

Tentu, jumlah tersebut tak berlaku bagi tim yang sudah gugur pada babak grup. Pembagian kompensasi kepada klub tergantung sejauh mana negara bersangkutan melaju dalam Piala Dunia 2018.

"Ini adalah tanggung jawab FIFA untuk mendistribusikan penghasilan dari kompetisi yang unik ini kepada komunitas sepak bola, yaitu klub. Jelas klub berhak atas pembagian kesuksesan ini karena mereka kuncinya," ucap Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Piala Dunia 2018 memang sukses besar, minimal dari sisi pendapatan. Angka 209 juta dolar AS di atas lebih besar sekitar tiga kali lipat dibanding pembagian keuntungan pada edisi 2014.

Saat Piala Dunia di Brasil itu, FIFA "hanya" mendistribusikan 70 juta dolar AS kepada 396 klub. "Saya sangat puas melihat banyak tim dari sejumlah wilayah bakal mendapatkan keuntungan dari program ini," kata Infantino.

"Program (pembagian keuntungan) ini bakal membantu pengembangan klub sepak bola di seluruh dunia."

Pembagian keuntungan ini, menurut FIFA, akan disalurkan lewat konfederasi masing-masing wilayah: AFC (Asia dan Australia), CAF (Afrika), Concacaf (Amerika, Amerika Tengah, Kanada), Conmebol (Amerika Selatan) dan UEFA (Eropa). Selanjutnya, konfederasi akan membagi ke negara anggota dan federasi negara akan mendistribusikan ke masing-masing klub.

Manchester City terbanyak

Sebagai konfederasi dengan penyumbang pemain paling banyak, UEFA tentu mendapat jatah benefit paling besar. Benua Biru menerima lebih dari 157 juta dolar (dokumen PDF), diikuti AFC (19,8 juta dolar), dan Conmebol (13,1 juta dolar).

Lalu, siapakah klub penerima paling besar dalam program FIFA ini? Jawabannya, Manchester City. The Citizen berhak menerima imbalan sekitar 5 juta dolar dari program ini.

Hal ini bisa dimaklumi. Pasalnya, mereka adalah klub dengan sumbangan pemain terbanyak ke Piala Dunia 2018 -- jumlahnya mencapai 16 orang. Melengkapi lima besar, ada Real Madrid (15 pemain), Barcelona (14 pemain); dan Chelsea, PSG, serta Tottenham Hotspur (12 pemain).

Lantas, apakah hal itu berbanding lurus dengan kompensasi yang diterima tiap klub? Tidak. Madrid justru menjadi penerima kompensasi terbesar kedua; 4,8 juta dolar AS.

Sedangkan Tottenham berada di tempat ketiga. Klub asal London, Inggris, itu menerima 4,3 juta dollar AS dengan mengalahkan Barcelona (4,1 juta dollar), PSG (3,89 dolar AS), dan Chelsea (3,83 juta dolar AS).

Rezeki FIFA ini mungkin menjadi sedikit kabar bahagia bagi City. Pasalnya, saat ini klub sekota Manchester United tersebut tengah menghadapi kasus pelanggaran Financial Fair Play UEFA yang terjadi pada 2014.

"Bahkan jika saya tahu banyak, saya tak dapat memberi tahu Anda (media). Namun, sesegera mungkin kami akan menjawab apa yang terjadi dalam kasus ini," ungkap Aleksander Ceferin, kepala penyidik UEFA, dalam Independent.co.uk.

Inggris dan Manchester City sebagai penyumbang pemain paling banyak di Piala Dunia 2018.
Inggris dan Manchester City sebagai penyumbang pemain paling banyak di Piala Dunia 2018. | Lokadata /Beritagar
BACA JUGA